Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Mencoba Menenangkan Diri


__ADS_3

Aku mengklakson dua kali sebelum akhirnya aku segera mengegas mobil


Adi yang tersadar jika Dinda meninggalkannya segera berlari mengejar


"Buk, tunggu buk!" teriaknya


Aku terbahak melihatnya yang berlari melalui kaca spion


Kedua anakku juga tertawa, mereka tidak tahu jika aku bukan sedang bergurau, tetapi serius meninggalkan ayah mereka


Aku segera tancap gas, dan betul-betul meninggalkan Adi yang jauh tertinggal di belakang


"Tahu rasa kamu!" geram ku


Aku terus melajukan mobil dengan cepat dan masuk ke area khusus yang menyediakan aneka permainan untuk anak-anak


Kulihat pengunjungnya cukup ramai, dengan segera aku memarkirkan mobil dan mengajak kedua anakku turun


Handphoneku yang sejak tadi berdering hanya aku abaikan saja. Aku yakin itu adalah panggilan dari Adi


Benar saja, ketika aku membuka handphone ada lebih dari dua puluh panggilan darinya


Aku hanya tersenyum sinis ketika membaca pesannya yang marah-marah dan memaki-makiku


Sedikitpun aku tak membalas pesannya, aku kembali memasukkan handphone kedalam dompet, lalu menggandeng kedua anakku menuju ke pusat permainan


Kubiarkan kedua anakku memilih jenis permainan yang mereka inginkan, dari mulai permainan memancing, melukis, kereta hingga bianglala


Begitupun ketika mereka ingin membeli jajan, lagi-lagi mereka ku bebaskan memilih jajan sesuka mereka


Kembali handphoneku berdering dan aku membuka dompet melihat panggilan siapa


Ternyata kembali Adi yang menelepon ku


"Kenapa?" jawabku malas


"Kurang ajar kamu ya, apa maksud kamu meninggalkan aku, hah?"


Aku tertawa. Dan Adi kian emosi mendengar tawa Dinda


"Sekarang kamu dimana?" tanyanya masih dengan nada tinggi


"Terserah aku dong ada dimana, suka-suka aku lah"


Adi mengepalkan tangannya dengan marah karena lagi-lagi Dinda hanya menanggapi santai kemarahannya


"Awas kamu!!!!" bentak Adi


"Kenapa, hemm?, marah, iya?, cihh harusnya kamu tuh mikir kenapa aku nggak ngajak kamu"


"Dindaaaa..."


"Heh, nggak usah teriak. Gimana? kesal ya rasanya aku tinggal, he em??, itu tidak sebanding dengan kesalnya aku kamu tinggal menikah lagi Adi!!!" ucapku dengan suara penuh penekanan


Wajah Adi membeku mendengar jawaban telak Dinda


Saat dia mau berbicara lagi, panggilan telah diputus sepihak oleh Dinda. Adi hanya menatap bengong pada handphonenya yang telah gelap.


Dengan frustasi dia mengusap kasar wajahnya. Terduduk di pinggir jalan seperti orang hilang, bingung entah mau kemana, bengong dan hanya bisa menatap kendaraan yang lalu lalang


Dia terlonjak ketika handphonenya berdering, dengan cepat dia mengambil handphone yang dikantonginya, berharap jika Dinda yang meneleponnya


Tapi kembali dia harus menarik nafas panjang ketika yang menelepon adalah Yesa

__ADS_1


Dengan lesu dijawabnya panggilan dari Yesa


"Pa, Karen badannya panas" terdengar suara Yesa panik


"Kok bisa?" suara Adi juga berubah panik


"Lah kok malah nanya gimana bisa, ya bisalah, namanya juga balita" jawab Yesa dengan nada sewot


"Ya sudah, kamu bawalah dulu ke dokter atau kemana kek, aku lagi pusing ini"


Kening Yesa berkerut, dia yakin jika suaminya sedang tertimpa banyak masalah


"Kenapa, ribut sama Dinda?"


"Kamu pikir bagaimana?" Adi balik bertanya


Yesa terdiam


"Ini aku lagi duduk di pinggir jalan, ditinggalkan sendirian oleh Dinda"


"Lah kok bisa?"


Adi mendecak kesal


"Ya bisalah. Dinda marah besar sama aku. Semua perkataan dan alasan aku tak satupun di dengarnya"


"Ya sudahlah gampang itu, tinggalkan aja Dinda, ini adalah waktu yang tepat untuk papa meninggalkan dia"


Adi menarik nafas panjang


"Lagian apa yang papa pertahankan sama Dinda?, jika dia becus mengurus dan memperlakukan papa dengan baik, nggak mungkin papa berpaling dari dia"


Adi masih diam mendengarkan ucapan Yesa


"Udah pa, nggak usah banyak mikir, besok pulanglah ke rumah kita. Kita hidup bahagia bertiga"


"Pa?"


"Ehm, iya iya. Besok papa pikir lagi, ya?, sekarang papa mau hubungi Dinda lagi, mau menyuruh dia jemput papa"


"Lah kok susah-susah sih pa. Tinggal pulang aja ke rumah"


"Pakai apa?, kamu pikir aku di tepi jalan ini pakai mobil, iya?, aku ini ditinggal Dinda persis kaya orang gila, aku ditinggalkannya sendirian, aku ngejar dia tapi dia sama sekali nggak mau berhenti, terus aja ngegas mobil"


Yesa ternganga mendengar luapan kekesalan suaminya


"Ya ampun pa, tragis sekali kamu" ucapnya sedih


Adi kembali menarik nafas kesal


"Ya sudah, kamu urusin dulu Karen, aku mau nelepon Dinda lagi"


Dengan cepat Adi mematikan telepon, dan berganti menelepon Dinda.


Dan lagi-lagi, Dinda tak mengangkatnya


"Sial...!!!" rutuk Adi kesal


Segera dia menelpon mas Toro


"Mas, jemput aku di depan rumah makan tradisional sekarang!"


Setelah mendapat jawaban dari Mas Toro, Adi mematikan handphonenya. Dan kembali terduduk bengong

__ADS_1


...----------------...


Aku terus asyik ngemil siomay tanpa memperdulikan sekitarku, duduk di lantai yang terbuat dari keramik, dengan minuman dingin di sampingku.


Kaki berselonjor dan headphone di telinga yang memutar lagu india makin membuatku asyik menggerakkan kepalaku ke kiri ke kanan, sementara agak jauh di depanku kedua anakku masih terus asyik bermain


Sambil makan dan mendengarkan musik sesekali aku mengambil foto suasana malam yang ramai, dan bahkan mengabadikan momen kedua anakku yang masih terus asyik bermain


"Hai..." sapa sebuah suara. Tomi


Melihat Dinda tak bereaksi, Tomi baru menyadari ketika melihat kabel headphone di sela-sela rambut Dinda yang terurai


Aku langsung memundurkan kakiku ketika Tomi duduk diujung kakiku sambil menampilkan senyum manis padaku


Segera aku melepas headphone di telingaku, dan meletakkan mika siomay di lantai, lalu menyeruput es jagung


Tomi mengulurkan tissue yang entah didapatnya dari mana yang segera kuambil dan mengelap mulut dan jariku


"Kok kamu disini?" tanyaku heran


"Lah kakak biasa di sini dek, suka aja nongkrong di sini" jawabnya santai yang segera berpindah duduk di sebelahku


"Terkadang menghayal jika suatu hari nanti duduk di sini bersama seorang istri dan melihat anak kami berlarian bermain sambil tertawa lepas" lanjut Tomi menerawang


Aku menelan ludahku dengan perasaan serba tak enak mendengar ucapannya.


Tomi lalu menoleh pada Dinda sambil tersenyum kecut yang ku balas dengan senyum kaku


Sementara Adi yang bengong menunggu mas Toro yang tak kunjung datang hanya bisa menggerutu kesal


Ketika mas Toro tiba, dia langsung naik ke motor tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan mas Toro yang kebingungan melihatnya sendirian di pinggir jalan


Ketika motor yang dikendarai mas Toro sampai di rumah, Adi bergegas turun dan sekali lagi harus mengumpat kesal karena rumah terkunci dan kunci dibawa Dinda


"Aaaarrggghhhh...." geramnya sambil menendang kaki kursi yang membuatnya kesakitan sendiri


Mas Toro yang melihatnya hanya tersenyum dalam hati


"Kapok, emang enak" batin mas Toro


"Terus, gimana sekarang mas?"


Adi menoleh kesal pada mas Toro yang masih duduk di atas motor


"Ya sudah, kamu pulang sana. Biar aku nunggu istri aku di teras"


Mas Toro menaikkan alisnya saja, lalu memutar motor meninggalkan Adi yang terduduk kesal


Sepanjang jalan menuju rumahnya mas Toro tak hentinya tertawa sendiri, hingga sampai rumah dia masih saja tertawa yang membuat istrinya heran


"Kesambet setan apa pak?" tanya istrinya heran


Mas Toro lalu menceritakan kejadian malam ini pada istrinya yang disambut tawa pula oleh istrinya


"Syukur, kapok. Jadi lanang kok nggak tahu diri" jawab istri mas Toro ikut kesal


Berkali-kali Adi menelpon Dinda dan Dinda sama sekali tak menjawab panggilan suaminya


Tomi yang tahu jika sejak tadi Dinda hanya mengabaikan handphonenya yang berdering, faham jika yang menghubungi Dinda adalah Adi


"Sepertinya pengunjung mulai berkurang, belum mau pulang dek?" tanya Tomi sambil melihat sekeliling dan pada jam di handphonenya


Aku melalukan hal yang sama, melihat jam di handphoneku, lalu menarik nafas panjang

__ADS_1


"Sebenarnya aku malas pulang, rumahku rasanya tak nyaman lagi" gumamku


Tomi langsung menatap dalam mata Dinda yang berubah mendung, dia tahu ada luka yang dalam di mata itu. Dia bisa tahu betapa saat ini Dinda sangat rapuh


__ADS_2