
"Ya Tuhan......" desis ku sambil menggelengkan kepalaku
"Bagaimana kamu bisa disini Tom?" tanya Putri sambil masuk dan langsung duduk di sofa
Sedangkan aku yang kaget dengan adanya Tomi ikut duduk pula di sebelah Putri
"Awalnya aku berniat ke persidangan, tapi kemudian niat itu aku urungkan karena aku khawatir jika nanti Adi akan salah sangka jika melihatku ada di sana"
Huuuhhhh
Aku menghembus nafas panjang
"Untunglah jika kamu sadar Tom"
Tomi hanya tersenyum mendengar jawabanku
"Dari mana kamu tahu jika hari ini sidang perceraian Dinda?"
Putri menatap serius wajah Tomi lalu menoleh ke arahku
"Bukan akulah yang ngasih tahu dia, ya kali aku yang ngasih tahu..." jawabku tak suka dengan pandangan curiga Putri
"Terus Tomi tahu dari mana?"
"Aku juga nggak tahu, malah awalnya aku sempat mikir kamu yang ngasih tahu dia"
Putri langsung menatap tak suka padaku, sedangkan aku langsung nyengir
"Tapi aku langsung sadar, nggak mungkin kamu Put, selain karena kita sudah janji, juga aku mikir nggak mungkin seorang lawyer kaya kamu nyebarin kasus klien nya"
Putri mencibir mendengar jawabanku, lalu kami berdua sama-sama menatap serius wajah Tomi
"Nggak mungkin pak Kusno kan Tom?"
Tomi menggeleng cepat
"Petugas di pengadilan yang menerima gugatan dari kamu itu adik ibuku, dari tante ku itulah aku mengetahui jika kamu melayangkan gugatan kamu pada Adi"
Aku kembali menarik nafas panjang
"Dunia kok sempit banget sih Beb, di kantor pimpinan aku kakak sepupunya Tomi, dan sekarang di pengadilan ternyata ada tantenya, hadehhhh"
Putri tersenyum simpul sedangkan aku langsung cemberut
"Tomi sudah mirip hantu tahu nggak sih Beb, dimana-mana ada dia, kesal aku"
Tomi diam mendengar ucapanku, sedangkan Putri melotot kan matanya sambil menggeleng ke arahku
Aku mendecak kesal lalu menatap Tomi dengan wajah cemberut
"Aku lapar"
Wajah Tomi langsung berubah cerah dan langsung berdiri dari sofa
"Tunggu disini, aku tahu kebiasaan kamu"
Lalu Tomi berjalan keluar dan Putri memandang bengong padaku
"Serius beb, semanja itu kamu sama Tomi?"
"Hah???" aku kaget
Putri mengangguk
"Emang itu manja?, emang aku lapar kok" jawabku membuang muka
Tak lama kembali pintu ruangan Putri didorong dan muncul wajah Tomi dengan membawa kantong kresek besar
"Ini untuk kamu, eh maksud aku untuk kita semua"
Kulihat jelas jika Putri masih memandang tak yakin padaku
__ADS_1
"Dinda ini setiap dia stress nafsu makannya melonjak, makanya aku tadi sudah beli nasi bakar, sama desert kesukaannya" ucap Tomi sambil membuka kotak nasi untukku lalu memberikannya padaku
Masih kulihat wajah Putri tampak kebingungan menatap kearah kami berdua
"Maaf ya, jujur aku kaget banget dengan tingkah kalian berdua"
Aku yang telah mengunyah makananku langsung berhenti dan menatap kesal pada Putri
"Put, aku dan Dinda ini pacaran dari sma sampai kuliah sampai kami berdua tunangan, jadi aku hafal semua kebiasaan dia"
Aku cemberut menatap kearah Tomi
"Ya Tuhan, aku cuma berharap setelah Dinda janda kalian berdua berjodoh"
Aku refleks menendang kaki Putri yang dibalas Putri dengan terkekeh
Sedangkan Tomi mengaminkan ucapan Putri
"Ini juga dek...." Tomi memberikan bungkusan daging iga dan semangkuk bakso padaku
"Serius kamu habis?"
Aku mengangguk menatap kearah Putri yang menatap tak percaya padaku
"Aduh Din, nanti kamu gendut gimana?"
"Tenang aja, nggak-nggak" jawabku santai sambil menghirup kuah bakso yang merah merona dengan memejamkan mataku
Putri hanya menatap tak berkedip pada Tomi yang tersenyum menatap Dinda yang memejamkan matanya
Hingga akhirnya Putri melempar tissue kearah Tomi yang membuat pria tersebut tersadar dan tersenyum
"Dinda kalau makan makanan kesukaannya memang suka memejamkan matanya sebentar ketika menikmati makanan tersebut"
Aku langsung membuka mataku dan langsung menatap kearah Tomi
"Ya Tuhan, bahkan kebiasaan terkecil ku pun dia masih hafal"
...----------------...
"Bapak serius tidak ingin mampir kekantor saya?"
Adi menggeleng pada lawyernya
"Bapak urus saja semua keperluan untuk sidang nanti, dan beritahu saya jika ada yang ingin dibicarakan"
Lelaki paruh baya tersebut mengangguk dan melambaikan tangannya pada Adi yang masih duduk di kursi tunggu di pengadilan
Setengah jam berikutnya barulah travel yang dipesannya muncul dan Adi langsung masuk kedalam travel tersebut
Sepanjang perjalanan dibukanya galeri hp dan ditatapnya wajah Naya dan Arik
"Bahkan aku tidak sempat berbicara dan berpamitan pada kedua anakku" lirihnya sedih
Butuh lebih dari dua jam untuk Adi sampai di rumahnya dengan Yesa. Karena travel telah memasuki daerah kota sejuk, yang udaranya mulai dingin, Adi merapatkan jaketnya lalu mulai berusaha memejamkan matanya
Berkali-kali dia mencoba memejamkan mata tapi bayangan wajah Dinda dan kedua anaknya memenuhi kepalanya sehingga membuatnya kembali membuka mata dan menarik nafas dalam
Hingga akhirnya di satu jam perjalanan barulah Adi dapat memejamkan matanya dan terjaga ketika sopir mengguncang bahunya
"Mas?, mas, kita sudah sampai"
Refleks Adi membuka mata dan menatap nanar ke depan, dan membuka kaca jendela mobil, dan sadarlah dia ketika dilihatnya rumahnya ada di bawah jalan raya ini
Adi menganggukkan kepalanya lalu turun dari dalam mobil dan kembali merapatkan jaketnya karena cuaca semakin dingin
Adi segera mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Yesa tapi masih tak ada sahutan
Diambilnya hp lalu menghubungi istrinya tersebut
"Dimana ma?, papa sudah di rumah"
__ADS_1
"Oh, mama lagi main tempat teman pa, papa tunggu sebentar ya, mama sebentar lagi pulang"
"Karen sama kamu kan ma?"
"Ah iya, ada nih sama mama"
Adi lalu meletakkan hp di atas meja lalu dia duduk di teras. Kembali hembusan angin membuatnya menggigil dan menoleh kearah dalam rumah berharap jika ada jendela yang terbuka
Lima belas menit telah berlalu, tapi Yesa masih juga belum kembali, dan Adi kembali menghubungi hpnya tapi kali ini tidak diangkat
"Mungkin dia sudah di perjalanan" gumamnya
Kembali Adi membuka galeri hpnya dan kembali menatap wajah kedua anaknya
Tanpa sadar Adi segera membuka kontak dan mencari nomor Naya, begitu ketemu langsung di dialnya dan tersambung
"Ya Yah?"
Wajah Adi langsung tersenyum bahagia ketika mendengar suara Naya
"Ibu sudah pulang nak?"
"Belum, ini kan belum jam empat"
Adi menarik nafas panjang
"Apa Naya tidak tahu jika hari ini hari persidangan kami?" batinnya
"Kenapa yah?"
"Maaf ya nak karena kemarin ayah tidak sempat mengobrol dan berpamitan sama kamu dan adik"
"Nggak apa-apa yah, kami sudah maklum kok, bahwa ayah bukanlah ayah kami seutuhnya, sekarang kami harus berbagi dengan orang lain"
Serasa ada gada besar yang menghantam kepalanya ketika Adi mendengar jawaban polos Naya
"Maafkan ayah nak..."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan yah, kata ibu kami harus ikhlas, karena ini semua adalah takdir dari Alloh untuk kami"
Mata Adi tiba-tiba langsung terasa panas, lagi-lagi dia harus menerima kenyataan jika Naya sudah seperti orang dewasa menyikapi masalah yang menimpanya
"Tapi kenapa kemarin waktu ayah pulang, Naya sama adik cuek sama ayah?"
Terdengar tarikan nafas panjang dari Naya
"Kami kecewa sama ayah, oleh karena itulah kami tidak mau bicara sama ayah"
Adi memejamkan matanya yang membuat aliran air mengalir di wajahnya
"Sudah ya yah, ayah baik-baik di sana, kami bahagia sama ibu, tolong jangan ganggu kami lagi"
Panggilan terputus, dan Adi menatap sedih pada layar hpnya yang sudah gelap
Kembali dia menatap kosong ke depan dan matanya langsung membesar ketika dilihatnya Yesa turun dari dalam mobil pribadi
Dan dilihatnya bagaimana Yesa melambaikan tangannya dan tersenyum manis ketika mobil itu berlalu
Yesa segera mendekap Karen kedalam selimut tebal yang dibawanya dan langsung segera berjalan turun menuju rumahnya
Senyum langsung mengembang di wajah Yesa ketika dia sudah dekat dengan teras dan langsung membuka pintu rumah ketika dia sampai
Adi segera bangkit lalu mengusap kepala Karen
Sampai di dalam rumah, Yesa langsung menurunkan Karen yang membuat gadis kecil itu langsung berdiri dan mulai berjalan selangkah dua langkah
Yesa langsung berjalan menuju dapur dan telah keluar lagi dengan membawa dua buah piring
"Papa pasti belum makan, iya kan?" ucapnya sambil memberikan piring pada Adi yang segera menerima piring tersebut
"Itu yang mengantar kamu tadi siapa?"
__ADS_1
"Oh, itu teman aku pa, tadi dia ngajak aku jalan-jalan, maklumlah sudah lama juga kan aku nggak keluar jadi dia kangen pengen ngajak aku keluar"
Adi hanya mengangguk saja mendengar jawaban Yesa, sedangkan Yesa menarik nafas lega karena Adi tidak curiga