
"Hanya ingin mengenang masa lalu" sambung Tomi cepat demi dilihatnya aku tampak kaget
Aku hanya memasang senyum kaku
"Semua telah aku kubur lama Tom, dan aku tak ingin mengingatnya" jawabku lirih sambil membawa piring pergi meninggalkannya yang terpaku menatapku
Aku bergabung dengan temanku yang lain, dan sesekali mencuri pandang pada Tomi yang juga mencuri pandang ke arahku
Selesai acara makan-makan nya, kami masuk keruangan yang lain. Tapi aku paling akhir keluar di banding teman-temanku, aku ingin mengucapkan terima kasih dulu pada Tomi
Tomi yang duduk bertiga dengan pak Burlian tampak tak menyadari jika sejak tadi Dinda berusaha memberi kode padanya
Tomi yang peka, segera berdiri dan ikut membantu Dinda membereskan bekas makan
"Terima kasih untuk kejutannya" lirihku
Tomi yang sambil mengumpulkan sisa kotak nasi dan gelas plastik tersenyum manis mendengar ucapan terima kasih Dinda
"Pipimu kenapa tampak seperti lebam begitu, dek?"
Aku langsung memegang bekas tamparan Adi tadi pagi, dan memejamkan mataku sebentar ketika kurasa agak sakit
"Sakit?" tanya Tomi khawatir
Aku menggeleng
"Ini bekas terbentur pintu mobil ketika aku akan keluar tadi" bohongku
Tomi tersenyum kecut, dia menelan ludah mendengar Dinda menutupi semua darinya
Selesai membereskan bekas makan, lalu aku berpamitan dengan mereka berempat, berjalan menyusul teman seruangan ku yang telah lebih dulu pergi
Ternyata ketika aku masuk kedalam ruangan pelayanan umum telah ada sebuah kado besar di atas mejaku
Aku menoleh pada keenam teman seruangan ku dengan pandangan haru
"Ahhh.... kok repot-repot sih?" ucapku manja sambil kembali dipeluk bu Halimah dan Nadia
"Maafin kami ya mbak, karena tadi iseng minta duit sama mbak" ucap Redho sambil memberikan uang padaku
Aku terkekeh
"Lah terus jadi kamu nggak jadi ke kabupaten?"
Redho menggeleng
"Terus kemana?"
"Pulang ke rumah, nyuci dulu" jawabnya yang mengundang gelak tawa kami
Memang Redho adalah pegawai yang baru bertugas di kantor kami, dia masih singel dan datang dari luar daerah, jadi disini dia ngekost
"Makasih ya bapak ibu untuk kadonya, ahh aku jadi nggak enak deh..."
"Kalau nggak enak, sini kadonya untuk bapak aja Din" seloroh pak Kusno
Kembali kami tergelak
...----------------...
Jam empat aku pulang ke rumah, dan pagar tampak tertutup. Jadi dengan terpaksa aku turun dan membuka pagar
"Tak biasanya sepi" batinku
Biasanya ada rombongan karyawan pembibitan sawit, tapi sejak mas Toro dan kawan-kawannya aku berhentikan, aku menyuruh kakakku mencarikan karyawan baru
Dan karyawan baru sepertinya belum pulang karena aku lihat tak satupun truck sawit yang telah pulang
Setelah pagar terbuka, aku segera masuk kembali kedalam mobil dan memasukkan mobil
"Naya..." panggilku pada anak gadisku
Karena tampaknya dia juga tak ada di rumah. Apakah dia ke rumah mbak Sri seperti biasanya?"
__ADS_1
Ah sudahlah, toh nanti juga mereka pulang, batinku sambil melepas sepatu dan berniat membuka kunci pintu
Tapi saat aku akan membuka kunci pintu, ternyata pintu tak dikunci
"Oalah mbak Sri kok teledor sih?" rutuk ku
Aku menarik nafas panjang ketika aku teringat bisa jadi di rumah ada Adi, kan dia tidak mau pergi dari rumah ini
Aku masuk kedalam rumah, dan suasananya benar-benar sepi.
"Naya... Arik..." aku kembali memanggil
Tapi tak ada sahutan dari kedua anakku, dengan pelan aku berjalan kebelakang, berniat meletakkan sepatu ketika tiba-tiba
"SURPRISEEEEEE...."
Sepatu yang kupegang langsung terjatuh dan aku terpekik kaget
Refleks aku memukul Rohaya yang berdiri paling dekat dengan ku saat ini
Lisa dengan terburu meletakkan kue yang tadi dipegangnya, begitupun dengan Putri, tumpeng yang juga tadi pegangnya langsung diletakkannya
Dengan segera mereka berenam memelukku baik dari depan, dari belakang dan dari samping
"Woy woy mati aku...!" teriakku sesak karena mereka erat memelukku
Suara nyanyian selamat ulang tahun dari Naya dan Arik yang muncul dari belakang dengan membawa kue membuat mereka melepaskan pelukannya
Aku segera meniup lilin yang disodorkan Naya ke arahku, lalu bergantian dengan meniup lilin dari kue yang disodorkan Lisa
Ternyata bukan hanya mereka, tampak juga seluruh karyawan toko dan karyawan kolam, bahkan karyawan sawit juga
"Ya Alloh, kalian sembunyi dimana?" tanyaku sambil menyusut air mata karena terharu
Siska dan Reni ternyata juga membawa nampan tumpeng, dan meletakkannya di atas meja, lalu mereka berdua memelukku bergantian
Karyawan perempuan memeluk dan mencium pipiku, sedangkan karyawan yang laki-laki menyalamiku
"Ya Alloh.... kalian baik banget sih..." lagi-lagi aku terharu
Dan sigap pula Reni beserta temannya yang lain meletakkan tiga buah tumpeng dan empat kue tart di tengah-tengah
Masih dengan cekatan, mereka ke dapur mengambil piring, gelas dan sendok
Ternyata semuanya telah mereka siapkan, dan itu makin membuatku terharu atas perhatian mereka
Kami yang telah duduk di lantai telah bersiap hendak makan ketika dari arah tangga kulihat Adi turun
Aku langsung melengos begitu melihatnya
Tanpa rasa malu Adi mendekat kearah kami dan mengulurkan tangannya padaku
Karyawan dari kolam saling toleh dan tampak bersiaga jika tahu-tahu Adi akan menyakiti Dinda
Mata Rohaya cs memandang tajam kearah Adi, begitupun dengan Naya wajahnya langsung berubah masam
"Selamat ulang tahun buk" lirih Adi
Dengan memasang senyum kaku aku menyambut tangannya, dan hanya diam saja ketika Adi mencium keningku
Kelima sahabat Dinda melengos dan mencibir ketika Adi mencium kening Dinda, begitupun dengan karyawan kolam mereka ada yang bereaksi seakan mau muntah
"Sudah-sudah, ayo makan-makan, makan. Iklan yang mengandung unsur komersil selesai ya" sindir Mila yang mendahului mengambil piring dan dengan cueknya mengambil isi tumpeng
Seluruh karyawan langsung mengeksekusi makanan begitu ada kode aba-aba dari Mila, aku yang menyaksikan hanya tersenyum bahagia
...----------------...
Selesai makan, seluruh karyawan yang perempuan langsung membereskan bekas kami makan dan mencuci yang kotor
Dan karyawan laki-laki yang masih muda, mengumpulkan sampah, membereskan meja kursi dan menyapu
Sedangkan aku langsung mengajak keenam sahabatku duduk di gazebo.
__ADS_1
Dan Adi duduk-duduk dengan karyawan yang lain, tapi mereka hanya mencueki Adi tak ada satupun yang mengajaknya mengobrol
"Wajah kamu kenapa?" spontan Mila langsung menarik wajahku ketika dilihatnya aku membetulkan rambut kebelakang telingaku
Aku sedikit meringis ketika tangannya menyentuh pipiku
"Jujur, atau Adi mau kita hajar?" lanjutnya
Aku terkekeh dengan sifat bar-barnya ini
"Din?" tanya Nanda penuh dengan penekanan
"Ditampar Adi tadi pagi"
Keenam sahabatku langsung membelalakkan matanya
Bahkan Mila kembali menarik wajahku dan melihat dengan seksama
"Nggak papa kok, sudah lah" ucapku melepaskan tangannya
"Nggak apa-apa, apanya?, ini tuh sudah masuk dalam urusan kdrt, Din" sambung Putri
Aku mendecak
"Sudahlah ah, toh Adi juga aku cuekin"
"Nggak bisa!" jawab Mila langsung turun dari gazebo dan berjalan kearah rumah
Putri tak mau kalah, dia segera menyusul Mila yang berjalan cepat dengan nafas memburu
"Ya Alloh...." ucapku frustasi sambil segera menyusul mereka berdua
"Kalian disini saja!" ucapku cepat ketika kulihat keempat sahabatku yang lain siap turun juga
"Banci lu, ya..." ucap Mila emosi ketika sudah berdiri di dekat Adi
Adi langsung mendongakkan kepalanya kearah Mila yang sudah berdiri di depannya
Adi langsung berdiri dan menatap pada Dinda dan dua sahabatnya, sementara karyawan lain yang duduk santai menyaksikan dengan seksama
"Apa perlu gue telpon laki gue untuk menangkap lu saat ini juga?"
Adi dengan wajah datar menoleh ke arahku
"Lu bisa dipenjara karena kasus ini, dan bisa dipastikan lu akan dipenjara selama lima tahun" tambah Putri
Naya yang sejak selesai acara masuk ke kamarnya, begitu mendengar suara Mila yang berteriak langsung keluar
"Ada apa?" tanyanya
Kedua sahabatku langsung terdiam dan saling pandang
"Nggak ada apa-apa nak, Ren tolong bawa Naya masuk lagi, ya?"
Reni mengangguk dan langsung membawa Naya masuk
"Awas kalau ayah berani nyakitin ibu aku" geramnya
Semua mata langsung menatap kearah Naya
Ketika Naya telah masuk aku mengatakan pada mereka semua, jika Naya sudah tahu jika ayahnya sekarang telah menikah lagi
Siska dan karyawan perempuan lainnya menutup mulutnya saking kagetnya mengetahui jika bos mereka ternyata telah menikah lagi
"Pa, lagi nggak sibukkan?, sini susul mama di rumah Dinda, bawa temen papa juga, angkut ini suami Dinda yang nggak tahu diri!!!"
Mata Adi yang semula tampak meremehkan langsung terbelalak dan dengan cepat menarik tangan Mila
"Jangan ikut campur masalah keluarga kami!!"
"Gue berhak ikut campur karena elu sudah melakukan kdrt sama sahabat gue"
Mata Adi makin berkilat marah menatap Mila
__ADS_1
"Berani lu sama gue?, ingat! gue dokter, dan bisa gue pastiin gue akan menyuntik mati lu begitu lu dipenjara"