
"Silahkan."
Anin meletakan secangkir kopi di hadapan Alfa.
"Makasih."
Ucapnya sambil tersenyum ke Anin.
Mereka sarapan bersama setelah selesai Fajar pamit berangkat kemudian Papa juga.
"Papa berangkat ya."
Mama mengantar Papa ke depan.
"Pa, Anin ikut Papa."
Ucap Anin, karena Alfa sejak tadi juga tidak bilang tujuan dia datang ke sana pagi-pagi.
Alfa kaget, Anin malah minta bareng Papanya Padahal dia sudah susah payah pagi-pagi berangkat ke rumahnya.
"Anin gimana sih, itu sudah di jemput Alfa, Dia sudah ijin sama Papa tadi." Ucap Papanya.
Anin melirik ke Alfa yang duduk di kursi ternyata Alfa tadi sudah mengirimkan pesan ke Papanya Anin untuk menjemput anak gadisnya.
Alfa tersenyum saja dan mereka masih berada di meja makan sedangkan Mama mengantar Papa ke depan.
"Kita berangkat sekarang."
Ucap Alfa.
"Mas ngapain repot - repot jemput Anin."
"Aku mau berangkat ke kantor sama kamu."
"Apa kata karyawan yang lain nanti Mas, kalau melihat kita bersama."
" Kamu tidak usah mendengarkan mereka."
"Anin nggak bisa Mas."
Anin membayangkan dirinya turun dari mobil Alfa dengan ditatap oleh semua karyawan yang ada di sana, belum lagi kalau Siska melihat dia bisa ditampar.
"Lho... Udah siang Anin nanti telat." Mama Rina masuk habis mengantar Papa ke depan.
"Iya Ma, Anin pamit."
Anin dengan lemas berdiri dan meraih tangan Mamanya dan mencium punggung tangannya.
"Alfa pamit Ma."
Alfa meraih tangan Mama Rina dan mencium punggung tangannya.
"Hati - hati ya Fa, bawa mobilnya." pesan Mama Rina.
"Iya Ma, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alfa ke depan mengikuti Anin yang sudah duluan di teras.
"Ayo kita berangkat nanti telat."
Anin berhenti di teras melihat ke arah mobil Alfa.
"Tenang aja, aku bawa sedan Kak Amel jadi nggak susah buat kamu naik."
Anin berjalan masih dengan kaki yang sempoyongan dan Alfa sigap berada di sampingnya.
"Kenapa nggak dari kemarin bawa sedan aja."
Protes Anin, dia harus melewati drama digendong Alfa jika menggunakan mobil Alfa yang tinggi itu.
"Biar ada romantis juga lah."
__ADS_1
Canda Alfa dan Anin langsung menatapnya dengan melotot.
"Bercanda, gitu aja marah. Pagi-pagi nggak boleh cemberut."
Alfa membukakan pintu mobil untuk Anin.
"Makasih."
Anin duduk di samping Kemudian Kemudian apapun berputar dan duduk di jog belakang kemudi.
"Di pakai seat belt nya."
Anin meraih sabuk pengamannya dan memasangkannya ke badan.
Alfa mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan rumah kedua orang tua Anin menuju ke kantor.
"Mas."
Anin mulai bicara setelah mereka saling diam.
"Iya."
Jawab Alfa sambil melirik ke arah Anin.
"Nanti Anin turun di jalan aja ya, atau di halte nggak papa biar ke kantornya naik ojek aja."
Alfa memandang Anin sekilas sambil mengerutkan dahinya.
"Kenapa."
" Anin nggak siap Mas, turun di depan kantor dilihat karyawan yang lain. Apalagi kalau sampai Bu siska lihat Anin mungkin bisa ditampar di tempat."
Anin menekan kata ditampar.
"Kok bisa, kenapa."
"Mas Alfa, Anin Ini siapa kok berani - beraninya turun dari mobil Pak GM, berangkat bareng lagi mau cari masalah."
Anin menatap ke arah Alfa yang PD banget.
"Mas, Anin belum siap jangan paksa Anin untuk tampil di depan umum bersama Mas Alfa. Anin takut Mas."
"Kamu hanya perlu selalu berada di samping aku Anin, nggak akan ada yang berani mengganggu kamu."
"Mas, please.. Ngertiin Anin dong."
Alfa menghembuskan nafasnya sebenarnya dia paham bagaimana maksud Anin tapi Alfa juga ingin orang-orang tahu kalau dia sudah punya gandengan.
"Oke, kali ini mas akan kabulkan permintaan kamu. Tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya."
"Nanti makan siang sama Mas."
Anin melongo, gimana urusannya jadi makan siang bersama. Malah tambah masalah gimana caranya nanti Anin keluar.
"Mas.. Sama aja dong Anin cari masalah."
" Anin... Mau nggak."
Anin berfikir, lebih ngeri mana turun di lobby dari mobil Pak GM atau keluar makan siang bersama Pak GM.
"Oke."
Alfa tersenyum senang sedangkan Anin doa semoga nanti siang Alfa ada meeting.
"Semoga nggak jadi nanti siang."
"Jangan berdoa yang aneh-aneh, berdoa nggak jadi ya nanti siang."
Anin menatap Alfa dengan mengerucutkan bibirnya.
" Jadi gemes aku kalau lihat kamu kayak gitu."
__ADS_1
Anin langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela samping.
Sampai lah di halte yang terdekat dengan kantor Anin meminta turun di sana Alfa pun mengiyakannya.
Tapi Alfa tidak langsung meninggalkannya dia menunggu Anin sampai mendapatkan ojek online dan mengikutinya dari belakang.
"Kenapa begini sih Anin."
Katanya di dalam mobil.
Sesampainya di lobby kantor Anin turun dari ojek dan berpapasan dengan Miss Salsa dan tak begitu lama Alfa pun sampai dan memberikan kunci mobilnya kepada Pak Agus.
"Kamu bareng Pak Alfa."
Miss Salsa melihat mobil Alfa datang.
"Nggak."
Anin menarik Miss Salsa untuk masuk ke lift.
Anin sudah sampai di ruangannya dan mulai mengecek berkas yang ada di mejanya.
Waktu istirahat pun tiba, Anin melihat ponselnya dia berharap Alfa tidak jadi mengajaknya makan siang karena kesibukannya.
"Nin, yuk ke kantin."
"Hemmm.. Bentar Miss."
Miss Salsa curiga dan mendekati Anin.
"Janjian ya sama Pak GM."
"Apaan Miss."
"Dia meeting, Bu Rita juga belum balik itu."
Anin langsung terbelalak matanya.
"Apa iya Miss."
"Hmmm... Jadi benar ya kamu janjian sama Pak GM."
"Jangan keras - keras Miss."
"Ha ha ha..."
"Ayo ikut ke kantin nggak."
"He he he... Lapar juga."
Mereka berdua keluar dari ruangan ingin menuju ke kantin.
Anin merasa senang sekali tidak jadi makan siang bersama Alfa.
Saat akan masuk ke lift, terdengar suara yang memanggilnya.
"Anin.."
Anin menoleh ke belakang dan Alfa sudah berdiri di pintu baru saja keluar dari ruang meeting.
"Aduh, Miss."
Anin menepuk jidatnya.
"Aku nggak ikut - ikut ya."
Anin terdiam melihat Alfa menghampirinya.
"Ayo..."
Alfa meraih tangannya dan menggenggamnya kemudian menarik tangan Anin untuk mengikutinya.
😱😱😱😱😱
__ADS_1