
Hari semakin sore Anin baru saja merasakan sakit yang luar biasa, Alfa selalu mendampinginya dengan mengusap punggung dan membacakan sholawat.
"Mas maafin Anin ya, sakit ya tangannya."
Begitu rasa sakitnya agak mereda Anin menatap Alfa yang juga merasakan sakit di tangannya karena cengkeraman tangan Anin.
"Nggak sakit kok Sayang, Kamu yang kuat ya Sayang demi anak kita."
Alfa mengusap kepala Anin dengan lembut, rasanya tak tega sekali melihat istrinya harus berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Alfa gimana Anin."
Mama Ani tadi keluar bersama Mama Rani untuk mencari makan malam karena Fajar dan Papa akan menyusul ke rumah sakit.
"Tadi sakit lagi Ma, kata Suster baru pembukaan empat. Masih lama ya Ma, kasihan Anin Ma."
"Anin nggak papa Mas."
Dia mencoba menenangkan suaminya, bahwa ini proses ya memang harus dijalani.
"Sayang, banyakin sholawat ya. Istighfar kamu pasti bisa."
Mama Rani di sebelah Anin dan mengusap kepalanya.
"Ma, maafin Anin ya selama ini banyak salah sama Mama.. Hiks...hiks..."
Anin menangis dan membuat Mama Rani juga ikut meneteskan kepalanya sambil mencium wajah putrinya.
"Kamu nggak punya salah Sayang, Mama doakan lancar dan segera melahirkan."
"Cucu Oma, berjuang sama Mama ya."
Mama Rani mengusap perut Anin dengan lembut.
"Aduh.. Mas... Sakit... Huh....huh...."
Anin mengatur nafasnya dan menggenggam erat tangan Alfa.
__ADS_1
"Istighfar Sayang."
Alfa ikut panik tetapi dia tetap berusaha untuk tenang.
"Mama panggil Dokter."
Mama Ani langsung keluar memanggil suster untuk mengecek keadaan Anin.
"Sayang, atur nafas. Istighfar Sayang."
Mama Rani juga selalu menuntun putrinya.
Dokter bersama suster masuk ke dalam ruangan lalu melakukan pemeriksaan.
"Sus, siapkan ruang bersalin sekarang."
"Baik Dok."
Suster dengan kecepatan langsung keluar dari ruangan untuk mempersiapkan ruang persalinan.
"Alhamdulillah, ini sudah pembukaan enam kita bawa ke dalam ruang bersalin." terang Dokter.
Ucap Anin sambil terus menggenggam tangan Alfa.
"Iya Sayang, Mas akan selalu menemani kamu."
Suster kembali ke dalam ruangan segera melakukan tindakan dengan membawa Anin ke ruang bersalin.
Mama Rani dan Mama Ani ikut berada di belakang, saat di belokan mereka berpapasan dengan Papa dan juga Fajar yang baru saja datang.
"Itu Kak Anin Pa."
"Papa, ayo Anin mau melahirkan."
Terima Mama Rani dan mereka semua mengikuti Anin yang didorong menuju ke ruang persalinan.
Anin merasakan perut semakin mulas dan kencang, kegenggaman tangan kepada Alfa semakin kencang membuat Alfa terus membaca doa di dalam hatinya untuk meminta keselamatan pada istri dan anaknya.
__ADS_1
"Kamu bisa Sayang, kamu kuat."
"Maaf Bapak harus berganti baju dulu setelah itu ikut masuk ke ruangan persalinan." Kata Suster.
"Baik Sus."
"Mas, jangan tinggalin Anin."
Genggaman tangan Anin tak ingin dilepas.
"Sayang, Mas tidak akan meninggalkan kamu. Mas hanya sebentar untuk ganti baju ya, jangan khawatir ya Sayang."
Alfa mengecup kening Anin dan dianggukan olehnya.
Alfa lalu mengikuti suster yang lainnya untuk segera membersihkan diri dan berganti dengan baju yang steril untuk menemani Anin melahirkan.
Mama Ani, Mama Rani, Papa dan juga Fajar hanya bisa menunggu di depan ruang persalinan. Tak lama Amel bersama Indra dan Arsy yang tadi sedang di rumah Indra sudah datang ke rumah sakit begitu mendapat kabar dari Mama Ani.
"Gimana Anin Ma."
"Baru masuk ke dalam Mel, doakan adik kamu."
"Iya Ma, Anin pasti bisa."
Kata Amel dengan mata nanar menatap ke pintu persalinan yang ada di depannya.
"Ma.. Bunda Dimana."
Celoteh Arsy, karena tadi kata Amel mereka mau menjenguk Bunda.
"Bunda ada di dalam sayang sama Papa Alfa, nanti Bunda punya adik bayi." Kata Amel sambil mengusap pipi Arsy yang duduk di pangkuan Papa Indra.
"Yeay... Arsy punya adik bayi ya Ma."
"Iya Sayang."
Indra tersenyum menatap ke arah Amel.
__ADS_1
🙂🙂🙂🙂🙂