
"Mas berangkat ya Sayang."
Alfa mengecup kening sang istri yang mengantarnya sampai ke teras bersama dengan Arsy.
"Hati - hati Mas."
Anin meraih tangan Alfa dan mencium punggung tangannya.
"Iya Sayang,."
"Papa berangkat ya sayang."
Alfa juga mencium kening Arsy setelah keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu mencium punggung tangannya.
"Iya Pa, hati-hati Papa."
Alfa mengusap - usap kepala Arsy yang lalu melambaikan tangannya berjalan menuju ke mobil.
Anin dan Arsy melambaikan tangannya hingga mobil Alfa tak terlihat lagi meninggalkan rumah.
Mereka berdua masuk ke dalam dan bergabung bersama Mama Ani dan juga Amel di ruang keluarga.
"Alfa, sudah berangkat Anin."
Tanya Mama Ani.
"Sudah Ma."
Anin duduk di sebelah Mama mertuanya, yang kemudian mengusap perut Anin yang semakin membesar.
"Kapan jadwal periksanya lagi Anin."
"Minggu depan Ma."
"Nanti Mama ikut ya, kata kamu kan mau mengetahui jenis kelaminnya Mama jadi ikut penasaran."
"Iya Ma."
Kata Anin sambil tersenyum.
"Arsy ikut Bunda."
Anin tersenyum sambil mengusap kepala Arsy.
__ADS_1
"Iya Sayang, nanti bilang ke Papa ya."
"Yeay..."
Soraknya sambil lompat-lompat saking senangnya.
Lalu terdengar ponsel Amel yang berdering ada seseorang yang menghubunginya.
Anin dan Mama Ani menatap ke arah Amel yang sepertinya ragu untuk menjawab panggilan di ponselnya.
"Kenapa nggak diangkat Mel."
Tanya Mama Ani.
"Nggak penting Ma."
Sangkal Amel sebenarnya di dalam hatinya juga ingin menjawab panggilan itu.
"Dari siapa."
Mama Ani malah semakin curiga siapa sih yang menelepon Amel sedangkan Anin juga hanya menatap ke arah kakak iparnya itu.
"Nggak siapa - siapa Ma."
"Indra?."
Celetuk Mama Ani yang seketika membuat Amel kaget menatap ke arah Mamanya.
Amel lalu membuang mukanya melihat ke arah Arsy yang mulai mengambil alat-alat gambarnya.
"Iya." Jawabnya singkat.
Mama Ani kembali fokus ke arah televisi dia juga tidak mau memberikan komentar kepada Amel.
Tak berapa lama ponsel milik Amel berbunyi kembali dan orang yang sama menghubunginya lagi.
Lagi - lagi Mama Ani menatap ke arah ponsel Amel yang tergeletak di atas meja. Anin yang asyik dengan Arsy tidak berkomentar tapi ikut menatap ke arah Amel yang terlihat langsung mengambil ponselnya lagi.
"Jawab aja." Ucap Mama Ani yang sebenarnya terganggu dengan bunyi dering ponsel Amel yang berbunyi lagi dan lagi.
Amel menghela nafas.
"Heh....."
__ADS_1
Lalu dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum."
Ucap Amel.
"Waalaikumsalam."
Terdengar jawaban dari seberang telepon yang sepertinya sudah sangat ingin berbicara.
"Ada apa."
Tanya Amel dengan nada sedikit ragu.
"Arsy di rumah ?."
"Iya."
"Boleh datang ya."
Tanya Indra dan dia sangat berharap diizinkan untuk bisa datang ke rumah.
Amel menatap ke arah Mamanya.
"Kenapa." Tanya Mama Ani.
"Mas Indra mau ketemu dengan Arsy Ma." ucap Amel ragu takut kalau Mamanya marah lagi.
"Mau ketemu Arsy atau mau ketemu sama kamu."
Sengaja Mama Ani mengeraskan suaranya agar Indra mendengarnya di seberang telepon sana.
Amel diam saja, dia memastikan jika Indra mendengar ucapan Mamanya.
"Amel, boleh aku bicara dengan Mama."
Indra memang jelas mendengar jika Mama Ani berbicara seperti itu.
Amel meletakkan ponselnya di atas meja dan di loud speaker olehnya.
"Iya." Kata Amel.
"Assalamualaikum Ma."
__ADS_1
Ucap Indra.