
Wajah Tomi langsung terkesiap mendengar ucapan Pak Burlian. Sedangkan ibunya Tomi menunduk malu. Dan Ayah dan ibuku tersenyum kecut.
"Jadi bagaimana ini Tomi, apakah kamu bersedia dengan syarat yang diucapkan oleh Dinda?" tanya ayahku.
Kami tergagap mendengar pertanyaan ayahku. Kemudian dia langsung menjawab cepat
"Kalau hanya syarat itu, aku juga mau pak." jawabnya yang membuat seisi ruangan tertawa, termasuk aku yang semakin menunduk malu
"Jangan kan hari Minggu nanti, malam besok langsung nikah saja saya siap" sambung nya.
"Terus untuk masalah mahar dan yang lainnya?" tanya ibunya Tomi
"Apapun yang kalian berikan, itulah yang akan kami terima" jawab Ayahku.
"Dan kalau untuk masalah mahar, itu bisa nanti dibicarakan oleh Tomi dan Dinda secara pribadi. Mungkin keduanya malu jika berbicara di depan kita" sambung ayahku lagi.
Aku kembali tersenyum malu mendengar ucapan ayahku.
"Karena Semuanya sudah clear dan lamaran diterima, ada baiknya kita nikmati dulu teh yang sudah disediakan sejak tadi" ucap pak Burlian mencoba mencairkan suasana.
Ibuku langsung tersadar dan langsung mempersilahkan mereka semua untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia sejak tadi begitu juga dengan aku.
Kembali Ayahku dan juga Pak Burlian serta ibunya Tomi berembuk membicarakan masalah kapan menikah.
Dan telah disepakati, bahwa kami akan menikah lima hari yang akan datang. Itu artinya kami hanya mempunyai waktu empat hari untuk mempersiapkan semuanya.
"Kalian berdua tenang saja, semuanya akan saya dan teman-teman saya yang akan mengurusinya" ucap pak Burlian lagi.
"Dan juga kepada anda Bapak, Bapak nggak usah memikirkan bagaimana semuanya. Pokoknya semuanya akan berjalan lancar. Yang penting hari H bapak dan ibu itu memiliki kondisi fit untuk mendampingi Dinda dan juga sebagai wali nikah" sambung pak Burlian lagi.
Ayahku mengangguk mendengar ucapan Pak Burlian.
Hingga akhirnya sore itu diisi dengan berbagai macam planning acara yang dibuat oleh Pak Burlian yang disetujui oleh kedua orang tuaku dan juga ibunya Tomi. Sedangkan aku dan Tomi hanya mendengarkan, tapi sekali kami juga memberi masukan.
"Sebaiknya kalian berdua bicara masalah tentang mahar, sana kalian pergi dulu entah ke mana, terserah" ucap Pak Burlian lagi padaku dan Tomi.
Aku dan Tomi saling toleh, kemudian kami berdua sama-sama tersenyum. Lalu aku berdiri duluan baru diikuti oleh Tomi. Selanjutnya kami berdua berjalan ke arah luar
"Kita ke mana dek?" tanya Tomi
"Kita pulang ke rumah aku saja, kita bahas di rumah " .
Tomi mengangguk menyetujui usulku, kemudian dia masuk sebentar berpamitan dengan Pak Burlian dan juga ibunya serta Aldi. Dia mengatakan, Jika dia akan ke rumahku dan jika yang lainnya ingin pulang duluan, silakan pulang duluan. Nanti Tomi bisa pulang sendiri.
"Nanti kalau Kakak mau pulang chat aku saja, biar aku yang jemput" ucap Aldi yang dijawab Tomi dengan anggukan kepala.
Jadilah aku meminta izin kepada Ayahku untuk membawa motor Ayahku. Lalu kami berdua berboncengan menaiki motor ayahku menuju rumah.
Kedatanganku dan Tommi yang berboncengan disambut antusias oleh Naya dan Arik.
Terlebih Arik yang memang sudah dekat dengan Tomi. Begitu Tomi turun dari motor segera dia melompat yang langsung digendong oleh Tomi.
"Om Tomi sama Ibuk dari mana?" tanya Naya sambil kami berjalan masuk ke dalam rumah.
"Dari rumah kakek" jawabku.
Naya langsung menghentikan langkahnya, kemudian dia menoleh ke arah Tomi
__ADS_1
"Apa Om melamar ibuk sama kakek?" tanya Naya yang membuatku langsung terkesiap .
Tomi langsung mengangguk mendengar pertanyaan Naya, dan Naya langsung reflek memelukku.
"Beneran Buk, Om Tomi melamar ibuk, Jadi ibuk sama Om Tomi akan nikah?"
Aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan selanjutnya dari Naya.
"Iya, In Syaa Allah, makanya Doakan ya nak" ucapku sambil mengusap kepalanya.
Di luar prediksi kami, Naya dan Arik
langsung melompat kegirangan. Aku dan Tomi melihat kebahagiaan mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala kami sambil tersenyum.
"Ya sudah, karena Om sama ibuk mau ada yang dibicarakan, Naya sama Arik masuk dulu ya, kalian sudah mandi belum?" tanya Tomi.
Keduanya kompak menggeleng. Lalu Kami berempat masuk yang tak lama muncul Mbak Sri yang langsung berpamitan karena aku sudah pulang.
Aku langsung merebahkan kepalaku ke sandaran sofa, begitu kami duduk di ruang tamu.
Tomi yang duduk di sebelahku langsung mengusap kepalaku. Dan aku hanya menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
"Terima kasih ya sayang, karena kamu mau aku ajak menikah" lirih Tomi
Aku langsung menempelkan kepalaku ke bahu Tomi.
"Entahlah, aku harus bahagia atau apa. Karena sejujurnya aku juga bingung dengan perasaanku" lirihku .
Tomi langsung menarik mundur kepalanya kemudian menoleh ke arah ku
Aku bukannya menjawab pertanyaan Tomi melainkan segera memeluk pinggangnya.
Dan Tomi kembali mengusap pelan kepalaku.
"Yaa Aku bingung saja, dengan tidak ingin bertunangan dan langsung mengajak menikah" sambung ku lagi.
Tomi terkekeh yang membuatku mengangkat kepalaku dari dadanya, kemudian menatap serius ke arah wajahnya.
"Justru itu yang aku inginkan. Aku ingin kita langsung menikah. Karena jujur saja Dek, bener apa yang dikatakan Aldi. Aku sudah lama sekali menunggu kamu, dan aku tak ingin menunggu lagi. Jadi keputusan kamu dengan mengajak kita langsung menikah, adalah keputusan yang sangat tepat".
Aku langsung terkekeh sambil tertunduk malu mendengar jawaban dari Tomi.
Hingga akhirnya kami berdua sama-sama saling menatap satu sama lain. Sampai akhirnya tanpa sadar bibir kami saling menyatu dalam diam.
Tapi itu tak lama, karena kami sama-sama saling melepaskan begitu terdengar suara Naya dan Arik .
Aku dan Tomi kemudian saling toleh, dan sama-sama tersenyum.
Sampai akhirnya aku memilih naik ke kamar untuk segera mandi karena memang malam sudah menjelang.
Aku turun kembali ketika adzan sudah berkumandang dan untuk pertama kalinya kami berempat sholat berjamaah.
Setelah selesai makan malam, kedua anakku kembali ke kamar mereka. Sedangkan aku dan Tomi kembali berembuk membicarakan masalah mahar.
"Aku sebenarnya tidak meminta mahar yang mahal-mahal sama kamu. Terserah kamu mau ngasih mahar apa sama aku"
Tomi tampak tercenung seperti berpikir mendengar perkataanku.
__ADS_1
"Karena uang kamu sudah banyak habis dengan menebus tokoku kemarin" sambung ku lagi.
Tommy tampak tersenyum segaris ketika mendengar perkataanku
"Kan sudah kakak bilang sama kamu, toko itu kakak kembalikan sama kamu, karena memang itu adalah toko kamu. Bukan berarti kamu harus balas budi sama kakak, Apa ini alasan sebenarnya kamu mau menikah dengan kakak?".
Aku langsung menggeleng cepat mendengar pertanyaan Tomi dan meyakinkan dirinya bahwa bukan karena alasan itu aku ingin menikah dengannya. Karena memang aku mencintainya, itulah sebabnya aku mau menikah dengannya.
Tomi langsung menarik nafas lega begitu mendengar jawaban dariku dan langsung mendekap erat tubuhku
"Aku sudah berpikiran negatif tadi Din mendengar ucapanmu" lirih Tomi sambil mengusap pelan rambutku.
Aku tertawa pelan mendengar ucapan Tomi.
"Jika memang kamu tidak meminta mahar apa-apa sama aku, nanti di hari pernikahan kita, aku akan memberikan mahar kejutan untuk kamu" ucap Tomi yang membuatku penasaran.
Akhirnya kami berdua mengobrol ringan dengan saling ber genggaman tangan, bahkan terkadang saling memeluk, hingga sesekali Tomi mencium lembut pipiku.
"Lima hari lagi loh Kak Kita Nikah" ucapku
"Lah emang kenapa?"
"Lima hari itu waktunya singkat loh kak, kita belum buat Undangan, belum menyebarkan Undangan, belum foto prewed, belum yang lainnya, gimana tuh?" ucapku tersadar jika persiapan untuk menikah itu banyak.
Tommy tersenyum
"Tenang aja lah dek. Nggak usah dipikirin masalah undangan. Besok kita buat undangan sekalian kita foto prewed. Setelah itu lusanya kita minta undangannya jadi. Lalu langsung kita suruh orang untuk menyebarkannya. Dan untuk masalah menyebarkan undangan nya, zaman sekarang kan mudah. kita bisa menyebarnya lewat sosmed, ya kan?".
Aku hanya bisa mengangguk pelan mendengar jawaban Tomi.
Sampai akhirnya jam 10.00 malam Aldi menjemput Tomi sesuai dengan permintaan Tomi.
Tomi mengecup dalam keningku, sebelum akhirnya Tomi berpamitan pulang yang ku antar sampai depan pintu dengan melambaikan tanganku.
Setelah mobil yang dikemudikan oleh Aldi pergi dari halaman rumahku, aku segera masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke kamarku mengambil hp dan langsung membuat panggilan video call pada grup teman-temanku.
"Ya ampun Dinda, Kamu kayak nggak punya waktu saja sih?" gerutu Nanda ketika panggilan video tersambung.
Sementara Mila dan Lisa yang matanya masih on begitu panggilan video tersambung langsung antusias.
Rohaya dan Vita belum bergabung sehingga kami masih menunggu dan tak lama muncul juga Putri.
'Mungkin Rohaya sama Vita udah tidur, maklumlah inikan sudah malam" ucap Mila.
Aku mengangguk setuju mendengar alasan Mila .
"By the way, ngapain lu video call malam-malam kayak gini. Ganggu orang aja" Mila juga menggerutu .
Aku hanya bisa menahan tawa mendengar jawaban dari Mila.
"Iya nih tumben tumbenan Dinda ngajak video call, biasanya tiap Kita video call dia yang paling jarang masuk bergabung" sambung Lisa.
Aku kembali nyengir mendengar gerutuan para sahabatku.
"Begini Besti, Rencananya hari Minggu nanti aku mau nikah" ucap ku ragu-ragu.
"What??!" pekik mereka berbarengan.
__ADS_1