Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Alasan


__ADS_3

Adi memandang hp dengan bingung, berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.


"Mati aku, jika Dinda sampai beneran marah dan mengambil semua usahaku, aku bisa apa?"


Yesa yang melihat suaminya bingung kembali keluar


"Ada apa pa?"


Adi menoleh, tapi diam dan memilih duduk di kursi


Yesa yang melihat kegelisahan Adi yakin jika Dinda telah marah padanya.


Yesa ikut duduk, memangku anaknya dan bermain dengan bayi gembulnya


"Aku harus secepatnya pulang ma"


Yesa menoleh kearah Adi yang masih tampak khawatir


"Sales datang, dan Dinda tahu jika uang toko tidak aku setorkan"


Yesa menarik nafas dalam, ikut bingung


"Yah papa buat alasan dong biar Dinda percaya, toh selama ini Dinda nggak tahu perbuatan papa, masa kali ini gara-gara sales papa nyerah?"


"Bukan nyerah juga ma, papa khawatir dengan kemarahannya. Dinda itu tidak pernah marah, tapi mama tahu sendiri bagaimana marahnya orang yang jarang marah, apalagi tadi Dinda juga mengancam papa"


"Papa sih bebal, dari dulu kan mama bilang tinggalkan saja dia, kan papa juga sudah ada mama, kita sudah punya anak juga, wanita kaya gitu kok dipertahankan" sambung Yesa dengan wajah cemberut


Adi menarik nafas panjang. Yesa tidak tahu jika kekayaan Adi yang selama ini dinikmatinya adalah karena hasil Dinda.


SK kepegawaian milik Dinda yang digadaikan ke bank, sehingga dia bisa membuka usaha dan tajir melintir seperti sekarang.


Dulu siapalah Adi itu, hanya seorang karyawan toko plastik yang bernasib baik karena menikah dengan Dinda seorang pegawai pemerintah, yang akhirnya rela menggadaikan SKnya demi membantu suami membuka usaha, dan tidak menjadi anak buah orang lagi


"Pa?, kok malah melamun sih?"


Adi tergagap dan mengusap wajahnya.


"Papa lagi mikir alasan logis yang bisa diterima Dinda. Dinda itu perempuan cerdas, salah sedikit papa bicara bisa curiga dia. Apalagi sekarang dia mulai curiga sama papa"


Yesa kembali cemberut


"Besok papa harus pulang, maaf jika janji seminggu untuk tinggal disini terpaksa papa ingkari"


Wajah Yesa makin ditekuk


"Sabar lah sayang, doakan suamimu ini berhasil menaklukkan hati Dinda. Jika Dinda sudah bisa papa kendalikan, semuanya aman untuk kita" bujuk Adi yang membuat wajah Yesa berangsur berubah dan tak cemberut lagi


...----------------...


Kedua anakku sedang bermain di halaman ketika aku pulang. Pengasuh Arik melihat aku pulang langsung tersenyum padaku


"Nih, bunda bawain buah" ucapku sambil mengangkat kantong kresek kearah kedua anakku yang segera berlari ke arahku


Dengan cepat Naya mengambil kantong kresek yang aku ulurkan, berdua dengan Arik dia langsung duduk di teras


"Ini untuk bibi"


Pengasuh Arik langsung menerima dan mengucapkan terima kasih padaku


"Semuanya sudah beres bu, ibu nggak perlu bersih-bersih rumah lagi"


Aku menoleh padanya sambil tersenyum


"Ah bibi baik sekali, makasih ya bi"


Beliau mengangguk, lalu mengusap kepala Arik yang asyik makan buah


"Bibi pulang dulu ya, besok bibi kesini lagi"


Arik mengangguk dan melambaikan tangan kearah pengasuhnya.


"Buk, ayah nggak pulang?"


Aku menggeleng kearah Naya.


"Nggak tahu kapan ayahmu pulang, tunggu aja lah nak, nanti juga ayah kalian pulang kok"


Kedua anakku mengangguk dan kembali makan buah, bahkan Arik mengulurkan buah jeruk minta aku mengupasnya


"Ibu masuk dulu ya, mau istirahat sebentar. Nanti jika rombongan anak buah ayah pulang, panggil ibu, okey?"


Keduanya mengangguk karena mulut mereka penuh


Aku lalu masuk kedalam rumah, naik menuju kamar


Sampai di kamar aku segera merebahkan tubuhku bertepatan dengan handphone yang berdering

__ADS_1


Panggilan grup


Aku meletakkan handphone tanpa berniat bergabung. Tapi handphoneku terus berdering yang akhirnya memaksaku bergabung dalam obrolan


"Weehhh yang somsek akhirnya muncul"


Aku mendecak mendengar ucapan Vita


"Heh Din gimana?"


"Apanya?" tanyaku kearah Vita


"Itu si Tomi"


Aku kembali mendecak kesal sedang keenam temanku yang lain terkekeh


"Berarti kalian ya yang ngasih nomor aku sama dia?"


"Yee bukan aku ya"


"Bukan aku juga"


"Aku juga bukan"


Aku kembali menatap kesal kearah wajah teman-temanku


"Please deh, jika bukan dari kalian terus itu sih Tom cat dapat nomor aku dari siapa?, dari setan?"


Kembali teman-temanku terkekeh


"Adduuuhh udah deh Din, masa masalah nomor kamu ada dengan Tomi aja kamu jadi segitunya sama kita?" ucap Rohaya


"Heh, Roh jadi-jadian, ini pasti ulah kamu deh"


"Ya ampun, sumpah Din. Nggak mungkinlah aku ngasih nomor kamu ke dia, lagian kita kan semua sahabat kamu, masa sih kami tega ngasih nomor kamu ke dia, untuk apa coba?"


Aku diam, wajahku masih cemberut


"Udah dong, kok malah cemberut gitu sih..." sambung Mila


"Aku lagi ada masalah tahu!"


"Heh, seriusan??" semua temanku kompak bersuara


"Kok bisa samaan sih?"


"Besok kan kamu libur tuh Din, gimana kalau kita jalan-jalan?" usul Rohaya


"Aduh nggak bisa besok juga kali, laki aku lagi nggak ada di rumah, katanya dia di ibukota, jadi nggak ada yang handle toko, ini aja aku baru pulang dari toko"


"Katanya?, kok katanya sih Din?"


Aku diam mendengar ucapan heran Putri


"Aah mulai deh si pengacara suka banget ya curigaan" sambung Nanda


"Bukan curiga bestie, aku tuh nanya serius, nggak bisa dong cuma katanya, kata dia kata si anu, harus fakta dong"


"Ah udah lah, pokoknya nggak bisa besok, aku harus ke toko kalau besok, minggu depan aja ya kita jalannya"


Kembali temanku heboh bercerita, dan terdengar panggilan dari Naya


"Eh, bestie maaf ya, aku log out duluan, anak buah suamiku pulang, aku mau ngecek setoran uang dulu"


"Yuk dada bestie...."


Aku lalu menutup panggilan, dan turun dari ranjang menemui Naya yang masih berdiri di depan kamarku


"Rombongan pakde Toro pulang buk"


Aku mengangguk dan menggandengnya turun


Aku segera menemui mereka yang duduk di pinggir garasi. Tampak olehku botol air minum dingin dari kulkas terletak di dekat mereka


"Sudah pulang pakde?" basa basiku


"Iya yuk, oh iya yuk, ini uangnya" mas Toro menyetorkan uang padaku


"Berapa ribu bawa tadi mas?"


"Seribu dua ratus batang yuk"


Aku mengangguk sambil berjalan ke teras, menarik kursi dan membuka kantong kresek hitam yang tadi diberikan mas Toro


"Harga berapa pakde?"


"Semua nota ada di dalam itulah yuk, harganya beda-beda, ada tiga lima ada juga yang enam puluh"

__ADS_1


Aku mengangguk dan mengeluarkan seluruh isi kantong kresek, memeriksa nota dan menghitung ulang dengan kalkulator lalu menghitung keseluruhan uang


"Pas, makasih ya mas"


Mas Toro mengangguk


Aku memberikan uang pada Naya yang duduk di sebelahku


"Kasih pakde, omong untuk uang rokok"


Naya mengangguk dan segera berjalan kearah mas Toro


"Ini kata ibuk untuk pakde beli rokok"


Mas Toro menoleh ke arahku, aku tersenyum


"Nggak usah yuk, kan kami sudah ada gaji mingguan"


"Nggak apalah mas, buat jajan anak mas kalau mas nggak mau"


Ketiganya tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku


...----------------...


Karena besok Adi akan pulang dan entah kapan akan kembali ke rumah istri mudanya, maka malam ini mereka kembali tempur.


Dengan sangat lihai Yesa mampu membuat Adi melupakan masalah sulitnya dengan Dinda


Berkali-kali Adi mengerang karena permainan panas Yesa. Yesa memang jago untuk urusan 3x4, karena itulah Adi sangat candu padanya


Posisi berubah, sekarang Adi yang memainkan peran. Yesa sudah berkali-kali mengejang dan mengerang akibat ulah Adi.


Keduanya benar-benar dimabuk asmara. Hingga suasana dingin daerah kota sejuk ini tak mampu mengalahkan malam panas mereka


Hingga akhirnya permainan panas ini usai saat Adi melenguh panjang diiringi jeritan tertahan Yesa


Setelah itu keduanya terlelap dalam keadaan polos, hingga pagi-pagi Adi terbangun berkat alarm yang diaturnya sebelum dia tidur


Yesa yang terlelap di sebelahnya tampaknya belum akan bangun, padahal saat itu telah pukul tujuh pagi


Adi turun dari ranjang, mencari kaos dan boxer yang semalam dilemparkannya ke sembarang arah, lalu memakainya dan berjongkok di depan kasur, mengecup pipi dan kening buah hatinya yang masih terlelap


Setelah itu Adi ke dapur, memasak air dan membuat kopi. Selesai itu dia kembali masuk kamar membangunkan Yesa


"Ma, bangun. Papa hari ini pulang, ayo bangun, buatkan papa sarapan"


Dengan malas Yesa membuka mata dan menguap lebar


"Beli aja kenapa sih pa, mama masih ngantuk"


"Nggak bisa gitu ma, masa tiap hari beli, papa itu nggak biasa makan makanan beli, papa itu biasanya makanan yang dimasak sendiri"


Dengan kesal Yesa turun dari ranjang, memakai daster lalu berjalan menuju dapur


Dengan cepat dia membuatkan nasi goreng dan telor ceplok, lalu menyajikannya pada Adi


Selesai sarapan dan mandi, Adi segera berpamitan pulang. Diciumnya dengan sayang anak bayinya yang terus menatapnya, lalu dia mengecup kening Yesa


"Jangan hubungi papa kalau bukan papa duluan yang hubungi, untuk sementara mungkin kita akan jarang komunikasi, tapi yakinlah papa akan terus mencintai mama"


Yesa mengangguk dan mencium wajah Adi


"Hati-hati ya pa, semoga masalahnya cepat selesai"


Adi mengangguk lalu berjalan keluar dari rumah diiringi tatapan sedih dari Yesa


...----------------...


"Karena nutupin pembayaran pakan ikan?, ayah serius??"


Adi terus meyakinkan Dinda kemana uang sebanyak itu larinya.


"Ayah takut kalau ibuk marah karena kolam kita hasilnya beberapa bulan ini nggak sesuai"


"Soalnya ibuk tahu sendiri, beberapa kali terjadi pengeringan saluran irigasi, itu kan berdampak pada ikan yang banyak mati"


"Belum lagi pakan ikan yang setiap waktu harganya terus melonjak. Kan kita itu sistemnya ambil pakan dulu, nanti setelah panen baru bayar, nah disitulah ayah terpaksa ambil uang toko untuk nutupin bayar pakan"


Aku diam mendengar alasan suamiku. Setelah kupikir ada benarnya juga, memang beberapa kali terjadi pengeringan irigasi, bisa jadikan ikan banyak yang mati karena kekurangan air


"Kenapa ayah nggak bilang sama ibuk?, tahu gitukan ibuk nggak akan curiga"


"Ayah takut ibuk marah, karena itulah ayah terpaksa melakukan ini. Ayah nggak mau ibuk jadi terbebani dengan hutang ayah pada bos pakan"


Aku tersenyum kearah suamiku, dan Adi demi melihat senyum istrinya segera bangkit dan memeluk istrinya dari samping


"Maafkan ayah ya buk karena telah buat ibuk marah"

__ADS_1


Aku menggenggam tangan suamiku yang melingkar di bahuku sambil menganggukkan kepala


__ADS_2