Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Sidang kedua


__ADS_3

Yesa yang tak tenang pikirannya akibat melihat Dinda begitu terpukul dengan kelakuan para sahabatnya tadi siang, dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya dia menemui Mila di rumah sakit malam ini. Dengan beralasan ingin berobat, jadilah dia sekarang ikut antri di barisan para pasien yang ingin berobat dengan Mila


Ketika gilirannya tiba, dan dia masuk. Wajah Mila langsung berubah marah dan memandang tajam kearahnya


“Kamu kenapa? Kena hiv?. Bukan dengan saya berobatnya. Lagian saya juga tidak mau memeriksa orang kotor seperti kamu”


Yesa hanya bisa tersenyum getir mendengar ucapan tajam dari mulut Mila yang memang tidak pernah menyukainya itu. Yesa sudah seperti musuh bebuyutan baginya


Yesa dengan tenang berjalan kearah kursi dan duduk di depan Mila


“Saya memang kotor dan memang tidak pantas saya datang kesini. Kedatangan saya kesini cuma ingin menyampaikan jika kejadian siang tadi itu bukan kesalahan Dinda. Semuanya salah saya karena saya yang menemui Dinda. Dan karena memang Dinda berhati baik, dia mengajak saya ke persidangan. Tapi saya heran, kalian sebagai sahabatnya, malah tega menyakitinya”


“Maksud kamu apa?”bentak Mila


Yesa menarik nafas panjang


“Dinda sangat terpukul dengan kejadian siang tadi. Dan saya belum pernah melihat dia sekacau tadi, saya tahu kalian semua sangat membenci saya karena saya pernah menyakiti Dinda. Tapi antara saya dan Dinda sudah berdamai, kami sudah berteman. Jadi tidak ada alasan lagi untuk kalian melarang Dinda berteman dengan saya. Tapi jika pertemanan kami akan berdampak buruk bagi Dinda, kalian jangan khawatir, saya akan pergi dan saya tidak akan pernah menemui Dinda lagi. Saya janji hari ini adalah hari terakhir saya menemuinya. Tapi saya minta kalian jangan mengkhianati Dinda lagi. Sakit yang bagaimana lagi yang belum Dinda rasakan. Dia dua kali disakiti oleh suaminya, dan sekarang ditambah pula dengan kalian menyakiti hatinya. Saya tahu kalian menyakiti Dinda tadi karena kalian semua membenci saya. Oleh karena itu saya minta maaf, saya berjanji saya tidak akan menemui Dinda lagi”


Wajah Mila masih datar menatap kearah Yesa, sedikitpun dia tidak bereaksi mendengar ucapan panjang lebar dari Yesa


“Saya memang hina, memang kotor. Tapi saya bukan tipe orang yang mengkhianati sahabatnya” selesai berkata begitu Yesa berdiri dari tempatnya duduk dan segera meninggalkan Mila yang terdiam mendengar ucapan terakhirnya


Sampai di luar ruangan Mila, Yesa menarik nafas panjang kemudian dia berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut dengan perasaan sedikit lega


Sementara Mila masih tertegun walau Yesa sudah lama pergi, hingga ada pasien baru masuk barulah dia tersadar. Itu pun perasaan mulai tak tenang, hingga jam prakteknya habis dengan cepat dia mengambil hp dan segera membuka what’s app. Betapa terkejutnya dia ketika melihat pemberitahuan group yang menyatakan jika Dinda left out dari group mereka


Izin left out ya bestie, maafkan jika selama jadi sahabat kalian aku banyak salah. Aku selalu berdoa semoga kalian sehat dan bahagia selalu. Maaf jika selama jadi sahabat kalian aku lebih banyak merepotkan dan menyusahkan. Semoga Alloh membalas semua kebaikan kalian sama aku


Berdenyut dada Mila ketika membaca pesan pamitan dari Dinda. Kemudian setelah itu dia langsung left out dari group. Dan dibawah pesan tersebut mulai banyak komentar para sahabatnya. Terutama pesan dari Nanda dan Lisa yang menanyakan mengapa Dinda sampai keluar dari group. Apa yang telah keempat sahabatnya yang lainnya lakukan sampai Dinda left out dari group tersebut

__ADS_1


Kalian yang hadir sidang tadi, jadi kalian pasti tahu apa yang terjadi. Nomor aku di blokir Dinda. Apa yang sebenarnya terjadi??? Isi pesan Lisa


Dengan cepat Mila mencari kontak Dinda, dan dilihatnya jika profil Dinda tidak menampilkan lagi foto wajahnya. Dan ketika dia berusaha menghubunginya ternyata nomornya juga di blokir


Mila terhenyak, dengan cepat dia menghubungi Putri, karena sampai detik ini Putri sekalipun tidak berkomentar di group


Dan aku yang benar-benar kecewa dengan seluruh sahabatku setelah memilih keluar dari group yang telah sekian tahun kami buat, memilih memblokir semua kontak para sahabatku. Seluruhnya. Aku tak perlu bertanya apa alasan mereka mengkhianati ku, karena aku sudah tak ingin mendengar alasan mereka lagi. Oke kalau mereka menanggapi kekecewaan ku, kalau mereka ternyata tetap bersikap dingin seperti tadi, bukankah itu makin membuatku sakit?


Agar aku tak semakin sakit, aku lebih memilih menutup semua akses komunikasi mereka padaku. Semua akun sosialku yang berhubungan dengan mereka tak luput dari blokir. Bahkan foto-foto yang pernah aku upload tentang kebersamaan kami selama ini aku hapus dan aku unfollow mereka semua. Selesai dengan itu, aku mengambil hp Naya dan nomor mereka di hp Naya juga aku blokir dan aku hapus secara diam-diam


Aku ingin menenangkan hatiku yang kecewa dan sakit. Aku semakin sadar jika semuanya tak selamanya abadi. Sahabat yang kita pikir akan selamanya bersama sama kita pada akhirnya juga akan pergi, tidak ada yang abadi di dunia ini, selain kematian


**


Surat panggilan untuk sidang lanjutan telah aku terima, dan karena aku sudah mengatakan jika semuanya aku serahkan sama pak Marsudi, jadi hari ini aku lebih memilih untuk datang ke kantor seperti biasanya dan entah aku memang pintar menyembunyikan masalahku, atau karena teman satu ruanganku pura-pura tak tahu, sampai sidang kedua ini mereka tak ada satupun yang membahas tentang masalah perceraian keduaku kali ini. Dan aku bersyukur untuk hal itu, karena jika mereka bertanya aku akan bingung dari mana memulai menceritakan semuanya. Karena aku sedang berusaha melupakan semuanya, bukan ingin mengulang ceritanya


Di sidang kedua kali ini pak Marsudi membeberkan semua fakta rumah tanggaku yang memang sudah tidak harmonis. Adanya pertengkaran yang berujung dengan aku koma sampai akhirnya aku memutuskan untuk berpisah. Tak lupa pak Marsudi juga menunjukkan video yang membuatku akhirnya mantap untuk bercerai


Sampai ibunya Tomi juga memberikan kesaksian yang mengatakan jika dia sudah beberapa kali meminta maaf padaku, bahkan sampai melibatkan atasanku untuk menjadi penengah dalam masalah ini. Tapi tetap saja pak Marsudi tidak memberikan mereka kesempatan untuk berada di atas angin. Dengan lugas pak Marsudi menanyakan apa yang membuat Tomi dan ibunya sampai menuduh ku berselingkuh dengan mantan suamiku


Ibunya Tomi menjawab kecurigaan karena aku sampai hari ini tidak mengganti nomor dan masih menerima panggilan dari mantan suamiku. Hingga akhirnya mas Adi dihadirkan disidang ini sebagai saksi dari pihakku, aku tidak tahu dari mana pak Marsudi tahu alamat Adi dan tentang Adi hingga akhirnya Adi memberikan kesaksian jika dia tidak ada hubungan lagi denganku, dan yang duluan menghubungiku adalah dia, karena dia hafal diluar kepala nomorku


Sidang masih tampak a lot. Tomi terus bersikeras ingin mempertahankan rumah tangganya dan tak ingin bercerai. Sementara pak Marsudi sesuai dengan permintaanku tetap mengatakan jika aku ingin bercerai


“Makanya Tom, jadi lelaki harus tegas. Akhirnya kamu menyesal sendiri kan?” sindir Adi ketika mereka keluar dari ruang sidang


Merah padam muka Tomi mendengar ucapan Adi. Tapi tangannya yang telah siap melayang ke wajah Adi dengan cepat ditahan oleh adiknya


“Yang dikatakan mantan suami mbak Dinda itu benar kak. Kakak nggak tegas sebagai suami. Kakak telah melukai hati mbak Dinda, wajar jika mbak Dinda menggugat kakak. Sekarang terima lah takdir kak. Kakak nggak boleh egois. Jangan memaksakan kehendak kakak sama orang yang sudah tidak mencintai kakak. Berdoalah semoga mbak Dinda menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak bisa kakak berikan sama dia!!!” ucap adiknya berusaha menyadarkan Tomi

__ADS_1


Pak Marsudi segera membawa Adi keluar dari pengadilan dan membiarkan Adi yang terduduk lemas di ruang tunggu, menyesali semua perbuatannya


“Tomi itu memang sangat mencintai Dinda pak Marsudi. Aku sendiri saksinya bagaimana dia sangat mencintai Dinda. Tapi aku tidak tahu sedalam apa luka yang Dinda rasakan sampai tidak ada ampun lagi untuk Tomi” lirih Adi ketika berada di dalam mobil bersama pak Marsudi


“Kepala boleh sama hitam pak Adi. Hati siapa tahu. Dalamnya laut bisa kita tebak, dalamnya hati siapa yang tahu. Begitu juga yang mbak Dinda rasakan, kita tidak ada yang tahu. Yang saya tahu beliau hanya ingin berpisah dengan suaminya secepatnya. Dan rencananya, sore ini saya akan menemui beliau dan memaparkan hasil sidang hari ini. Apa bapak mau ikut?”


Adi menggeleng cepat


“Tidak pak. Kehadiran ku akan makin memperkeruh suasana. Aku titip salam saja untuk kedua anak aku dan Dinda. Aku tahu Dinda wanita kuat. Masalah sekecil ini pasti bisa dilewatinya dengan mudah” ucap Adi dengan mantap


Pak Marsudi tersenyum segaris mendengar keyakinan lelaki yang ada di sebelahnya saat ini. Dalam hati dia menangkap jika ada nada penyesalan dalam ucapannya


**


Aku tersenyum getir ketika mendengar pak Marsudi menjelaskan semua tentang persidangan siang tadi. Terlebih ketika mendengar mas Adi juga memberikan keterangan


“Jadi bagaimana bu. Apa jadi ibu mengembalikan seluruh barang yang dulu pak Tomi berikan pada ibu?”


Aku mengangguk pasti, dan dengan cepat aku menelepon mbak Sri memintanya untuk mengeluarkan isi lemari yang berisi seserahan dan membawanya keluar dari dalam kamar atas. Setengah jam berikutnya setelah memberikan surat amanah yang sengaja aku ketik dan cetak pada pak Marsudi, aku segera mengajak pak Marsudi ke rumah kami


“Jadi setelah nanti aku resmi berpisah dengan Tomi, aku akan kembali ke rumah ini lagi pak. Karena rumah ini adalah rumah yang aku bangun dari hasil keringatku sendiri. Sebenarnya sih dengan mas Adi” jawabku sambil tersenyum getir


Pak Marsudi ikut tersenyum getir ketika aku menyebut nama mas Adi. Tapi beliau juga sudah tahu apa yang terjadi dengan hubunganku dengan mas Adi, oleh karena itulah kemarin dia sampai melacak keberadaan mas Adi hingga menemukannya dan membawanya sebagai saksi dalam persidangan kedua kami


Dengan dibantu oleh mbak Sri, aku memasukkan semua seserahan dar Tomi kedalam mobil pak Marsudi. Setelah tak ada satupun yang tersisa pak Marsudi segera berpamitan dan langsung menuju rumah Tomi. Dimana di sana seluruh keluarganya berkumpul termasuk pak Burlian dan istrinya. Sampai Putri juga ada di antara mereka. Tentu saja mereka membahas strategi selanjutnya dalam sidang minggu depan


Suara klakson di depan membuat yang ada di dalam rumah besar tersebut menoleh keluar, dan Tomi langsung menelan ludahnya ketika melihat pak Marsudi masuk


“Saya kesini diutus oleh ibu Dinda untuk menyampaikan surat ini” ucap pak Marsudi ketika beliau duduk

__ADS_1


Dengan cepat Tomi mengambil amplop putih yang diulurkan pak Marsudi, dan seketika matanya langsung basah ketika membaca surat tersebut. Aldi yang duduk di sebelahnya segera mengambil surat yang ada di tangan kakaknya dan membacanya. Dan wajahnya berubah tegang ketika dia membaca isi surat tersebut


Semua mata memandang tegang kearah Tomi dan Aldi. Hingga pak Burlian ikut mengambil surat yang ada di tangan Aldi dan setelah selesai membacanya beliau menarik nafas panjang dan memandang iba pada Tomi


__ADS_2