KOPI CINTA

KOPI CINTA
100


__ADS_3

Pagi hari Anin sudah bangun begitu mendengar qiro'ah di masjid. Dia memandang suaminya yang masih terlelap di sampingnya.


Pelan - pelan Anin turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi, setelah selesai membersihkan badannya dan sudah berganti baju dia duduk di samping kasur untuk membangunkan Alfa karena sebentar lagi adzan akan berkumandang.


"Mas..."


Anin mengusap pipi suaminya itu dengan lembut.


"Hmmm..."


Alfa malah memeluk lengan Anin.


"Bangun Sayang, sebentar lagi Azan berkumandang."


Anin mengusap - usap pipi Alfa dan membuat suaminya itu tersenyum.


"Kamu sudah wangi Sayang, nggak ngajak Mas mandi bareng."


"Mas nggak bangun dari tadi."


Alfa membuka kedua matanya dan memandang Anin dengan Sayang lalu mengusap perut istrinya.


"Sayangnya Papa, kepala sudah nggak pusing Sayang."


Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah Mas, terasa lebih enteng."


Alfa bangun lalu mengecup kening Anin.


"Jangan dipaksa Sayang, kamu harus banyak istirahat Sayang."


"Iya Mas, kalau diem aja juga Anin jadi bingung sendiri mau ngapain."


" boleh beraktivitas tapi jangan sampai capek."


"Iya Mas, mandi Mas adzan itu."


"Iya Sayang."


Alfa mengecup sekilas bibir Anin lalu berlalu ke kamar mandi membuat istrinya itu tersenyum sendiri.


Anin masuk ke ruang ganti untuk mempersiapkan baju suaminya yang akan berjamaah ke masjid.


Alfa keluar dari kamar mandi tersenyum melihat bajunya sudah disiapkan Anin.


"Makasih ya Sayang."


"Iya Mas, buruan ganti nanti telat lho."


"Iya Sayang."


Alfa sudah nampak rapi dengan mengenakan koko serta sarung ditambah lagi dengan peci yang membuat ketampanannya semakin terpancar.


Anin turun bersama suaminya yang akan ke masjid sedangkan dirinya berjamaah dengan Mama Ani dan Kak Amel.


Hari makin siang Alfa sudah bersiap untuk ke kantor sebenarnya ada rasa belum tega untuk meninggalkan istrinya di rumah.


"Sayang..."

__ADS_1


Alfa memeluk Anin dari belakang dengan meletakkan kepalanya di pundak Anin sedangkan tangannya mengusap perut rata istrinya itu.


"Iya Mas."


"Ingat pesan Mas, jangan capek - capek harus istirahat dan jangan lupa minum vitaminnya."


Anin tersenyum dan mengusap tangan Alfa, mendengar pesan dari suaminya itu yang panjang sekali.


"Iya Mas, Anin akan selalu ingat pesan Mas. Kita sarapan Mas pasti Mama sama Kak Amel sudah menunggu."


"Bener lho Sayang, ingat pesan Mas."


"Iya Sayang Ku."


Alfa mengecup pipi Anin dan kemudian menggandeng tangannya mengajaknya turun untuk sarapan bersama.


"Lama banget di tungguin."


Celetuk Kak Amel dan Alfa masa bodoh aja dengan Kakaknya.


"Kayak nggak pernah muda aja Kakak ini."


Alfa duduk di kursi dan Anin pun mengambilkan sarapannya.


"Makasih Sayang, ayo makan."


Anin belum merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya jadi dia bisa melahap makanan apapun yang ada di depannya.


Selesai sarapan Alfa pun pamit dengan Mama dan juga Kakaknya kemudian Anin mengantarnya sampai ke depan teras tak ketinggalan Arsy juga ikut.


"Mas berangkat Sayang."


Alfa mengecup kening Anin lalu mengajak bicara calon buah hatinya yang ada di dalam perut istrinya.


Alfa juga mengecup kening Arsy.


"Nggak boleh nakal ya di rumah sama Mama dan Bunda."


"Iya Pa."


"Hati - hati Mas."


Anin marahi tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Iya sayang, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Alfa mengendarai kuda besinya dan meninggalkan rumah menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor Alfa seperti biasa memberikan kunci mobilnya kepada satpam dan masuk ke dalam lobi.


"Pagi Pak."


Sapa beberapa karyawannya yang berpapasan.


Alfa membalas senyum mereka.


"Semenjak menikah Pak Alfa jauh lebih ramah ya." Bisik seorang karyawan kepada temannya.

__ADS_1


"Iya jadi kelihatan tambah ganteng sekarang."


"Hussttt... suami orang itu."


Alfa menekan lift khusus untuk pimpinan yang sering ia gunakan untuk menuju ke ruangannya.


Di depan ruang Rina sudah bersiap menyambut bosnya yang baru datang itu.


"Pagi Pak."


"Bagaimana sudah kamu persiapkan email yang saya kirim tadi malam."


"Sudah Pak."


"Oke."


Alfa masuk ke dalam ruangannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang kemarin ia tinggalkan.


Hari semakin siang dan jadwal bertemu dengan kliennya. Alfa keluar dari ruangannya bersama asisten manager ia pergi.


Saat keluar dari lift, ada seseorang yang sedang berdiri di resepsionis.


"Alfa.."


Dia menghampiri Alfa dan di cegah oleh resepsionis.


Alfa sendiri menatap laki - laki tang mendekatinya itu.


"Indra mau ngapain lagi dia."


Ucapnya dan dia berhenti.


"Maaf Pak saya sudah melarangnya dan mengatakan Bapak sedang sibuk."


Kata karyawan resepsionis itu yang takut di salahkan Alfa.


"Iya nggak papa."


"Alfa, kasih waktu saya sebentar untuk bicara." Kata Indra dengan tatapan memohon.


"Mau bicara apa lagi kamu, saya tidak punya banyak waktu, saya harus pergi." kata Alfa tanpa memandang ke arah Indra.


" Aku mau menjelaskan semuanya."


"Hah... Apa lagi yang mau kamu jelaskan sudah cukup jelas semuanya dan sekarang lebih baik kamu jangan pernah mengganggu keluarga Ku lagi."


"Aku mau ketemu Arsy, darah daging ku sendiri Alfa."


"Bukannya kemarin kamu sudah bertemu dan melihat dia apalagi yang kamu inginkan."


"Aku mau dia tahu jika aku ini papa kandungnya, aku mau bertanggung jawab atas dirinya dan memberi nafkah."


"Keluarga Ku masih sanggup memberi nafkah untuk Arsy. Ayo kita pergi."


Alfa melangkahkan kakinya kembali.


"Fa... Kasih waktu aku untuk menjelaskan semuanya kenapa dulu aku meninggalkan Amel."


Alfa tidak mengabaikan teriakan Indra dan menganggapnya acuh berjalan begitu saja.

__ADS_1


☺☺☺☺☺


Maaf ya Author agak sedikit sibuk, jadi kadang tidak Up 👍🙏🙏🙏🙏


__ADS_2