KOPI CINTA

KOPI CINTA
85


__ADS_3

"Sayang pasti kemakan sama omongan Riko."


Alfa mencubit pipi Anin.


"Mas Riko bohong Mas."


Alfa tersenyum, "Mas nggak tau Sayang, dulu Dia hanya mau harta saja atau benar - benar mencintai Mas."


Anin melepaskan pelukannya dan menatap suaminya.


"Dia, Dia siapa Mas."


Alfa membawa Anin ke pelukannya lagi.


"Ceritanya besok ya Sayang, sekarang kita istirahat saja katanya tadi sudah capek."


Alfa membelai rambut Anin yang panjang tergerai.


"Mas nggak mau cerita ya, ya udah yuk tidur."


Anin melepaskan pelukan Alfa dan beranjak dari tempat duduknya.


"Rahasia apa Mas, yang Mas sembunyikan." Dalam hati Anin dia berspekulasi jika Alfa memang tidak mau menceritakannya.


"Bukan begitu Sayang."


Alfa meraih tangan Anin dan menariknya kembali ke dalam pelukannya.


"Tidur Mas capek."


Anin melepaskan lagi pelukan Alfa namun kali ini tak bisa karena suaminya memeluknya dengan erat.


"Mas nggak mau kamu salah paham Sayang."


"Justru kalau Mas Alfa tidak mau cerita malah buat Anin salah paham." Anin menyebikan bibirnya dan Alfa menatapnya.


"Ngambek istri ku ini, hmmm..."


Alfa mencubit pipi Anin yang menggemaskan.


Anin diam saja dan masih pasang muka kesal.


"Oke Mas cerita tapi Sayang jangan berpikiran yang aneh ya. Mas sama sekali sudah tidak ada hubungan apa pun dengan dia dan peristiwa ini juga sudah berlalu 2 tahun yang lalu."


Anin menatap Alfa dengan serius dia sudah tak sabar untuk mendengar cerita suaminya.


"Mas dulu punya kekasih namanya Silvi, kita dulu berpacaran kurang lebih 2 tahun dan tepat di anniversary kita yang ke-2 tahun kita merencanakan untuk bertunangan. Tetapi malam itu dia dan keluarganya tak datang hanya sepucuk surat yang datang ke keluarga Mas."


"Dia kemana Mas."


Anin memang sangat antusias untuk mendengarkan cerita Alfa.


"Itu yang Mas nggak tau saat itu, dan 1 bulan setelah kejadian itu Mas mendengar dia menikah dan yang Mas tau dari Riko dia menikahi seorang pengusaha yang kaya karena Dia bisa memenuhi apa yang Mereka inginkan."


"Mas kecewa."


Anin menatap suaminya lekat dan membuat Alfa malah mengecupnya.


"Nggak Sayang, karena Mas sudah ada kamu yang menerima Mas apa adanya."


"Dia cantik Mas."


"Cantikan kamu Sayang. Udah ah, nggak usah dibahas Sayang nanti malah jadi salah paham kita. Itu cuma cerita masa lalu dan masa depan Mas dengan kamu." Alfa memeluk Anin dan mencium pucuk kepalanya.


"Mas kenapa milih Anin."

__ADS_1


"Kamu istimewa Sayang, Mas nggak mau ngomong yang manis - manis yang jelas Mas Sayang sama kamu karena Allah dan ingin bahagia dunia akhirat bersama Kamu Sayang."


"Aamiin Mas."


"Sayang Mas boleh tanya."


"Apa Mas."


"Kenapa Sayang mau menerima Mas ini sebagai suami kamu."


Anin memeluk suaminya.


"Anin melihat Mas itu sungguh-sungguh dan laki - laki yang bertanggung jawab."


"Sayang, jangan terpengaruh lagi dengan omongan orang ya, hampir saja Mas kehilangan kamu. Kalau ada orang bilang tentang keburukan Mas dibelakang kamu jangan mudah percaya kalau kamu tidak melihatnya langsung."


Anin menatap Alfa, "Tapi Mas Alfa tidak akan mengecewakan kepercayaan Anin kan."


"Mas akan selalu berusaha untuk menjaga kepercayaan kamu sayang."


Alfa meraih dagu Anin dan memberikan sentuhan lembut di bibir istrinya. Hingga mereka larut dalam kemesraan dan Alfa mengangkat tubuhnya membawanya ke tempat tidur Mereka.


Hingga pagi menjelang Anin bangun lebih awal daripada Alfa, Dia meregangkan badannya yang terasa capek dan kemudian menatap suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Anin beranjak bangun dengan menyingkirkan tangan Alfa yang melingkar di perutnya, namun ternyata Alfa merasakan jika Anin menggerakkan tangannya, dia malah mengeratkan pelukannya.


"Mau kemana Sayang."


"Mau mandi, sebentar lagi subuh Mas bangun."


"Kita mandi bareng ya."


" Nanti malah lama Mas, keburu adzan. Mas bisa telat nanti ke masjid."


"Malah cepat dong sayang kan mandinya berdua jadi selesainya bareng."


"Kalau itu Mas enggak bisa janji."


Alfa masih memejamkan matanya namun bibirnya sudah tersenyum nakal.


"Ya udah Anin mandi dulu kalau gitu."


Anin menyingkirkan tangan Alfa dan hendak beranjak dari tempat tidur. Dia mengambil bajunya yang berserakan di bawah.


Belum sampai memakainya Alfa sudah duduk dan langsung mengangkat tubuhnya membawanya ke kamar mandi.


"Mas.. Anin mau mandi sendiri."


"Mas nggak suka kalau ditolak."


"Mas suka menang sendiri."


"Kan suami, istri itu harus nurut sama suami."


"Dalam hal apa dulu."


"Se...mu...aaa...nya."


Kata Alfa sambil meletakkan tubuh istrinya di bath up dan mengecup bibirnya.


"Jangan manyun gitu, bikin gemes."


Alfa memenuhi bath up dengan air hangat dan dia pun ikut masuk ke dalam.


Selesai mandi Alfa segera bersiap untuk berangkat jamaah sholat subuh ke masjid dan Anin sholat saja di rumah bersama Mama.

__ADS_1


Matahari semakin menampakan dirinya selesai berjamaah tadi Alfa kata lupa menyempatkan diri untuk mencari keringat sebelum berangkat ke kantor.


Kini Mereka telah duduk bersama di ruang makan untuk menyantap sarapan.


"Fa, Kakak mau ke restoran."


Alfa langsung menatap kearah Amel.


"Ngapain Kak, kan Kakak tetap bisa mengontrolnya dari rumah saja." Bantah Alfa.


"Sudah satu minggu lebih Kakak nggak pernah nengok restoran semenjak kamu menikah, lagian Kakak juga mulai bosan di rumah terus."


"Tapi Kak, nanti kalau Kakak kenapa - napa gimana."


Amel paham apa yang dimaksud oleh Alfa.


"Dia nggak akan berani menemui Kakak sampai ke restoran."


"Mel, sepertinya perkataan Alfa benar. kamu kan nggak perlu ke restoran nanti juga mereka akan kirim laporan sama kamu." Kata Mamanya.


Anin hanya menjadi pendengar setia saja.


"Ma.. Amel juga ingin menghirup udara segar di luar. Amel janji nggak akan lama cuma nengok saja lihat laporan terus pulang."


"Tapi kan sama aja kamu sudah keluar rumah."


"Ma, mau sampai kapan Amel di rumah terus. Oke kalau kalian khawatir sama Amel ya udah suruh itu anak buah Alfa ikut aja." Kata Amel.


Alfa nampak berfikir, sebenarnya dia juga merasa kasihan dengan kakaknya yang harus di rumah terus untuk menghindari Indra.


"Anin ikut Kakak ya." Pinta Amel dan Alfa langsung menatap istrinya.


Anin paham apa arti tatapan suaminya itu.


"Anin terserah sama Mas Alfa Kak kalau mengizinkan ya Anin mau nemenin Kak Amel."


"Sayang di rumah aja ya."


Anin pun hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Dan Kakak tetap di rumah aja. Nanti Alfa aja yang akan ke restoran dan memantaunya." Ucap Alfa tegas dan membuat Amel hanya membuang nafas aja.


"Fa.. Kakak juga punya hak untuk bebas keluar kan. Kenapa semuanya harus kamu kendalikan." Suara Amel terdengar keras dan dia langsung pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya.


"Kak, bukan begitu maksud Alfa."


"Sudah Alfa, biarkan kan kakak kamu sendiri dulu kamu berangkat ke kantor." Lerai Mama Ani yang mengikuti Amel ke kamar.


"Mas... Tenang dulu. Habiskan sarapannya dulu." Anin mengusap tangan Alfa yang terlihat kecewa dengan Kak Amel.


"Mas udah kenyang Sayang, Mas mau berangkat aja."


Alfa meletakkan sendok nya di atas piring.


"Minum dulu Mas."


Alfa menegak kopi kesukaannya dan kemudian beranjak ke depan di temani Anin.


"Hati - hati ya Mas. Ingat jangan ngebut, pikirannya yang tenang ada Anin yang nunggu di rumah."


Alfa tersenyum dan mengecup kening Anin.


"Iya Sayang, Mas berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


😌😌😌😌😌


__ADS_2