
Malam telah tiba dan Mama Rani serta Papa juga sudah pulang tadi sore karena Fajar di rumah sendiri, tadinya Anin meminta kedua orang tuanya itu untuk menginap tetapi nyatanya tidak bisa karena adiknya tidak ada temannya di rumah.
"Sayang kenapa."
Alfa yang keluar dari kamar mandi melihat muka istrinya agak sedih mendekatinya dan ikut bersandar di tempat tidur.
"Mas.."
Anin menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Hmm.. Kenapa istri ku."
Alfa mengusap kepalanya dan tangan yang satunya mengusap perut Anin yang masih rata.
"Anin udah kangen sama Mama lagi."
Alfa tersenyum dan mengecup pucuk kepalanya.
"Sayang mau ke rumah Mama."
Anin mengangkat kepalanya dan menengadah ke arah suaminya.
"Boleh nggak Mas."
"Boleh, tapi nanti ya kalau kamu udah sembuh terus badan kamu sudah mulai sehat lagi nanti kita ke rumah Mama."
Anin menganggukkan kepalanya, entah kenapa rasanya ingin selalu dekat Mamanya pengen dimanja.
"Tidur Sayang, kamu harus banyak istirahat sekarang."
"Iya Mas."
Alfa membantu Anin untuk merebahkan tubuhnya dan kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Mas.."
"Iya Sayang."
Alfa memiringkan tubuhnya menjadikan tangannya yang satu untuk bantalan Anin sedangkan yang satunya mengusap perut istrinya itu rasanya tak sabar menunggu perut Anin itu membesar.
"Mas dari kemarin kerja dari rumah, apa nggak papa Mas."
"Nggak papa Sayang, Mas mau jaga kamu dulu."
"Anin nggak papa Mas, di rumah juga ada Kak Amel dan Mama."
"Sudah sayang kita tidur ya."
Alfa mendekapnya dan mencium keningnya. Kemudian ponsel Alfa yang berada di atas nakas berbunyi.
"Ada telepon Mas."
"Iya Sayang, bentar ya."
__ADS_1
Alfa melepaskan pelukan di tubuh istrinya dan meraih ponselnya.
"Rina."
Ucap Alfa saat melihat nama sekretarisnya itu di layar ponselnya.
Anin yang tiduran di samping Alfa menatap arah suaminya itu yang sedang berbicara dengan Rina.
"Maaf Pak mengganggu, besok pagi ada jadwal ketemu dengan klien dan sudah saya kirim ke email untuk besok pagi."
"Oke makasih Rina, nanti kalau saya sudah longgar akan saya cek."
"Baik Pak, selamat malam."
"Malam."
Alfa meletakkan kembali ponselnya di nakas dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Anin sambil memeluk istrinya itu.
"Ada kerjaan Mas."
"Dikit Sayang nanti aja."
Katanya sambil menarik selimut kembali dan memeluk tubuh istrinya.
"Mas kalau mau lembur, Anin papa kok di sini sendiri nanti kalau ngantuk juga tidur sendiri."
"Udah Sayang, tidur aja yuk udah malam."
Alfa bukannya mengecek email malah memejamkan matanya sambil memeluk Anin dan mengusap perutnya.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, Alfa terbangun dan melihat istrinya yang sudah tidur lelap di dalam pelukannya.
Dia tersenyum lalu mencium keningnya dan juga mengusap perutnya.
"Sayang, sehat selalu di rahim Bunda ."
Lalu Alfa pelan-pelan melepaskan tangannya yang ditindih oleh Anin, Dia mau membuka email yang telah dikirimkan oleh sekretarisnya tadi.
Alfa beranjak menuju ke ruang kerjanya tetapi dia tidak menutup pintunya supaya bisa melihat Anin dari dalam.
Laptopnya ia buka lalu membaca file yang telah dikirimkan oleh Rina untuk bertemu dengan klien besok pagi.
Hingga tak terasa hari sudah berganti kini sudah di hari dan Jam sudah menunjukkan pukul dua malam.
"Alhamdulillah selesai."
Ucap Alfa setelah mengoreksi file tersebut dan mengirimnya kembali Rina supaya bisa dipersiapkan besok pagi.
Alfa mematikan laptopnya kemudian keluar dari ruang kerjanya, Dia menuju ke kamar mandi sebelum ikut merebahkan tubuhnya kembali di samping istrinya.
Senyum mengembang di bibir Alfa melihat istrinya yang tertidur lelap.
"I Love You Sayang."
__ADS_1
Alfa mencium keningnya dan Anin pun merasakannya dia membuka mata melihat suaminya yang tersenyum kearahnya.
"Mas... Kok nggak tidur."
Anin memiringkan tubuhnya memeluk perut Alfa.
"Kok miring Sayang, perutnya kalau kalau kena Mas gimana."
"Nggak papa Mas, Anin pegal rasanya terlentang terus."
"Ya udah tidur lagi yuk."
"Mas darimana."
Alfa memeluk istrinya dan tersenyum.
"Dari kamar mandi Sayang."
Alfa tidak bohong sih memang dari kamar mandi tetapi tadi sebelumnya dia kan habis lembur tanpa Anin tau.
"Mas habis lembur ya, belum tidur ya."
Anin menatap wajah suaminya yang terlihat mengantuk sekali.
"Buka email aja Sayang, udah tidur yuk masih malam."
"Maafin Anin ya Mas, gara - Anin sakit pekerjaan Mas jadi nggak selesai."
"Kamu ngomong apa sih Sayang, justru Mas yang minta maaf sama kamu waktu Mas habis hanya untuk bekerja tanpa memperhatikan kesehatan kamu."
"Anin nggak papa Mas, sekarang Anin udah sembuh."
"Justru sekarang mas harus lebih banyak meluangkan waktu sama kamu dan juga calon anak kita sayang."
Alfa mengusap perut Anin.
"Makasih Mas, kita besarkan anak - anak kita dengan kasih sayang."
"Iya Sayang, makasih sudah mengandung dan menjadi Bunda dari anak - anak Mas."
"Iya Mas, Anin seneng jadi Bunda."
Alfa mengecup kening Anin dan beralih ke seluruh wajahnya hingga bibir mereka saling bertaut.
"Maaf ya Sayang."
Alfa membuat Anin nafasnya naik turun.
"Mas mau ya."
"Nggak Sayang, ingat pesan Dokter."
Anin terkekeh sendiri, suaminya bisa bilang begitu tapi raut muka nya pengen banget.
__ADS_1
"Jangan gitu sayang, dosa menggoda suami."
"🤣🤣🤣🤣"