KOPI CINTA

KOPI CINTA
42


__ADS_3

Anin kembali ke kantor bersama Alfa tapi masih ada yang mengganjal pikirannya.


"Kamu mikirin apa."


Alfa melirik ke arah Anin yang seperti memikirkan sesuatu.


"Mas, Anin boleh tanya."


Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Papanya Arsy kemana."


Alfa menghembuskan nafasnya.


"Papanya sudah pergi saat Dia masih kecil, meninggalkan dia dan juga Kak Amel maka sejak itu Arsy kita yang urus sampai dia menganggap aku lah Papanya."


Alfa bercerita sesekali melirik ke Anin yang antusias mendengarkan.


"Kasihan Arsy ya Mas."


"Kamu Sayang sama dia."


Anin menganggukkan kepalanya.


"Aku suka sama anak kecil Mas, lucu bisa diajak main."


"Calon ibu idaman."


Blushh...


Muka Anin memerah mendengar pujian dari Alfa.


"Mas, Anin turun depan aja ya. Nanti ke kantornya jalan kaki aja."


Alfa langsung menatap Alfa dengan muka kesal.


"Nggak ada Anin, kalau kamu kenapa - napa gimana."


"Mas nggak usah khawatir Anin bisa."


"Nggak ada, turun sama Mas di lobi." Alfa berkata tegas ke Anin.


"Tapi Mas.."


"Anin.. Nggak ada acara turun di depan."


Anin kembali diam harus menyiapkan mental dan juga telinganya menghadapi hujatan dari karyawan lain yang tak suka karena kedekatan mereka.


Sesampainya di lobi dan mobil itu berhenti dengan sempurna Anin langsung membuka pintu dan berniat meninggalkan Alfa.


"Anin.."


"Duluan ya Mas."


Kata Anin sambil berjalan meninggalkan Alfa yang memandangnya dari dalam mobil.


"Ini cewek tadi kan, berani ya dia." Udah satu yang berbisik-bisik begitu Anin lewat di hadapan mereka.


"Ini cewek yang digandeng sama Pak Alfa tadi, cantik kan juga aku." Ada lagi dan Anin jelas mendengar itu saat berjalan menuju ke ruangannya.


"Pakai ajian apa dia, bisa gandeng Pak GM." Tambah lagi yang makin pedas.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Jawab Miss Salsa dan Kak Rio yang ada di ruangan itu sambil terus menatap Anin yang cuman menunduk saja dan kemudian duduk di kursinya.


"Rio.. Ada barusan kencan nih."


Sindir Miss Salsa, niatnya dia mau bercanda saja tapi karena Anin sudah termakan omongan orang dia jadi mewek.


"Hiks..hiks...."


Terdengar tangis Anin yang menundukkan kepalanya di meja.


"Aduh.. Nangis dia Miss, wah bahaya bisa dipanggil sama Pak GM kita ini." Rio menakut-nakuti Miss Salsa yang langsung berdiri dan mendekati Anin.


"Anin, Maafin aku ya, aku cuman bercanda tadi. Kok malah nangis sih, Anin.."

__ADS_1


Miss Salsa mengusap punggung Anin.


"Nggak Miss, aku cuma mau nangis aja." Anin masih dengan muka tertunduk ke bawah.


"Maaf Anin."


Anin mengangkat kepalanya kemudian mengambil tisu dan mengelap mukanya.


"Nggak papa Miss, Anin nangis bukan karena Miss Salsa."


"Terus kenapa, Kamu berantem sama Pak Alfa."


"Nggak.." Anin menggelengkan kepalanya.


"Terus."


" Kenapa mereka kalau bicara tidak dipikir dulu sih, Anin juga punya perasaan Miss."


"Siapa Nin."


"Itu mereka yang tadi lihat Anin digandeng sama Mas Alfa."


"Udah biarin aja Mereka sirik tau karena kamu yang di pilih sama Pak Alfa. Eh.. Tunggu deh udah Mas manggilnya."


Anin menganggukkan kepalanya saja dan masih mengusap wajahnya.


"Kalian udah serius ya Nin."


"Doakan saja Miss."


"Aku ikut seneng Anin, wah nanti kalau kamu nikah sama Pak Alfa bakalan ada yang patah hati."


Kata Miss Salsa sambil melirik ke arah Rio yang menatapnya tajam.


"Siapa Miss.."


"Itu.."


Miss Salsa memberi kode dengan lirikan matanya.


"Kak Rio."


"Iya, masa kamu nggak kerasa sih Nin, Dia kan suka sama sejak lihat kamu datang ke sini."


"Ini anak dikasih tahu malah nggak percaya."


"Bohong Dia Nin." Sangkal Rio yang sudah menyerah duluan karena melihat mobil Alfa di rumah Anin.


"Ngeles kamu Rio."


"Udah ah, Anin mau kerja lagi."


Mereka sibuk kembali dengan pekerjaan masing-masing hingga waktunya pulang pun tiba.


"Anin bareng sama Pak Alfa."


"Nggak Miss mau pulang sendiri, Dia nggak kirim pesan kok."


Kata Anin sambil membereskan mejanya untuk segera pulang.


"Yuk pulang."


Mereka berdua meninggalkan ruangan untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di lobi Anin dihampiri oleh pak Agus.


"Mbak Anin."


"Eh.. Iya Pak Agus ada apa."


"Sudah ditunggu Pak Alfa, silahkan Mbak Anin langsung masuk ke mobil saja Pak Alfa sudah di dalam."


Anin melongo, sedangkan Miss Salsa kembali menggodanya.


"Ciye.. Nggak di kirim pesan, tapi itu sudah ditunggu di mobil. Buruan sana." Miss Salsa mendorong Anin pelan.


"Mari Mbak, sudah di tunggu Pak Alfa." Pak Agus mengantar Anin ke mobil Alfa dan kemudian membukakan pintunya.


Anin melihat Alfa yang sudah melepas jasnya dan sedikit melonggarkan dasinya, sambil tersenyum memandang dirinya.

__ADS_1


"Silahkan Mbak."


"Makasih Pak."


"Lama banget, ngapain."


Alfa berniat menggoda Anin tapi malah tanggapannya beda.


"Kalau lama nggak di tinggal aja, Anin bisa pulang sendiri."


Anin dengan muka di tekuk.


Alfa menghela nafas saja, tapi aslinya dia sudah gemas dengan Anin.


"Sabar Alfa." Dalam hatinya.


"Iya maaf, kita pulang ya."


Anin menganggukkan kepalanya sambil mengenakan sabuk pengamannya.


"Tumben nggak ngegas."


Dalam hati Anin.


Alfa mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kantor, Mereka masih saling terdiam tapi akhirnya Anin berbicara.


"Mas, besok nggak usah jemput Anin ya, nggak usah ngantar pulang juga Anin bisa kok sendiri."


"Kenapa."


Alfa menatap ke arah Anin.


"Nggak papa, Anin cuma nggak mau bergantung aja dengan mas Alfa. Anin bisa sendiri."


"Kamu kenapa sih Anin, tadi baik-baik aja pulang dari restoran sekarang kamu kayak gini lagi."


Anin terdiam, dia ingin mengatakan kalau dia tertekan tapi masih dia tahan.


"Anin, kenapa ada yang bicara sesuatu dengan kamu."


Anin menggeleng saja.


"Anin cerita sama Mas."


"Rasanya nggak baik aja Mas, kita selalu bareng. Anin mohon sama Mas Alfa, kita jangan memperlihatkan kebersamaan kita di kantor."


"Aku nggak bisa Nin, gimana aku mau buktiin kalau aku sayang sama kamu."


"Masih ada cara lain Mas, dengan Mas memenuhi permintaan Anin sudah bisa membuat Anin yakin jika Mas Alfa memang sayang sama Anin."


"Oke kita coba, tapi kalau Mas enggak bisa jauh dari kamu. Kamu jangan melarangnya lagi."


Ucap Alfa sambil menatap Anin yang terdiam namun menganggukkan kepalanya.


"Tapi ada syaratnya."


Anin langsung menoleh.


"Syarat lagi "


Alfa tersenyum menang.


"Mau nggak, Kalau nggak mau ya udah besok Mas bakalan setiap pagi di rumah mu."


"Oke, apa."


"Besok kan weekend, Mas akan jemput kamu dan kenalin sama Mama."


Anin menatap tajam Alfa.


"Dosa Anin, menatap calon suami kayak gitu." Kata Alfa sambil terkekeh.


"Ihh... Boleh nggak aku cubit."


Anin merasa selalu kalah dari Alfa.


"Ini mau cubit mana, tapi ada hukuman setelah itu."


"Tau ah..."

__ADS_1


Anin langsung cemberut dan menekuk mukanya dan membuat Alfa terkekeh.


🤣🤣🤣🤣


__ADS_2