
"Calon bayinya sehat, tapi Ibu Anin harus banyak istirahat jangan terlalu capek dan perhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh ibu karena sekarang ibu tidak mengkonsumsi makanan untuk diri Ibu sendiri tetapi juga calon anak ibu yang ada di dalam kandung." Jelas Dokter.
"Baik Dok."
"Di sini peran suami juga sangat besar, Bapak harus selalu mendampingi istrinya dalam melewati masa-masa kehamilan ini." Saran Dokter untuk Alfa.
"Pasti Dok, Saya akan menjadi suami siaga." Kata Alfa sambil tersenyum ke arah Anin dan menggenggam tangannya.
"Baik, kalau begitu saya akan berikan vitamin untum Ibu Anin."
Mereka berdua sangat senang sekali setelah melihat hasil pemeriksaan, usia kandungan masih dua bulan tetapi baik Anin maupun Alfa sudah sangat antusias sekali menanti kehadiran buah hati mereka.
Alfa menggenggam tangan Anin dan membawanya keluar dari rumah sakit maju ke parkiran.
"Sayang capek nggak, kalau capek Mas entar pulang saja enggak usah ikut ke kantor." Tanya Alfa saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Nggak Mas, Anin nggak papa nanti kan bisa istirahat di ruangan Mas."
"Oke, kita jalan Sayang."
Alfa melajukan mobilnya untuk menuju ke kantor, tak butuh waktu lama mobilnya sudah berhenti di depan lobby.
Alfa turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Alfa memberikan kunci mobilnya kepada Pak Agus yang berjaga pagi itu.
"Siang Pak."
Sapa Pak Agus yang tersenyum ramah kepada Alfa dan Anin.
"Siang Pak Agus." jawab Alfa dan Anin.
"Pak Agus gimana kabarnya." Tanya Anin karena dia juga jarang ikut ke kantor baru dua kali ini selama menikah dengan Alfa.
" Alhamdulillah sehat Bu Anin."
"Syukur Pak, Alhamdulillah."
Walaupun Anin sekarang sudah menjadi istri bos Dia tetap ramah dengan siapapun.
"Ayo Sayang."
Alfa menggenggam tangan Anin masuk ke dalam dan setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat dengan atasan.
Alfa menekan tombol lift membawa istrinya menuju ke ruangannya. Di depan ruangan sudah nampak Rina yang tersenyum menyambut kedatangan bosnya.
__ADS_1
"Siang Pak, Bu."
"Siang Rina, sudah kamu siapkan semuanya."
"Sudah Pak, Saya letakan di meja Pak Alfa."
"Oke makasih, Saya mau membacanya dulu setengah jam lagi siapkan meeting."
"Baik Pak."
Alfa membawa Anin masuk dan Anin pun tersenyum ramah kepada Rina.
"Mari Mbak Rina."
"Silahkan Bu Anin."
Alfa mengajak istrinya duduk di sofa untuk beristirahat.
"Sayang, mau minum." Tanya Alfa.
"Anin ambil sendiri Mas, Mas mau minum apa."
"Kamu duduk aja di sini, Mas yang ambil."
Alfa beranjak mengambilkan minum untuk Anin. Saat mereka sedang menikmati minumannya tiba-tiba pintu ruangan diketuk.
"Maaf Pak, ada Bu Siska mau ketemu Bapak."
Anin seketika menatap ke arah Alfa, Siska sekarang jabatannya diturunkan hanya menjadi Kepala Divisi.
"Silahkan masuk, bentar ya Sayang."
Anin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian Alfa berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk di sana. Anin tau ini semua profesionalitas kerja suaminya yang harus masih berhubungan dengan Siska.
Siska masuk dan dengan penampilannya yang seksi dia duduk di depan Alfa setelah melirik ke arah Anin yang memasang muka tersenyum.
"Ada apa Bu Siska."
"Saya mau minta tolong ke Pak Alfa untuk berbicara dengan direksi jika saya bisa kembali lagi ke jabatan saya yang semula."
Siska duduk dengan menyilang kan kakinya terlihat itu paha. Anin melihat itu rasanya mau menegurnya tapi dia diam dulu.
"Saya tidak bisa Bu, karena saya belum bisa melihat perubahan dari sifat ibu Siska."
"Saya sudah berubah Pak."
__ADS_1
Siska memajukan posisi duduknya nampak jelas seperti merayu tapi Alfa pun tidak menggubrisnya dia membuka file yang ada di depannya tanpa memandang Siska malah Anin yang semakin tak suka saja.
"Pak tolong."
Siska akan meraih tangan Alfa untung saja Alfa sadar dan langsung menarik tangannya.
"Jaga sikap Bu Siska, belum sadar juga Bu Siska mau saya pindah ke cabang saja." Bentak Alfa.
Anin hanya tersenyum saja melihat sikap suaminya yang selalu menjaga dirinya dari perempuan lain yang suka menggodanya.
"Tapi Pak."
"Silahkan Bu Siska keluar dan perbaiki sikap Bu Siska."
Siska pun terlihat menahan marahnya namun dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia melawan Alfa akan semakin bertindak tegas membuangnya dari kantor itu.
Siska berjalan keluar dan menatap ke arah Anin yang juga menatapnya sambil mengusap perutnya kemudian pergi meninggalkan ruangan Alfa.
"Sayang."
Alfa mendekati istrinya dan duduk di sampingnya.
"Iya Mas."
"Kenapa perutnya."
Anin tersenyum.
"Amit - amit Mas, jabang bayi."
"Jangan di batin Sayang."
"Nggak lah Mas, amit - amit jangan kayak gitu Sayang." Anin mengusap - usap perutnya.
"Mas meeting dulu ya, kamu tunggu di sini kalau lapar bisa pesan makan Mas nggak lama."
"Iya Mas, Anin mau chat sama temen Anin ya nanti istirahat kita ketemu di cafetaria."
"Iya Sayang, istirahat di dalam ya kalau capek." Alfa mengecup kening Anin.
"Iya Mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Alfa keluar dan kemudian menuju ruang meeting bersama Rina.
☺☺☺☺☺