
"Ayo."
Alfa meraih tangan Anin dan menariknya agar Dia mengikutinya.
Karyawan lain yang melihatnya melongo dan menutup mulut mereka. (Kayak di drakor gitu, bayangin sendiri 😁😁😁).
Miss Salsa pun terdiam di depan lift tadinya mau masuk malah nggak jadi melihat Anin ditarik oleh Alfa.
"Anin."
"Nggak salah lihat kita."
Bisik Mereka.
"Cewek itu, di gandeng Pak Alfa."
"Wah, cari masalah ini cewek."
"Cewek divisi mana itu."
"Wah cari masalah berat ini sama Bu Siska."
"Tapi Bu Siska lagi luar kota ini."
"Wah lihat besok ya."
Mereka memberikan komentar sesuka hati saja melihat Anin di gandeng Alfa dan di bawa menuju ke lobi.
Sedangkan Anin berusaha menarik tangannya yang digenggam oleh Alfa.
"Mas, lepasin."
"Nggak."
"Mas, lepasin sakit Mas."
Bohong Anin yang sebenarnya dia malu dan juga nggak mau mencari masalah.
"Nggak Anin."
Alfa terus menggenggam tangannya dan memintanya berjalan di sampingnya.
"Anin."
Alfa tiba-tiba berhenti dan Anin menubruk punggung Alfa.
"Aduh..."
Anin mengusap kepalanya.
"Sini di samping Mas, makanya jangan di belakang."
Alfa menarik tangan Anin dan membawanya disampingnya.
Wajah Anin sudah tidak bersahabat, dia diam saja dan menunduk terus kalau bisa mau ditutup itu muka.
Alfa menggenggam tangan Anin semakin erat dan berjalan lagi ke arah mobilnya yang sudah disiapkan oleh pak Agus.
"Kuncinya Pak."
"Makasih Pak Agus."
Pak Agus menatap ke arah Anin terus dan kemudian tersenyum.
"Kenapa Pak."
Tanya Alfa.
"Maaf nggak papa Pak, Mbak Anin ya."
Anin menengadahkan kepalanya dan tersenyum malu ke arah Pak Agus.
"Silahkan Pak, mobil sudah siap."
Alfa membukakan pintu mobil untuk Anin.
"Silahkan."
Anin diam saja dan menekuk mukanya kemudian duduk di kursi depan sebelah kemudi.
__ADS_1
Alfa menutup pintu mobilnya dan kemudian berputar dan membuka pintu sebelah kemudian duduk di belakang kemudi.
Mobil mulai dia jalankan meninggalkan kantor menuju ke suatu tempat untuk menikmati makan siang bersama Anin.
"Mukanya di tekuk aja."
Alfa melirik ke arah Anin yang diam sejak tadi dan membuang pandangannya ke arah jendela.
Anin masih diam saja tanpa merespon ucapan Alfa.
"Anin..."
"Aku ngajak bicara lho."
Anin masih diam saja, pikirannya entah kemana banyak sekali yang dia bayangkan. Apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, apa yang harus dilakukan setelah ini.
"Anin.. Sayang.."
Alfa mengulanginya lagi, dan benar saja Anin langsung menoleh ke arah Alfa namun wajahnya masih ditekuk.
"Jelek tau kalau kayak gitu."
Alfa mencoba menggodanya agar Anin tersenyum.
"Biarin jelek."
"Marah.."
"A...a..a..a... hiks..hiks..."
Anin malah mau menangis.
"Kok nangis, Mas salah ya."
"A..a...a... Mas Alfa jahat, sekarang kalau sudah begini Anin harus bagaimana."
Anin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Alfa malah terkekeh melihatnya.
"Gimana maksudnya Anin, Mas nggak paham."
"Tau ah, Mas Alfa jahat. Kenapa coba pakai menggandeng tangan Anin di depan mereka semua."
" Anin sekarang pasti jadi bahan olok-olokan mereka, dikira Anin udah menggoda Pak GM lagi."
Alfa malah santai mendengar ocehan dari Anin.
"Kamu memang sudah menggoda Pak GM Anin."
Kata Alfa dan membuat Anin menatapnya tajam.
"Dosa menatap calon suami kayak gitu."
"Mas Alfa aja buat dosa terus."
"Ha ha ha.. Tapi kamu suka itu."
"Ihh.. Mas Alfa nyebelin nggak bisa serius, hiks..hiks..... Mama.."
Anin menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya lagi dan kali ini benar-benar menangis.
"Eh... malah nangis beneran."
"Mama, Anin harus gimana. Anin mau keluar kerja aja tapi sayang juga kalau keluar masuknya aja susah."
Alfa malah terkekeh melihat Anin menangis tapi sambil bicara sendiri.
"Anin.."
"Hiks..hiks...hikss... Mama."
"Anin..."
Alfa menarik tangan Anin yang dibuat untuk menutupi wajahnya.
Buru - buru Anin mengambil tisu yang ada didepannya kemudian mengelap mukanya.
"Mas minta maaf."
"Mas, nggak mikir dulu sih kalau mau berbuat sesuatu."
__ADS_1
Alfa sangat sabar menghadapi Anin yang masih labil, apalagi suka meledak-ledak kalau sedang marah.
"Anin... Mau sampai kapan kita diam dari mereka. Lama-lama mereka juga akan tahu."
"Tapi nggak begini caranya Mas, sekarang Anin harus gimana kalau di kantor. Mereka semua akan memandang sinis kearah Anin."
Alfa mengembuskan napasnya.
"Itu hanya pikiran kamu saja Anin mereka nggak akan seperti itu sama kamu."
"Mas Alfa nggak tau sih."
"Mas tau, kata siapa Mas nggak tau."
Alfa memang sengaja tidak menanggapi apa yang Anin risau kan nanti malah ke memperburuk.
"Tau apa."
"Tau kalau Mas lapar. Ayo keluar."
Anin sampai nggak sadar kalau mobil itu sudah berhenti di depan restoran.
Alfa membuka pintu mobil dan kemudian berputar membukakan pintu mobil untuk Anin.
"Ayo Anin."
Alfa menyodorkan tangannya untuk di raih Anin.
"Dosa."
Anin berjalan sendiri membuat Alfa terkekeh kemudian mengikutinya dan meraih tangan Anin dan menggenggamnya membawanya masuk ke dalam restoran.
"Mas suka makan di tempat sendiri."
Alfa membawa Anin ke restoran milik keluarganya lagi karena memang tidak terlalu jauh dari kantor Alfa.
"Masakannya enak, lagian gratis, ha ha ha.." Tawa Alfa.
Anin diam saja dan menyebikan mulutnya.
"Siang Pak, Siang Bu."
Sambut pegawainya.
"Siang, siapkan menu ya."
"Baik Pak."
Alfa membawa Anin ke private room untuk menikmati makan siang mereka agar tidak terganggu dengan pengunjung lainnya.
"Papa.."
Anak kecil perempuan itu berlari begitu melihat sosok Alfa yang berjalan ke arahnya.
"Papa.."
Anin bertanya di dalam hatinya sendiri dan dia langsung berhenti tidak mengikuti Alfa menyambut anak kecil itu.
"Mas Alfa sudah menikah."
Anin berspekulasi sendiri.
"Hali Sayang, Mama mana."
Alfa meraih Arsy dan menggendongnya tapi dia tidak tau jika Anin diam mematung di belakangnya dan terhanyut dalam pikirannya sendiri.
"Ini anak Mas Alfa, Dia disini sama istrinya."
"Kamu jahat Nin, mau menghancurkan mereka."
Anin masih diam saja melihat interaksi Alfa dan juga Arsy.
Anin yang berspekulasi sendiri hingga terhanyut tak terasa air matanya pun menetes dan dia buru - buru mengusapnya.
"Aku nggak bisa, kalau begini."
Anin diam - diam berbalik arah namun dia tidak waspada apa yang ada di belakangnya dan..
Brukk...
__ADS_1
Pyar...
🤗🤗🤗🤗🤗