
Sampai di kamar aku segera merosot kan badanku di belakang pintu dan menangis tertahan
Rasanya ulu hatiku berdenyut sakit, sakit sekali. Dan aku hanya bisa menangis terisak
Tapi aku harus kuat, aku tidak mau hanyut dengan perasaan sesaatku. Aku tak mau terlena dan termakan lagi dengan kebohongan Adi
Bukti pernikahannya dan pengkhianatan nya sudah cukup bagiku untuk membuatku sadar, jika Adi bukanlah terbaik untukku
Seperti yang tadi pernah kukatakan dengan Adi, gelas yang pecah tak akan bisa disatukan lagi, begitupun dengan cinta kami
Aku harus sadar, mungkin Adi memang akan jauh lebih bahagia dengan istri mudanya ketimbang denganku. Aku tidak boleh egois
Memang ini sangat menyakitkan untukku, tapi aku harus terima itu. Seperti kata pepatah, aku bahagia jika kau bahagia. Mungkin itu juga yang harus aku lakukan saat ini
Aku harus melepaskan Adi sepenuhnya untuk istrinya. Aku yakin, aku kuat menghadapi ini
Apa sih yang tidak bisa aku hadapi?, semua masalah pernah aku lewati, bahkan masalah tersulit sekalipun, seperti pernah ditinggal Tomi menikah dengan selingkuhannya padahal saat itu kami telah bertunangan. Jadi kali ini pun aku pasti bisa melewatinya
Aku yakin seiring waktu yang berjalan, luka di hatiku akan sembuh dengan sendirinya
Aku punya kedua anakku, punya keluarga besar yang selalu mendukungku, punya enam sahabat sejatiku yang selalu ada untukku dan juga punya teman sekantor yang begitu peduli padaku. Jadi untuk apa aku larut dengan kesedihanku?
Perlahan aku mengusap kasar wajahku dan bangkit lalu berjalan menghadap cermin
"Kamu kuat Dinda, buktikan pada Adi bahwa kamu jauh lebih baik tanpa dia"
Wajahku berubah marah memandangi pantulan diriku di cermin ketika aku mengucapkan kalimat tersebut
"Kamu wanita kuat Dinda. Kamu kuat" geram ku
Dengan pasti aku menghapus sisa air mataku, lalu aku mengangguk pasti pada pantulan wajahku
Sementara di bawah Adi masih menangis terisak sambil merebahkan kepalanya ke sandaran kursi, pikirannya benar-benar kacau karena akhirnya rumah tangganya benar-benar berada di ujung tanduk
Karena sadar akan posisinya sekarang, Adi akhirnya merebahkan dirinya di sofa dan tertidur di sana hingga keesokan harinya
Dan aku yang telah terbiasa bangun pagi hanya menatap nelangsa pada Adi yang tidur melengkung seperti udang
Dengan pelan, ku sentuh kakinya
"Mas, pindah lah ke kamar, aku sudah bangun, jadi kamu bisa tidur di sana"
Tak ada jawaban, dan aku kembali menggoyangkan kakinya
Setelah berkali-kali aku menggoyangkan kakinya dan memintanya pindah, Adi membuka matanya dan kulihat dia seperti kaget dan terburu duduk
"Naiklah keatas, aku sudah bangun"
Adi mengangguk lalu turun dari sofa dan berjalan ke kamar
Aku hanya menarik nafas panjang lalu memulai aktivitasku seperti biasa
Setelah kedua anakku bangun dan selesai sarapan, seperti biasa aku akan mengantarkan mereka ke sekolah
Dan karyawan yang mengantar bibit sawit pun telah sampai dan mulai memanaskan mesin mobil ketika kunci mobil truck kuberikan
"Sarapannya sudah ada mas, tinggal ambil aja"
"Terima kasih bu"
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan masuk kedalam rumah, naik ke kamarku, mengambil baju dinas dan membawanya turun ke kamar Naya
__ADS_1
Pagi ini aku mandi di kamar mandi bawah dan berganti baju di kamar Naya, baru setelah selesai aku kembali naik ke kamarku, dan memakai make up seadanya
Jam 07.30 aku turun dari kamar dan hanya menoleh sekilas kearah Adi yang masih berada di dalam selimut
Saat aku mau masuk mobil mbak Sri muncul
"Mbak, nanti jika ayahnya Naya sudah bangun suruh sarapan, aku mau berangkat ke kantor"
Mbak Sri mengangguk lalu pada karyawan pembibitan aku melambaikan tangan sambil kembali meminta mereka untuk sarapan
Barulah setelah itu aku memundurkan mobilku lalu segera melajukan nya menuju kantor
Sampai kantor pak Kusno sudah berada di dalam ruangan
"Pagi Din..."
Salam beliau aku jawab dengan senyum hangat
"Yang lain belum datang pak?, tumben" ucapku sambil meletakkan tas
Begitu aku duduk karena menunggu jam apel, pak Kusno menatap serius wajahku
Aku kembali tersenyum pads beliau
"Ini serius Din, bapak yakin kamu tidak sedang baik-baik saja"
Aku menarik nafas panjang
"Ya Tuhan, pagi-pagi aku sudah dihadapkan pada kenyataan yang membuat badmood" batinku sambil mendecak dan menggelengkan kepalaku
Kulihat pak Kusno masih memandang dalam padaku dan seperti menanti jawabanku
"Hari rabu nanti sidang awal perceraianku pak"
"Apa tak bisa diperbaiki lagi?"
Aku menggeleng dan menarik nafas dalam
"Untuk sekarang saya rasa cukup pak, aku sudah angkat tangan, ini sudah aku pikir ribuan kali, tapi sepertinya tak ada solusi selain kami berpisah, mungkin ini yang terbaik"
Pak Kusno tersenyum berwibawa padaku, dan menganggukkan kepalanya
"Bapak doakan yang terbaik untuk hidupmu dan kedua anakmu Din"
"Aamiin" jawabku tepat disaat bu Halimah dan Redho masuk
"Doa apa sih kok aamiin aamiin?" komentar ibu Halimah memandang antara aku dan pak Kusno bergantian
"Mulai deh jiwa kepo nya meronta" godaku sambil terkekeh
Redho dan pak Kusno ikut terkekeh sedangkan aku dan bu Halimah langsung cipika cipiki
"Ayo kita kelapangan, yang lain sudah mulai baris"
Aku mengangguk lalu kami berempat keluar
Sampai di lapangan aku merasa sepertinya para ibu-ibu memperhatikanku yang sedang berjalan bersebelahan dengan bu Halimah
"Kok kayanya mereka memperhatikanku ya bu?" lirihku pada bu Halimah
"Biarkan, cuekin saja"
__ADS_1
Aku mengangguk. Begitu juga selesai apel, ketika kami kembali keruangan kerja kami masing-masing, kembali aku merasa jika ibu-ibu tadi memperhatikanku
"Kayanya ada yang nggak beres nih" batinku sambil menggandeng lengan bu Halimah dan melenggang santai masuk keruangan kami
Dan hari ini pun berjalan seperti biasanya, aku kembali disibukkan rutinitas ku hingga siang, bahkan ketika jam istirahat pun aku masih berkutat dengan laporan hingga aku tak menyadari jika di ruangan tinggal aku sendiri
Suara ketukan di pintu mengagetkanku hingga aku refleks menoleh kearah pintu
"Tomi...?" desis ku tak percaya
"Boleh masuk?"
Aku diam tak menjawab melainkan mengedarkan pandanganku ke seisi ruangan yang kosong tak ada orang lagi
Aku berdiri dan berjalan kearah Tomi
"Diluar saja, aku tak ingin di kantor ini terjadi fitnah"
Tomi mengangguk dan segera menggenggam tanganku, aku yang kaget dengan gerakan cepatnya hanya mengikutinya saja berjalan
Bahkan saat mendorong ruangan pak Burlian pun tangan Tomi masih menggenggam erat tanganku, dan aku masih bengong belum sadar sampai deheman suara pak Burlian menyadarkan ku dan refleks menarik tanganku
"Kalian berdua ngapain kesini?"
Aku menelan ludah dengan susah payah untuk memberi alasan apa pada pak Burlian
"Cuma di ruangan kakak kami berdua aman dari ghibah pegawai lain" jawab Tomi sambil kembali menggenggam tanganku dan membawaku duduk di sofa
Aku menarik nafas panjang, tentu saja aku sangat kagok dengan situasi seperti ini. Tomi selalu berhasil membuatku shock, entah apa lagi yang akan dilakukannya padaku kali ini
Pak Burlian memandang serius pada kami berdua
"Kamu mau apa Tom?" tanyaku
Tomi menarik nafas panjang
"Aku cuma mau beri dukungan untuk kamu Din"
Mataku membulat mendengar jawabannya
"Dukungan?, dukungan untuk apa?"
"Aku sudah tahu semuanya"
Aku mendecak kesal mendengar jawabannya yang terkesan berteka-teki
"Sidang hari rabu nanti"
Aku terhenyak dan melengos. Dan Pak Burlian bangkit dari kursinya lalu duduk di depan kami berdua
"Itu maksudnya apa?"
Aku mengusap kasar rambutku mendengar pertanyaan pak Burlian
"Please Tom ini masalah pribadi aku, aku mohon sama kamu jangan terlalu ikut campur" setelah berkata seperti itu aku segera bangkit dan saat hendak berjalan tanganku dengan cepat ditarik Tomi
"Aku selalu ada untuk kamu Din, kamu nggak sendirian"
Aku kembali menghembus nafas kasar lalu menoleh padanya
"Terima kasih untuk perhatian dan peduli kamu, tapi please stop ganggu aku"
__ADS_1
"Permisi pak" ucapku menoleh pada pak Burlian lalu melepas pelan tangan Tomi
Dadaku rasanya hendak meledak saking kesalnya aku sama Tomi, sekuat tenaga aku menahan air mataku yang telah memenuhi mataku agar tak jatuh