
Adi yang sejak kemarin berusaha mengubungi Dinda hingga detik ini masih terus berusaha menelpon istrinya
Karena masih juga tidak bisa menghubungi istrinya, Adi beralih menelpon Mas Toro
"Kalian dimana?"
"Rumah mas"
"Kok sudah pulang, kan aku nyuruhnya bareng-bareng sama aku!" bentak Adi
"Maaf mas, kami tidak bisa berlama-lama luntang lantung di jalan tanpa tujuan pasti, makanya kami pulang"
"Kenapa tidak nelpon dulu jika kalian mau pulang!!" kembali Adi membentak
"Apa lagi yang harus kami lakukan mas?, semuanya sudah terbongkar, dan sekarang kami sudah dipecat sama mbak Dinda"
Mata Adi langsung melotot mendengar jawaban Mas Toro
"Serius kalian dipecat istriku?, kapan?"
"Tadi pagi begitu kami mengantar mobil"
Adi mengusap wajahnya dengan frustasi
"Dan kalian bilang semua tentang aku?"
"Entah mbak Dinda tahu dari mana, begitu kami sampai beliau langsung ngamuk sama kami dan memaksa kami untuk jujur"
"Terus kalian katakan semuanya tentang aku?"
"Tidak mas, kami tidak mengatakan apa-apa. Kami hanya menjawab sesuai pertanyaan mbak Dinda"
Adi menarik nafas lega
"Dia nanya apa?"
"Berapa lama kami mengetahui perselingkuhan mas dengan istri muda mas"
"Kalian jawab apa?"
"Setahun lebih"
Adi langsung terduduk sambil mengusap kepalanya
"Kenapa kalian jawab seperti itu. Harusnya kalian bilang jika kalian tidak tahu apa-apa"
"Mas, mana mungkin kami bisa berbohong lagi begitu kami melihat bagaimana kacaunya mbak Dinda"
"Mas memang tidak melihat bagaiman kacaunya mbak Dinda dan bagaimana hancurnya dia, tapi kami? kami bertiga menyaksikan sendiri bagaimana dia menangis"
Adi terdiam mendengar jawaban panjang mas Toro
"Maaf mas, kami memang wajar di pecat mbak Dinda karena kami memang bersalah, tapi mas harus pikirkan nasib kami juga. Gara-gara kami menuruti perintah mas kami bertiga harus jadi pengangguran"
Adi menarik nafas panjang, bingung harus bagaimana menolong ketiga anak buahnya
"Saya janji mas, begitu saya bisa menjelaskan dan meyakinkan Dinda, saya akan memperkerjakan kalian lagi"
Mas Toro diam, dia tak merespon jawaban bosnya, karena dia juga yakin jika nasib bosnya itu tidak akan jauh berbeda dengan nasib mereka bertiga sekarang ini
Adi menghembus nafas panjang dan merebahkan kepalanya ke kursi. Sudah tak terhitung lagi berapa batang rokok yang sudah dihisapnya untuk mengurangi rasa sesal dan gelisah nya
Kembali dia mendial nomor Dinda, dan kembali tidak tersambung. Lalu dicobanya untuk mengiriminya pesan
Tolong dengarkan penjelasanku buk
Centang dua belum dibaca, lalu dilihatnya kapan terakhir kali istrinya itu aktif
Sekitar empat jam yang lalu, desisnya
Kembali dia mencoba menelpon Dinda lewat aplikasi WhatsApp, tapi sama saja, walaupun berdering tapi tak diangkat
Please angkat buk, ayah mau menjelaskan semuanya
Aku yang saat ini terduduk di dalam kamar hanya membiarkan handphoneku yang sejak tadi berdering dan berbunyi notifikasi pesan masuk
Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri apa salahku sehingga suamiku mengkhianati ku, berkali-kali aku mencoba mencerna pikiranku bertanya dan menjawab sendiri semua pertanyaan yang memenuhi otakku
*Apa aku tidak secantik dulu lagi sehingga suamiku berpaling pada perempuan lain?
Apa aku tidak becus menjadi istri sehingga suamiku mencari kenyamanan di luar rumah
Apa aku tidak bisa mengurus suami sehingga suamiku mencari perempuan lain yang bisa mengurusnya*???
__ADS_1
Aarghh... Aku mengusap kebelakang rambutku dengan frustasi. Aku benar-benar tak bisa berfikir jernih
Mereka sudah memiliki anak, ya Rabb jadi selama ini suamiku menumpahkan bibitnya pada orang lain di belakangku?
Kembali aku harus menekan dadaku ketika kurasakan nyeri saat aku membayangkan bagaimana dia bercinta dengan selingkuhannya itu
Apa aku kurang memuaskannya sehingga dia mencari kepuasan di luar???
Aku kembali menarik nafas dalam dan menatap kosong ke depan
Suara panggilan grup memaksaku harus meraih handphone yang sejak tadi aku abaikan
Kulihat jika keenam sahabatku telah bergabung dalam panggilan video, tinggal aku lagi yang belum
Aku yakin keenam sahabatku sangat mengkhawatirkan ku
Tak ingin membuat mereka khawatir, aku segera bergabung
"Alhamdulillah...." ucap mereka berenam begitu wajahku tampil
"Kenapa?" tanyaku sambil cemberut
"Ya ampun bestie, lu tahu nggak sih kita itu udah kaya mati rasa karena lu nggak angkat-angkat" cerocos Rohaya
Aku memaksakan sebuah senyuman pada mereka
"Lu dimana?" tanya Lisa
"Rumah"
"Kita kesana ya?"
"Eeeh, nggak, nggak. Kalian kan kerja semua"
"Hei, gue pengangguran kali.." potong Rohaya dan Vita cepat
Kami berlima terkekeh
"Nahhh gitu dong, ketawa. Lega kita lihat lu ketawa" sambung Putri
"Aku baik-baik aja kok"
"Yakin?" tanya Lisa
Aku mendecak mendengar pertanyaannya
Yang lain langsung diam dan menatapku. Aku hanya menarik nafas panjang sambil mengangkat bahu
"Atau jika lu butuh bantuan polisi buat jeblosin suami lu sama selingkuhannya, suami gue bisa bantu" sambung Mila
Aku diam mendengar ucapan Mila, sepertinya ucapan Mila bisa aku pertimbangkan
"Din?, kita khawatir tauu...." sambung Mila
Aku terkekeh, sementara sahabat-sahabatku menatap bengong ke arahku
"Hei, kalian kenal gue nggak sih?, I am fine, nggak usah khawatir"
Keenam sahabat Dinda diam, mereka mencoba mempercayai semua perkataan dan senyum yang ditampilkan Dinda
...----------------...
Yesa keluar dari dalam kamar dengan menggendong buah hatinya bersama Adi, lalu duduk disebelah Adi
"Aku harus pulang" gumam Adi sambil masih terus menghisap dalam rokoknya
Yesa bergeming, dia tak berkomentar apapun
"Aku harus terima kemarahan Dinda, aku yakin dia pasti sangat marah dan terluka"
"Entah apa nanti yang akan aku sampaikan pada Dinda agar dia percaya jika aku khilaf"
"Khilaf?" mata Yesa langsung menyala marah
"Jadi papa menyesal Dinda mengetahui perbuatan kita?"
Adi diam
"Silahkan papa pulang, papa jelaskan pada Dinda jika memang kita berdua saling mencintai dan kita telah mempunyai seorang anak"
Adi menarik nafas dalam
"Bukankah selama ini mama sudah bilang, tinggalkan Dinda, karena papa jauh lebih bahagia bersama mama ketimbang sama Dinda"
__ADS_1
Adi mengusap wajahnya tak menanggapi omongan Yesa
"Jika Dinda tidak menerima alasan papa bagaimana?"
"Gampang, tinggal papa tinggalkan saja dia. Papa disini punya keluarga, ada anak, ada istri, ada rumah, ada mobil, apa lagi yang kurang?"
"Kami jauh lebih membutuhkan papa ketimbang Dinda pa, lihat kan kemarin, Dinda punya sahabat yang rela berkorban untuk dia, dia punya pekerjaan mapan, punya rumah juga, toh di sana anak kalian sudah besar, tidak seperti anak kita disini"
Adi segera berdiri tak mendengarkan lagi ocehan Yesa, dia segera keluar dari rumah tanpa sepatah katapun berpamitan
...----------------...
Aku sedang duduk termangu ketika kudengar ada suara ketukan di pintu.
Aku tetap duduk, sedikitpun tak berniat membukakan pintu.
Kembali suara ketukan terdengar diikuti dengan suara panggilan
Aku makin malas bergerak karena itu suara suamiku. Aku tetap saja duduk tak bergerak sedikitpun, sampai akhirnya Naya keluar dari dalam kamarnya
"Loh, ada ibuk toh?, kirain tadi ibuk di atas"
Aku menoleh sekilas padanya lalu kembali lagi bengong
Naya berjalan kearah depan, membuka kunci pintu
"Ayah..." ucapnya sambil memeluk erat pinggang ayahnya
Adi membalas pelukan anak gadisnya sambil mengusap kepala Naya dengan sayang
"Ibuk mana?"
Naya melepas pelukannya dan menoleh kebelakang
"Tuh..." tunjuknya kearah kursi
Adi hanya melihat ujung kaki istrinya saja, dia yakin saat itu istrinya sedang berbaring di kursi
Adi masuk sambil membimbing Naya. Aku masih sama seperti tadi, tak bereaksi sama sekali
"Buk...?" panggil Adi
Aku diam dan terus menatap layar handphone
"Naya masuk kamar dulu nak ya..." bujuk Adi
Naya menurut dan mengangguk. Sepeninggal Naya, Adi segera duduk di sebelah kakiku
Dan aku langsung refleks menarik kakiku dan segera turun dari kursi, meninggalkan Adi sendiri
Adi tak putus asa, dia mengejar Dinda yang mempercepat laju larinya menaiki tangga
Sampai di kamar, aku segera menutup pintu dan sebelum aku sempat menguncinya, Adi masuk dan segera menarik tanganku
Aku segera menepis tangannya dan melengos, rasanya aku sama sekali tak ingin melihat wajahnya
"Maafkan aku buk"
Aku kembali menepis tangan Adi sambil menggeleng
"Tolong dengarkan dulu penjelasanku"
Aku berhenti menepis tangannya, berganti menatap tajam matanya
"Aku tak serius sama dia.."
Aku langsung terkekeh mendengar jawaban suamiku
"Tak serius kok menghasilkan anak" cibirku
Adi mengusap kasar wajahnya
"Please buk aku benar-benar minta maaf, aku bersumpah aku akan meninggalkan wanita itu asal ibuk mau memaafkan ku"
Aku menggeleng
"Enak sekali kamu bilang asal aku memaafkan mu, kalau aku tak mau memaafkan mu, kamu mau apa?"
Adi diam
"Sakit hati aku Adi kamu bohongi, kamu bilang kamu ngantar bibit, kamu bilang kamu nyari relasi, kamu bilang kamu ke pabrik, ternyata apa?, pabrik buat anak, iya??"
"Pergi kamu dari kamar ini, aku tak sudi sekamar sama kamu lagi, malam ini kamu ku izinkan bermalam di rumah ini, tapi pagi-pagi besok kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Aku sudah tidak sudi lagi melihat wajah kamu"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu aku mendorong kasar tubuh Adi hingga dia keluar dari dalam kamar
Setelah Adi bisa aku usir dari dalam kamar, aku segera mengunci pintu kamar