KOPI CINTA

KOPI CINTA
35


__ADS_3

Dua hari setelah dari rumah sakit kini Anin akan mulai berangkat bekerja kembali. Masa cutinya telah habis walaupun kakinya untuk berjalan belum bisa kembali sempurna tapi dia tetap harus berangkat bekerja dia sudah tidak enak terlalu lama cuti.


Kalau Alfa masih melarangnya untuk berangkat bekerja namun Anin tetap kekeh dia akan berangkat bekerja tanpa memberitahu ke Alfa.


"Anin naik apa, dijemput Alfa."


Papa Budi bergabung untuk sarapan bersama.


"Nggak Pa, Anin naik taksi aja Pa."


"Lho,, nggak bareng Alfa."


Mama Rani memberi kode kepada Papa Budi untuk tidak membahas Alfa karena muka Anin sudah berubah.


"Nggak Pa."


Jawab Anin malas.


"Ya udah hati - hati, Papa nggak bisa nganter karena pagi-pagi ada jadwal sidang mahasiswa."


"Iya Pa, Anin bisa sendiri."


Mereka sarapan bersama, dan setelah habis Fajar pamit untuk berangkat duluan kemudian disusul oleh Papa.


"Ma Anin berangkat ya itu taksinya sudah datang."


"Iya Sayang, hati - hati."


"Iya Ma, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Anin berjalan pelan - pelan dengan kaki yang masih belum bisa tegak jadi agak pincang.


Taksi berjalan meninggalkan rumah menuju ke kantor, Anin sama sekali tidak memberitahu kepada Alfa jika dia sudah berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor Anin turun dari taksi, suasana masih pagi memang Anin sengaja berangkat gasik untuk menghindari Alfa.


"Pagi Mbak Anin."


Pak Agus yang bertugas pagi itu sudah bersiap di pintu masuk.


"Pagi Pak Agus."


"Kakinya masih sakit ya Mbak Anin."


"Iya Pak, Saya naik langsung ya Pak."


"Iya Mbak, silahkan."


Anin segera masuk ke lift untuk menuju ke ruangannya, dan beberapa menit kemudian datanglah karyawan yang lainnya.


"Anin... Kamu sudah datang."


Miss Salsa melihat Anin yang sudah duduk di kursinya sambil tersenyum.


"Kangen Anin."


Mereka berpelukan.


"Kangen juga Miss."


"Anin, kamu masih punya hutang ya sama aku."


"Hutang apa Miss."


Anin merasa tidak punya hutang sama Miss Salsa.


"Jangan pura - pura lupa, hutang penjelasan kamu sama aku."


"Penjelasan."


Anin masih nggak paham.


"Iya penjelasan kenapa Pak Alfa ada di rumah kamu, dan sepertinya kalian berdua akrab sekali, ada sesuatu kah yang aku tidak tahu."


Miss Salsa menggerak-gerakkan kedua alisnya.


"He he he... nggak ada apa - apa kok Miss."


"Jangan bohong."

__ADS_1


"Atau jangan - jangan sudah ada hubungan berdua ya."


"He..he... Miss Salsa ada - ada aja." Anin tersenyum tapi ada sesuatu yang disembunyikannya.


"Jangan bohong kamu, masa kamu enggak mau cerita sama aku."


"He he he... Iya nanti istirahat ya Miss."


"Oke.."


Mereka kemudian mulai mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka.


Hingga saat istirahat pun tiba.


"Anin, kita ke kantin yuk."


Ajak Miss Salsa.


"Aku Istirahat di sini saja, Miss."


"Kenapa."


Sebenarnya Anin malas untuk pergi ke kantin selain jalannya juga masih kesusahan nanti takutnya bertemu dengan Alfa.


"Nggak papa, kita pesan online aja ya Miss, nanti aku yang bayar deh."


"Woke..."


Miss semangat selalu sekali ketika mendengar akan ditraktir Anin.


Anin kemudian memesan makan siang mereka melalui aplikasi dan meminta Miss Salsa yang keluar untuk mengambilnya.


"Sambil cerita dong Nin, mumpung lagi istirahat ini."


Pinta Miss Salsa yang sudah tidak sabar dengan cerita Anin.


"Ceritanya gimana Miss."


"Anin.."


Miss Salsa sudah gemes sama Anin tak kunjung bercerita.


"Ayo Anin cerita."


"Pak Alfa cuma mampir aja Miss."


"Kok Dia tau rumah kamu."


"Hufft... Jadi begini Miss. Pernah mobil papa itu mogok di jalan nggak sengaja ketemu sama Pak Alfa terus di anterin pulang. Kemarin itu Pak Alfa main aja, karena tau kalau aku jatuh."


Miss Salsa mengerutkan dahinya.


"Kok bisa tau kalau kamu jatuh."


" Sebenarnya aku jatuh dari mobil Pak Alfa." Akhirnya Anin jujur aja.


"Kok bisa, berati kamu pergi sama Pak Alfa."


" Miss Salsa ingat waktu aku pulang naik ojek sore itu."


"Iya."


" Pak Alfa menjemput ku di halte dia melihat aku sedang berteduh di situ, terus mengajakku pulang bareng dan di jalan Aku berdebat dengan dia aku memaksa untuk turun tapi kakiku terpeleset dan jatuh."


"Kalian sudah sedekat itu."


Anin menganggukkan kepalanya saja.


"Miss, Aku boleh minta tolong."


"Apa Anin."


" Tolong rahasiakan ini semua termasuk dengan Kak Rio juga tolong diminta untuk diam saja. Miss aku nggak mau karyawan yang lain disini mengetahui kedekatan ku dengan Pak Alfa."


"Aku paham Anin, Kamu tahu kan siapa yang bakalan kamu hadapi jika tahu kamu dekat dengan Pak Alfa."


"Iya Aku tau Miss, terutama Bu siska yang membuat kaki ku seperti ini."


"Iya, kamu harus hati-hati Anin dia orang sangat berpengaruh di sini makanya dia sering semena-mena."


"Aku paham Miss, itu yang aku takutkan."

__ADS_1


"Kamu waspada Anin, jangan sembarangan bareng sama Pak Alfa kalau di kantor."


"Ya Miss."


" Memang susah yang menjalin kedekatan di satu kantor apalagi sama Bos sendiri."


Alya tersenyum, "Iya Miss."


"Ciye... yang sedang jatuh cinta."


"Apaan Miss Salsa ini."


Selesai makan Mereka meneruskan pekerjaan Mereka hingga waktu pulang tiba.


Anin keluar bersama Miss Salsa menuju ke lobby kantor.


"Kamu sudah pesan taksi Nin."


"Sudah Miss."


Mereka sampai di lobby dan pas mobil Alfa datang, Dia keluar dari mobil bersama Siska dan seorang klien.


"Nin.. Itu Pak Alfa."


"Aduh.." Dalam hati Anin.


"Udah kita jalan aja Miss."


Alfa masih berdiri di depan sedang berbicara dengan klien dan juga ada Siska.


Alfa menoleh ke arah para karyawan yang mulai pulang.


"Anin.."


Dalam hati Alfa sambil terus mengamati Anin, tapi Anin sama sekali tak menoleh dan berjalan lurus saja.


"Dia berangkat."


Alfa masih bicara sendiri di dalam hatinya hingga tidak berkonsentrasi dengan klien.


Anin langsung memasuki taksi yang sudah datang, dan segera meminta sopir untuk berjalan meninggalkan kantor.


Alfa gelisah melihat Anin pulang naik taksi ingin rasanya menarik dia mengajaknya pulang tapi apa daya masih ada klien.


Begitu klien pamit pulang, Alfa langsung masuk kembali ke dalam mobil tanpa menghiraukan Siska yang memanggilnya.


"Anin, sampai mana kamu."


Alfa bicara sendiri sambil menekan nomor telepon Anin untuk menghubunginya.


"Angkat Anin..."


Alfa gelisah sambil terus mencoba menghubungi Anin.


Anin sendiri terdiam di dalam taksi, bukannya dia tidak tahu ada panggilan tapi dia bingung apakah harus diangkat atau tidak.


"Gimana ini."


Anin melihat nama Alfa terus memanggil di ponselnya.


" Kalau nggak angkat nanti pasti dia ke rumah dan marah, gimana ini." Anin menggigit bibir bawahnya sambil menggerak-gerakkan jarinya.


"Angkat aja deh, daripada mas Alfa tambah marah."


Anin menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya dan menjawab panggilan Alfa.


" Assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam, Anin berhenti sekarang aku jemput."


Suara Alfa terdengar keras hingga membuat tangan Anin bergetar.


"Ta..tapi Mas."


" Saya tidak suka dibantah Anin."


tut. tut...tut...


Panggilan terputus.


😥😥😥😥😥😥

__ADS_1


__ADS_2