KOPI CINTA

KOPI CINTA
102


__ADS_3

Sore hari Alfa pulang dari kantor yang bilangnya hanya meeting dengan klien nyatanya juga sampai sore.


Anin sudah menunggu di depan teras bersama Arsy.


"Bunda... Papa pulang."


Arsy kegirangan melihat mobil Alfa yang memasuki halaman rumah.


"Iya Sayang, kita tunggu Papa turun dari mobil ya."


Arsy menganggukkan kepalanya dan begitu Arsy lihat Alfa turun dari mobil Dia berlari mendekatinya.


"Papa..."


"Assalamualaikum Sayang."


"Waalaikumcayammm..."


jawaban Arsy dan membuat Alfa gemas mencubit pipinya lalu menggendongnya.


"Waalaikumsalam Mas."


Anin meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Badan sudah enak kan Sayang."


Alfa mengecup perut Anin dan mengusap perutnya.


"Alhamdulillah Mas."


Kata Anin dengan tersenyum.


"Kita masuk Sayang."


Alfa menggendong Arsy dan menggenggam tangan Anin membawanya masuk ke dalam rumah.


Alfa menghampiri Mama dan Kakaknya di ruang keluarga kemudian meraih tangan mereka.


"Sayang sini sama Mama, Papa sama Bunda mau istirahat dulu." Kata Amel.


"Ikut Bunda." Rengek Arsy.


"Di sini aja sama Mama kita mewarnai." Rayu Amel.


"Ndak mau.. Ikut Bunda."


"Biarin Kak ikut. Ayo Sayang."


"Gendong Papa yuk."


Alfa menggendong Arsy sambil menggandeng tangan Anin mereka naik ke lantai 2.


Sesampainya di kamar Arsy didudukkan di tempat tidur oleh Alfa.


"Sayang di sini ya Papa mandi dulu."


"Iya Pa."


"Handuk di dalam ya Mas."


"Iya Sayang, kamu di sini aja nemenin Arsy, Mas bisa ambil baju ganti sendiri nanti."


Alfa menghilangkan tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Anin hanya tersenyum memandangnya.

__ADS_1


Selesai mandi Alfa langsung ke ruang ganti dan Anin hanya melihatnya sambil menemani Arsy main. Maksud Alfa tadi melarang istrinya untuk mengambilkan baju ganti kan nggak mungkin juga dia ganti baju di situ karena ada Arsy.


Alfa keluar sudah dengan aroma parfum yang semerbak Dia mendekati istri dan juga anaknya.


"Arsy main apa."


Alfa duduk di samping Anin yang memperhatikan aktifitas Arsy mencoret-coret kertas yang diberikan oleh Anin tadi.


"Alsy, gambar Pa."


"Gambar apa Sayang."


"Bunga..."


Alfa mengusap kepala Arsy sambil tersenyum.


"Sayang, perutnya baik - baik aja kan."


Alfa beralih ke Anin dengan mengusap perut rata istrinya itu.


"Iya Mas, baik - baik aja. Cuma rasanya pengen aja minum yang segar Mas, tadi siang bikin es jeruk Anin kasih juga Kak Amel Dia sampai keasaman."


"He.. Nggak di kasih gula."


"Dikit aja Mas, terus sama Kak Amel gak diminum Anin habisin aja sendiri."


"Iya wajar Sayang, itu selera ibu hamil kamu kasih ke Kak Amel."


"Mas, tadi siang Kak Amel lamun di taman terus Anin deketin. Dia cerita kalau Papanya Arsy ngajak ketemu tapi karena Kak Amel merasa keganggu akhirnya nomornya malah diblokir."


Alfa mendengarkan cerita istrinya dengan antusias.


"Pantas aja."


"Ada apa Mas."


"Tadi Si Indra ke kantor, dan ketemu Mas pas mau pergi ketemu klien di lobi."


"Mas menemui Dia."


"Iya, tapi hanya sebentar. Dia bilang minta waktu Mas untuk menjelaskan semuanya."


"Terus Mas bilang apa."


"Mas mengacuhkan Dia aja, rasanya sudah tidak perlu dijelaskan lagi semuanya sudah jelas dulu dia pergi begitu saja meninggalkan Kak Amel dan Arsy."


"Kenapa nggak coba dikasih kesempatan aja Mas siapa tahu ada sesuatu yang belum kita ketahui." Anin memberanikan diri untuk memberi pendapatnya.


Alfa menatap Anin.


"Apa masih perlu diberi kesempatan lagi kalau seperti itu sayang."


"Ya setiap orang punya hak Mas dengan pendapatnya masing-masing tetapi, tidak ada salahnya menurut Anin."


"Hufftt.... " Terdengar helaan nafas Alfa.


"Ya semua kembali kepada diri Mas sendiri masih memberi kesempatan gak sama Papanya Arsy."


Alfa menyandarkan kepalanya di sofa.


"Nggak baik Mas, menyimpan dendam." Anin dengan lembut mengusap tangan suaminya.


Alfa pun tersenyum dan mengusap kepala istrinya yang tertutup hijab.

__ADS_1


"Bunda.. Udah jadi."


Arsy memperlihatkan hasil gambarnya.


"Bagus sayang, bunga apa ini."


Anin memuji hasil menggambar Arsy yang terbilang masih balita tetapi cukup bagus.


"Bunga matahali Bunda..."


"Warnanya apa nanti."


"Kuning, yellow."


"Arsy berbakat Mas sama seni menggambar." Kata Anin.


"Sepertinya itu menurun dari Papanya, Indra punya usaha di bidang desain." Ucap Alfa.


Anin menoleh dan baru tahu kalau bakat Arsy menurun dari Papanya.


Adzan maghrib pun berkumandang Alfa dan juga Anin bersiap untuk sholat dan mereka turun ke bawah untuk berjamaah bersama.


Selesai sholat mereka seperti biasa mengaji dan mengajarkannya kepada Arsy, hingga adzan isya dan berjamaah kembali.


Makan malam telah tersedia di meja makan dan merekapun menyantapnya bersama.


"Kak, tadi Indra ke kantor."


Ucap Alfa saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga sehabis makan malam.


Amel dan Mama Ani menatap ke Alfa dengan tatapan penasaran.


"Mau ngapain Dia nemuin kamu."


Amel terlihat sedikit acuh tetapi sebenarnya juga penasaran.


"Mau bicara tapi tadi Alfa nggak punya waktu tadi untuk meladeninya."


"Terus Dia pergi."


"Alfa yang pergi ninggalin Dia mau ketemu klien."


"Dia nggak bicara sesuatu." Tanya Mama Ani mewakili rasa penasarannya Amel.


"Katanya mau bicara ingin menjelaskan semuanya."


"Menjelaskan apa lagi." Kata Amel.


"Menjelaskan kenapa dulu dia pergi dan menuruti keinginan kedua orang tuanya untuk meninggalkan Kakak sama Arsy."


"Apa ada yang masih perlu dijelaskan."


"Alfa nggak tau Kak, sekarang semua kembali sama kakak kalau memang Kakak masih ada rasa penasaran dan ingin mendengarkan penjelasan dia, Alfa nggak papa kalau Kakak mau ketemu sama Dia."


Amel, Mama Ani dan Anin mendengar Alfa bicara seperti itu merasa heran. Padahal dia yang selalu bersikeras untuk melarang kakaknya bertemu dengan mantan suaminya itu.


"Mas Alfa sudah melunak sepertinya." Anin tersenyum ke arah Alfa sambil bicara di dalam hati.


Amel nampak berpikir apakah dia harus menemui Indra atau tidak.


🌹🌹🌹🌹🌹


Bunganya yang banyak dong 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2