
Alfa menghentikan mobilnya di depan UGD, lalu Dia turun dari dalam mobil dan berputar membuka pintu mobil sebelah.
Tanpa bicara Alfa langsung meraih tubuh Anin dan menggendongnya masuk ke dalam UGD.
Anin hanya diam saja kalau dia berontak malah malu dilihatin banyak orang.
"Sus, cepat tangani kakinya."
Alfa meletakan Anin di atas brankar di dalam ruang UGD.
"Iya Pak, kami akan segera menanganinya tapi mohon maaf Bapak haris keluar dahulu dari ruangan ini."
"Tapi Sus, Dia tanggungjawab Saya."
"Kami paham Pak, kami akan memberikan pelayanan yang terbaik. Jadi mohon maaf Bapak harus mengikuti prosedur untuk menunggu di luar."
Alfa akhirnya keluar juga dari UGD dan menunggu di ruang tunggu.
Tak lama Dia dipanggil kembali oleh suster dan masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaannya Dok."
"Ibunya mengalami cedera otot dikarenakan sebelumnya sudah cidera dikakinya jadi sekarang menjadi lebih sedikit serius dan membutuhkan penanganan lebih." Jelas Dokter.
"Berikan pengobatan terbaik Dok."
"Pasti Pak kami memberikan pengobatan yang terbaik."
"Apakah perlu dirawat Dok."
"Tidak perlu, bisa rawat jalan saja."
Anin sedang diperban di kakinya setelah mendapatkan perawatan dari dokter.
Alfa melihat Anin merasa kasihan kemudian dia mendekatinya.
"Anin, pinjam ponsel kamu."
"Buat apa Pak."
"Saya harus menghubungi orang tua kamu untuk memberi kabar keadaan kamu."
Anin menatap Alfa yang sama-sama menatap dirinya.
"Jangan Pak, kasihan Mama Saya ya di rumah sendiri sama adik, Papa pasti belum pulang nanti Mama malah kaget nanti."
"Tapi Anin.."
"Pak, tolong jangan telepon Mama Saya. Kita bisa pulang kan Pak."
Alfa menganggukan kepalanya sambil tersenyum kemudian segera menyelesaikan administrasi Anin untuk segera membawanya pulang.
Anin di dorong Alfa menggunakan kursi roda menuju ke mobil.
"Nggak papa kan Saya gendong kamu, Saya peduli sama kamu jangan berfikir yang lain."
Alfa kali ini meminta ijin sebelum membopong Anin ke dalam mobil.
__ADS_1
Anin hanya menganggukkan kepalanya karena dia merasa butuh dan tak mungkin juga dia bicara sendiri untuk naik ke atas mobil.
Alfa mengangkat tubuh Anin dan mendudukkannya di sebelah kemudi kemudian berputar dan mulai menjalankan mobilnya.
" Kamu tidak usah masuk kerja dulu nanti masalah ijin biar saya yang urus."
"Jangan Pak, nanti saya sendiri yang urus ke Bu Rita."
Anin menolaknya karena dia tidak mau teman-temannya berpikiran lain sebenarnya ada kedekatan apa antara dirinya dan Bosnya itu.
"Kenapa."
"Saya bisa sendiri Pak."
" Kamu begini karena saya Anin."
"Bukan Pak, saya begini karena kesalahan saya sendiri."
"Anin, kenapa kamu selalu menolak kebaikan saya."
"Maaf Pak."
Hanya itu yang diucapkan oleh Anin dan Dia memilih untuk diam daripada berdebat.
Tak lama mereka telah sampai di rumah, Mamanya Anin tah menunggu di teras dia sangat cemas dengan putrinya yang belum kunjung pulang, ponselnya di hubungi juga tidak di jawab.
Begitu melihat sebuah mobil datang Mama Rani langsung berdiri menuju ke gerbang.
"Ini mobil Alfa kan."
Mama Rani mendekat.
Mama Rani melihat Alfa yang turun dari mobil kemudian mencium punggung tangan Mama Rani.
"Anin mana."
"Sebentar Bu, Ibu di sini saja."
Alfa berputar dan mengeluarkan kursi roda, kemudian membuka pintu mobil dan membopong Anin dan mendudukkannya di kursi roda.
"Anin..."
Mama Rani mendekati Anin yang di perban kakinya dan duduk di kursi roda.
"Mama."
"Kamu kenapa Sayang."
"Kita masuk dulu Bu, nanti Alfa jelaskan."
Alfa mendorong kursi roda Anin masuk ke dalam rumah dan diikuti Mama Rani.
"Kak, kenapa."
Fajar yang berada di teras kaget melihat Anin di kursi roda.
"Nggak papa, Fajar bawa Kakak masuk." pinta Anin.
__ADS_1
"Iya Kak."
Fajar beralih ke bagian belakang kursi roda Anin dan meminta ijin ke Alfa.
"Maaf ya Kak, biar Fajar ganti."
Alfa tersenyum dan membiarkan Fajar membawa Anin masuk ke dalam.
"Alfa duduk dulu, sebenarnya kenapa Anin."
"Iya Bu."
Alfa duduk diruang tamu namun Anin masuk ke dalam bersama Fajar, dan Alfa hanya memandangnya.
"Biarkan Anin istirahat dulu Alfa."
Alfa menganggukkan kepalanya kemudian menceritakan semuanya kepada Mama Rani.
"Anin memang keras anaknya, tapi bukan seseorang yang pembangkang. Dia anaknya penurut cuma keras kalau punya kemauan." Jelas Mama Rani.
"Bu, saya minta maaf. Saya janji akan bertanggungjawab sampai Anin sembuh."
"Makasih Alfa, tapi kami tidak meminta kamu untuk bertanggungjawab itu salah Anin sendiri."
"Tidak Bu, saya akan tetap bertanggungjawab Bu."
"Makasih Alfa."
Kemudian Alfa pamit dari rumah Anin untuk pulang ke rumah tanpa bertemu Anin lagi.
Setelah mengantar Alfa ke depan, Mama Rani menemui Anin di kamar.
"Sayang, kamu nggak papa kan."
Terlihat mata Anin memerah habis menangis.
"Nggak papa Ma."
"Kenapa nangis."
"Anin salah ya Ma, bersikap begitu."
"Sayang apa kamu nggak rasa, kayaknya Alfa menaruh hati sama kamu."
Firasat seorang Mama.
"Anin nggak tau Ma. Anin mau mandi ya Ma."
"Mama bantu ya, kakinya jangan sampai basah ya."
"Iya Ma."
🌹🌹🌹🌹🌹
Alfa pulang ke rumah dengan perasaan yang belum lega.
"Anin.. Anin.. Ada cewek kayak kamu. Bikin aku jadi tambah penasaran."
__ADS_1
☺☺☺☺☺