
Tomi mengiringi mobil Dinda dari belakang, dan aku yang tahu jika Tomi mengikuti ku dari belakang hanya menarik nafas panjang
Tomi memperlambat mobilnya ketika melihat Dinda menghidupkan lampu sen. Tomi tahu jika Dinda akan berbelok kearah rumahnya
Aku mengklakson dua kali ketika aku berbelok, dan dibalas Tomi dengan klakson juga
Aku tersenyum sekilas sambil menggelengkan kepalaku
Pagar rumah masih terbuka ketika aku makin dekat ke rumah kami. Kedua anakku telah pulas di belakang, tak sadar jika sudah sampai rumah
Adi segera berdiri ketika didengarnya suara mobil masuk. Wajahnya langsung berubah marah ketika mobil berhenti
Dengan santai aku mematikan mesin mobil dan membangunkan kedua anakku
Tampak sekali mereka keletihan, sehingga aku kesulitan membangunkannya
Naya yang sudah bangun segera turun dari mobil dan berdiri oleng karena belum terlalu sadar
Aku yang sedang membawa Arik dalam gendonganku langsung menangkap tangan Naya begitu melihatnya oleng
"Pegangin, anak mau jatuh bukannya dipegangi malah dibiarin" bentak ku
Aku segera memegang tangan Naya dan membawanya masuk ke kamarnya
"Ibu meletakkan adek ke kamarnya dulu ya nak" ucapku ketika Naya mulai naik ketempat tidur
Aku yang keberatan menggendong Arik segera masuk ke kamar Arik dan meletakkannya.
Menghidupkan pendingin udara dan menyelimutinya. Lalu aku pindah ke kamar Naya, membetulkan posisi tidurnya dan menyelimutinya
Setelah menghidupkan pendingin ruangan aku keluar
Adi yang melihat Dinda keluar dari kamar Naya langsung menarik kasar tangan Dinda
"Lepas!!!" bentak ku sambil menarik tanganku
"Kamu kelewatan ya, apa maksud kamu ninggalin aku sendirian tadi, hah?"
Aku terkekeh mencemooh kearahnya
"Yang ngajak kamu siapa, hah?, kamu sendiri yang ikut. Jadi bukan salah aku dong jika aku ninggalin kamu"
Adi mengepalkan tangannya menahan marah
"Sudahlah, aku ngantuk. Kalau mau ribut, besok pagi aja" jawabku sambil meninggalkannya yang masih tampak kesal
Adi segera mengejar langkah Dinda, dan kembali berusaha menarik tangannya
Aku terpaksa menghentikan langkahku dan menghadap kearah Adi
"Mau apa lagi, hah?" tanyaku sinis
"Mengapa kamu blokir atm aku?"
Kembali aku harus tertawa sinis
"Apa?, atm kamu?, yakin itu isi atm uang kamu?"
Wajah Adi kembali merah padam mendengar jawaban Dinda
Melihat Adi yang terdiam, aku kembali melanjutkan langkahku menaiki tangga
Dengan cepat aku menutup pintu kamar dan menguncinya
Suara Adi yang berteriak marah minta dibukakan pintu tak ku gubris. Aku segera memasang kembali earphone ke telingaku, dan langsung memutar lagu Linkin Park
"Teriak lah kamu sampai besok pagi" gumamku sambil tertawa
Aku segera merebahkan tubuhku dan langsung membuka aplikasi WhatsApp. Mencari kontak Tomi
__ADS_1
Segera aku mengetik pesan untuknya
Terima kasih pak Tomi karena telah mengiring di belakangku
Centang dua dan tak lama langsung berwarna biru
Aku lihat Tomi sedang mengetik pesan
Sama-sama. Jika tidak keberatan jangan panggil kakak dengan sebutan pak, kakak ngerasa sangat tua akhirnya
Aku tersenyum membaca balasannya
Oke deh, Tomcat aja yaðŸ¤
Tomi tersenyum membaca balasan Dinda
Hati Tomi serasa melayang karena Dinda memanggilnya dengan sebutan Tomcat, kenangan ketika remaja dulu tiba-tiba melintas di kepalanya
Jadi keinget jaman remaja jika adek panggil kakak tomcat
Aku langsung menutup mulutku ketika tersadar kekeliruanku. Aku hanya membaca dan tak berani membalasnya lagi
Aku segera mematikan lagu yang sejak tadi aku dengarkan, melepas earphone dan mematikan data selular, lalu meletakkan hp di bawah ranjang dan mencoba memejamkan mata
Tomi yang menunggu jika Dinda akan membalas pesannya, hanya bisa tersenyum kecut
"Selamat malam pengisi hatiku" desisnya sambil melihat foto mereka jaman remaja dulu yang tergantung di tembok
Adi yang kesal karena kembali dikunci Dinda dari dalam hanya bisa menahan kesal dan marah
Dengan gontai akhirnya dia turun dan masuk ke kamar Arik
...----------------...
Selesai shalat seperti biasa aku memulai rutinitas ku, memutar pakaian dan langsung masuk dapur
Aku tahu jika Adi sudah bangun, aku dengar dia batuk-batuk. Apalagi ketika kudengar langkah kakinya yang menyeret sandal
Aku dengan wajah masam segera mengambil gelas dan mengisi gelas dengan air hangat lalu meletakkannya di depan Adi tanpa bersuara sedikitpun
Adi segera meminumnya dan kembali dia terbatuk-batuk, aku bergeming, tak perduli dengan batuknya yang tak berhenti
Selesai memasak aku segera membangunkan kedua buah hatiku dan merapihkan kamar mereka
Kulihat Adi sama seperti beberapa hari ini, selalu memandikan Arik dan memakaikannya seragam
Aku lalu menyiapkan sarapan mereka dan memanaskan mesin motor, selesai itu langsung mengantarkan mereka sekolah
Ketika sampai di rumah, kulihat ada sebuah mobil mahal terparkir di halaman dan kulihat ada seorang lelaki paruh baya yang duduk di teras tampak sedang bercakap-cakap dengan Adi
Aku tersenyum kaku kearah lelaki tua itu dan berniat masuk ketika dia menghentikan langkahku
"Mbak Dinda tunggu!"
Aku langsung berhenti dan menoleh kearah mereka berdua. Kulihat wajah Adi menegang, dan perasaanku mulai tak enak
"Ada apa pak?" tanyaku sambil menarik kursi dan duduk
Beliau tampak mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas yang ada di depan dadanya, lalu memberikannya padaku
"Nota tagihan" ucapnya santai
Aku segera membuka beberapa lembar kertas tersebut, lalu menatap kearahnya
"Suami saya tidak pernah membayar ketika mengambil pakan ikan?" tanyaku dengan suara tercekat
"Tepat" jawab bapak itu
Aku langsung terhenyak, kertas nota yang ada di tanganku kupegang lemas
__ADS_1
"Astaghfirullah Hal Adzim..." gumamku sambil mengusap wajahku berkali-kali
Perasaanku campur aduk, marah, kecewa, kesal, malu tumpah jadi satu
Ku lirik Adi yang tertunduk sambil memainkan jari tangannya dengan gugup
"Mengapa baru sekarang bapak kasih tahu saya?" sesalku
"Karena selama ini mas Adi lancar bayar, tapi sudah hampir setahun ini dia selalu nyicil bahkan nunggak" jawabnya
Aku memejamkan mataku menahan air mata yang siap tumpah
"Nanti sore sepulang saya dari kantor, bapak datang lagi kesini, kita bicarakan lagi" ucapku sambil kembali menatap nota di tanganku dengan tak percaya
"Baik mbak, saya akan hubungi mbak"
"Ah, benar pak, save nomor saya" jawabku sambil menyebutkan nomorku ketika bapak itu mengeluarkan hpnya
"Saya pamit kalau begitu mbak, In Syaa Alloh sore nanti saya datang lagi"
Aku mengangguk dan ikut berdiri mengantarkan beliau sampai luar teras
Setelah mobil lelaki paruh baya keluar dari pagar, aku segera menarik kerah baju Adi
"Kamu kemana kan uang ratusan juta itu Adiii???!!" teriakku
"Jahat kamu, kurang ajar. Aku susah payah mengumpulkan uang seribu dua ribu tiap hari, kamu malah menghabiskannya hingga ratusan juta??!"
"Kamu kemana kan uang ituuuu???!!!"
Adi masih bergeming dan menunduk dalam
"Astaghfirullah, selama ini otak dan mataku kemana ya Alloh..." ratap ku sambil meneteskan air mata dan terduduk lemas
"Kemarin sales, ratusan juta juga. Dan sekarang tauke pakan, sama juga. Astaghfirullah...!!! teriakku
"Kamu menghambur-hamburkan uangku dengan perempuan simpananmu, kurang ajar kamu Adi!!"
Adi hanya bisa tertunduk tanpa berani mengangkat wajahnya.
Segera aku masuk kedalam rumah dengan emosi, dan mengunci pintu dari dalam
Adi masih tertunduk dalam ketika istrinya meninggalkannya.
Sesampainya di kamar, aku segera mengambil koper dan membuka lemari, mengambil semua baju Adi dan memasukkannya dengan kasar kedalam koper
Selesai itu aku berpindah mengambil kantong kresek sampah dan kembali memasukkan sisa baju Adi.
Melihat isi lemari tak ada satupun lagi pakaian Adi yang tersisa aku segera menarik koper kebawah dan meletakkannya depan pintu
Lalu naik lagi keatas, menyeret kantong kresek sampah yang berukuran besar tersebut dengan kesusahan dan meletakkannya dekat koper
Segera aku membuka kunci dan segera melempar koper keluar dan menyeret kantong besar tadi keluar
"Pergi kamu dari rumahku!!!, jangan pernah kamu injakkan kaki kamu lagi di rumah ini!!!!" teriakku
Dengan kasar aku menutup pintu yang menimbulkan suara menggelegar dan menguncinya kembali
Adi segera berlari kearah pintu dan menggedor-gedor pintu
"Buk, buk... ayah mohon buk... jangan usir ayah buk..."
"Buk, tolong buk, kita bisa bicarakan ini baik-baik"
"Buk, ayah akan jelaskan semua kemana uang itu buk"
Aku tak perduli lagi dengan Adi yang terus menggedor pintu. Aku segera naik ke kamar kami dan menangis kencang di sana
Air mataku sudah tak karuan bentuknya saking terlukanya perasaanku
__ADS_1
Dikhianati suami yang sudah menikahi perempuan lain, dan sekarang mendapati kenyataan jika uang yang ku kumpulkan habis dia hamburkan demi perempuan itu