
Aku menangis. Rasanya sakit sekali aku mengetahui dan mendengar apa yang diucapkan Tomi dengan ibunya. Berkelebat semua prasangka buruk dalam kepalaku ketika aku mencerna perkataan Naya tadi. Dan dari sana mulailah logika aku menjalar kemana-mana, membentuk sebuah narasi panjang yang menjadi karangan bebas
Logikaku mulai tak berjalan, melainkan hati dan perasaanku yang dominan. Sambil terisak aku terus merasa jika tadi yang diucapkan oleh Naya benar, jika tidak, tidak mungkin Tomi membiarkan kami pergi berempat sedangkan dia tahu saat itu Yusuf masih terus menangis. Dan juga Tomi sangat tahu jika aku sedang hamil, tapi sedikitpun dia tidak ada niatan untuk menyusul atau sekedar untuk menelepon, menanyakan bagaimana Yusuf. Apa aku sudah sampai rumah sakit atau belum.
Tapi kenyataannya Tomi tetap di rumah tanpa sedikitpun mengejar atau minimal menawarkan jasanya untuk membawa Yusuf ke rumah sakit, toh yang aku bawa ini anaknya. Bukan anak orang lain
“Sayang ini semua salah sangka. Aku bisa jelasin sama kamu dan Naya….”
Aku tetap tidak mempedulikan perkataan Tomi, aku yang telah terlanjur sakit hati dengan kelakuannya ditambah pula dengan tuduhan ibunya, makin membuatku kecewa.
Tangan Tomi yang terus aku tepis akhirnya membuatnya hanya bisa terdiam, sementara aku terus menangis tanpa henti.
“Pantesan kamu tidak nyusul kami, rupanya seperti itu anggapan kamu sama kami, bagus ya Tom. Akhirnya terbuka juga kedok palsu kamu” ucapku sambil mengusap kasar wajahku
Tomi menarik nafas panjang, kemudian dia menoleh ke arahku yang masih tampak terisak.
“Tolong jangan baper Din. Jangan menempatkan aku pada posisi sulit….” Lirihnya
Dengan cepat aku yang tadi duduk di sebelah Yusuf langsung merangkak dan turun dari atas ranjang
“Posisi sulit kamu bilang?. Sulit di bagian apa?. Aku sudah bilang ini semua salah faham, ibuk kamu saja nggak ngerti. Nggak mungkin aku menghubungi mas Adi duluan. Lagian kamu lebih tahu bagaimana perasaan aku sama mas Adi. Tapi ibuk kamu malah nuduh aku yang bukan-bukan”
“Iya maafin ibuk Din. Wajarlah ibuk curiga, mas Adi kan mantan suami kamu, terus kenapa juga sampai sekarang dia masih terus hubungin kamu”
Aku mendongakkan kepalaku dan menarik nafas panjang
“Seandainya waktu bisa aku putar kembali, tentulah aku tidak akan menerima panggilan masuk dari nomor baru tersebut” sesalku yang duduk agak jauh dari Tomi
Tomi diam, begitupun dengan aku. Kemudian tiba-tiba aku teringat lagi dengan ucapan Naya tadi, sehingga aku langsung menoleh dan memandang cepat kearah Tomi
“Kamu ngomong apa sama ibuk kamu?. Aku faham Naya, dia tidak mungkin marah dengan orang kalau dia tidak memiliki bukti kuat”
Tomi masih diam, tampak dia menarik nafas panjang sambil mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaanku. Semenit, lima menit Tomi masih juga tidak bersuara untuk menjelaskan padaku, sehingga membuatku kembali kesal padanya
__ADS_1
“Berarti yang diucapkan Naya benar. Kalau kamu memang tidak pernah menganggap aku. Munafik kamu Tom, kupikir kamu pria baik. Ternyata aku salah. Harusnya aku memang sadar kalau aku memang tidak ada artinya buat kamu. Jika aku memang prioritas untuk kamu, tidak mungkin dulu kamu menyelingkuhi ku dan meniduri perempuan lain sampai kalian menikah”
“Disini itu yang bodoh itu adalah aku. Kenapa juga aku bisa percaya sama orang yang pernah berkhianat sama aku. Dasar bodoh. Dinda, dinda…… padahal kamu sudah nyaman jadi janda. Kenapa juga kamu mau menikah dengan pria yang pernah mengkhianati kamu” ucapku sambil tertawa getir, menertawakan kebodohanku sendiri. Sementara Tomi yang mendengar aku berbicara seperti itu hanya memandangku dengan wajah sedih
“Aku beneran tulus Din mencintai kamu. Sangat mencintai kamu” ucap Tomi selanjutnya setelah sekian lama dia menatapku yang kembali terisak
“Kita hampir dua tahun menikah, dan ini adalah pertengkaran pertama bagi kita. Tapi aku rasa, ini sudah cukup membuktikan siapa kamu sebenarnya Tom”
“Ya Alloh Din aku minta maaf, aku nggak bermaksud membuat kamu terluka”
Aku kembali menepis tangan Tomi, memilih bangkit dari tepi ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Selesai dari kamar mandi aku segera mematikan lampu dan naik kembali ke atas ranjang. Aku segera berbaring di sebelah Yusuf dan memejamkan mataku, tidak mempedulikan bagaimana Tomi yang masih duduk di tepi ranjang dengan terus menatap ke arahku
Aku bangun dengan cepat karena semalaman aku telah memikirkan masak-masak apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Rutinitas yang biasa dilakukan oleh mbak Sri aku lakukan semua pagi ini. Sehingga ketika kedua anakku bangun, bekal mereka sudah aku siapkan, begitu juga dengan sarapan
Tak ada sapa antara aku dan ibu mertuaku. Aku diam ketika beliau menatap tajam ke arahku yang mengangkat keranjang pakaian yang telah aku keringkan. Begitu juga ketika aku menyapu lantai, aku lagi-lagi tak mempedulikan tatapannya.
“Sayang berangkatnya mulai hari ini sama ibuk ya……” ucapku pada kedua anakku ketika mereka sedang sarapan
“Kok kamu yang antar anak-anak? Kan biasanya kita bareng-bareng” jawab Tomi setelah dia menoleh ke arah ibunya
“Nggak apa. Anak aku biar aku yang urus, aku nggak mau merepotkan orang lain” jawabku santai tanpa menoleh sedikitpun kearah Tomi
“Tunggu ibuk ya nak, ibuk mandi dulu. Setelah itu kita berangkat” ucapku sambil berlalu dari meja makan dan berjalan kearah depan, menuju kamarku
“Dinda tunggu!!!”
Aku tidak mempedulikan Tomi yang berjalan mengejar ku. Aku terus saja masuk ke kamar dan langsung menyambar handuk
“Dinda tunggu!!!” sentak Tomi pada tanganku
Aku dengan berani mendongakkan wajahku padanya, menatap wajahnya dengan tatapan tajam
“Apa maksud kamu bilang begitu tadi?”
__ADS_1
Aku tersenyum sinis mendengar ucapan Tomi kemudian aku melambaikan tanganku di depan wajahnya
“Hello, mereka memang anak aku kan. Jadi wajar dong kalau aku bilang gitu”
Setelah mengatakan kalimat tersebut aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Tomi yang terduduk di tepi ranjang. Tak lama waktu yang aku habiskan di dalam kamar mandi, setelah selesai aku segera mengeringkan tubuhku dengan handuk kemudian segera berganti baju dinas
“Tolonglah Din jangan kekanakan kaya gini. Jangan membesar-besarkan masalah. Ini tuh cuma salah faham. Aku bisa jelasin ke ibuk tentang hubungan kamu sama mas Adi. Dan aku juga akan jelasin sama Naya apa maksud ucapan aku kemarin”
Aku yang tengah memoles wajahku dengan bedak menghentikan gerakan tanganku dan menoleh kearah Tomi
“Jadi benar apa yang diucapkan Naya kemarin? Heemmmm…..” jawabku sambil tersenyum sinis
“Nggak usahlah kamu jelasin apa-apa dengan ibuk kamu. Toh beliau juga sudah ilfil sama aku. Aku simple orangnya Tom, orang benci ya sudah, mau diapain? mau jelasin juga percuma. Toh beliau nggak akan percaya. Aku bawa Yusuf berobat saja disangkanya ngelayap. Jangan-jangan kamu juga sama kaya ibu kamu, nggak percaya sama aku” jawabku sambil menyambar tas dan tak lupa membawa obat yang semalam aku beli di apotek
“Oh iya, mulai hari ini nggak usah kirim-kirim makanan ke kantor lagi. Aku bisa beli sendiri” lanjut ku sambil mengambil kunci mobil yang semalam aku letakkan dalam laci
Setelah itu aku langsung mengangkat tubuh Yusuf, dan membawanya keluar dari dalam kamar. Di ruang depan telah ada mbak Sri yang tampak berbicara sama Naya. Dan keduanya menoleh dan sontak terdiam ketika melihat aku keluar dari dalam kamar
“Mbak, semuanya sudah beres. Yah walaupun adalah sedikit yang belum aku kerjakan. Mbak fokus aja mengasuh Yusuf, pekerjaan rumah biar nanti sepulang dari kantor aku bereskan” ucapku sambil memberikan Yusuf pada beliau
Mbak Sri menangguk dan langsung mencium wajah Yusuf
“Aku berangkat ya mbak, titip Yusuf”
Mbak Sri mengangguk, kemudian aku menoleh sebentar kearah ibu mertuaku
“Aku berangkat buk….” Ucapku. Kemudian aku langsung berjalan tanpa menunggu jawaban dari beliau.
Aku langsung berjalan kearah garasi dan langsung masuk kedalam mobilku yang telah aku panaskan terlebih dahulu mesinnya. Kedua anakku juga masuk kedalam mobil, kemudian kami langsung keluar dari dalam rumah besar kami dan langsung menuju jalan raya
Sepanjang jalan menuju sekolah kedua anakku tidak bertanya sedikitpun tentang keadaanku, mungkin mereka faham jika aku saat ini sedang marah. Ketika mereka turun, seperti kebiasaanku, aku mencium wajah mereka ketika mereka turun dari dalam mobil
Kemudian aku langsung menjalankan mobil dengan pelan. Menarik nafas panjang, dan tiba-tiba sesak menyergap dadaku. Aku menepikan mobilku, dan menelungkupkan wajahku di atas stir, kemudian aku terisak
__ADS_1