
Dua hari sudah Anin di rumah, ada rasa bosan juga hanya diam di dalam kamar dan melihat televisi kalau nggak main ponsel.
Anin dapat cuti tiga hari dari dokter dan sudah disampaikan ke perusahaan beserta hasil pemeriksaannya.
Anin sudah sedikit-sedikit berlatih berjalan agar kakinya tidak terasa kaku untuk melemaskan otot - ototnya.
Pagi ini Anin berlatih berjalan di depan rumahnya sambil menghirup udara segar di pagi hari.
"Sayang jangan dipaksa ya, semampunya kamu aja dulu. Mama tinggal ya mau siapin sarapan."
"Iya Ma, ini ada Fajar disini."
"Tenang Ma, aman."
Teriak Fajar yang sedang mencuci sepeda motornya.
Anin berjalan ke kanan - kiri untuk melemaskan otot-otot kakinya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di rumah Alfa sedang joging untuk menyegarkan badannya di pagi hari dengan berkeliling kompleks perumahannya.
Setelah merasa hari makin siang apa pun pulang ke rumahnya untuk bersiap berangkat bekerja.
"Sarapan Alfa, sudah siang baru pulang."
Tanya Mamanya.
"Iya Ma, keasyikan. Alfa ke kamar dulu ya Ma mau mandi dan bersiap baru nanti turun untuk sarapan."
"Iya cepat ya Sayang."
"Iya Ma."
Alfa bergegas mandi dan bersiap karena sudah ditunggu oleh Mama dan juga kakaknya untuk sarapan bersama.
"Papa, lama.."
Arsy sudah protes karena sudah merasakan perutnya keroncongan.
"Maaf ya Sayang."
Alfa mengusap kepala Arsy yang memajukan mulutnya.
Mereka sarapan bersama dengan menu yang sudah tersedia di meja spesial langsung Mama Ana yang memasaknya.
"Alfa berangkat ya Ma."
Alfa meraih tangan Mamanya dan mencium punggung tangannya.
"Iya Sayang, hati - hati. Ingat jangan pernah meninggalkan sholat ya Sayang sesibuk apapun kamu kerja."
Pesan Mamanya.
__ADS_1
"Iya Ma."
"Sayang Papa berangkat ya."
Arsy mencium punggung tangan Alfa dan diapun memberikan kecupan manis di kening putri kecilnya itu.
"Ya Pa."
"Kak, Alfa berangkat."
"Iya Fa, hati - hati."
Alfa menujub ke mobilnya dan kemudian melanjutkannya ke arah kantor.
"Kenapa Sayang."
Mama Ana melihat Amel melamun melihat mobil Alfa pergi meninggalkan rumah mereka.
"Amel kasihan Ma sama Alfa, harus menanggung hidup kita sekeluarga."
"Doakan adik kamu selalu diberi kemudahan mencari rezeki dan selalu doakan dia agar selamat dan selalu diberi kesehatan."
"Iya Ma, Amel selalu mendoakan Alfa yang terbaik. Tapi Ma, Amel khawatir usia Alfa semakin bertambah kenapa dia belum juga memikirkan untuk menikah Ma. Amel takut karena kita dia enggak menikah Ma."
"Husst.. Jangan berpikir seperti itu doakan Adik kamu mendapatkan jodoh yang terbaik."
"Iya Ma, semoga ada perempuan yang tulus mencintai Alfa tanpa melihat apapun yang dia miliki saat ini."
Mama Ana mendorong kursi roda Amel untuk masuk ke dalam rumah.
Alfa telah sampai di kantornya setelah memberikan kunci mobilnya kepada satpam dia langsung menuju ke ruangannya.
Rina telah berdiri sampai tersenyum menyambut kedatangan Bosnya itu.
"Pagi Pak Alfa."
"Pagi Rina, hari ini meeting jam berapa jadinya."
"Jam 10 Pak."
"Oke, oh ya visum yang saya minta sudah ada."
"Sudah Pak, ada di HRD."
Alfa menganggukkan kepalanya kemudian diapun masuk ke dalam ruangannya.
Alfa menjatuhkan dirinya di sofa di dalam ruangannya kemudian dia teringat dengan kopi yang ingin dia nikmati lagi.
"Kopi itu, siapa yang sebenarnya membuat. Kenapa aku minum lagi dan lagi."
Kemudian Alfa berdiri dan mendekati meja kerjanya tangannya meraih gagang telepon dan segera menghubungi Rina.
"Pesankan Saya kopi."
__ADS_1
Katanya.
Rina yang mendapatkan perintah itu malah bingung.
"Aduh bisa jadi masalah lagi ini kemarin dua hari sudah lupa dengan kopi itu."
Gerutu Rina sendiri yang kemudian mengambil gagang telepon yang ada di mejanya dan menghubungi ke pantry.
Pas yang berada di pantry itu Lukman, tanpa pikir panjang Lukman pun membuatkan kopi untuk Alfa dan setelah jadi dia langsung mengantar ke ruangannya.
"Permisi Bu Rina."
"Mas Lukman masuk aja. Eh.. sebentar Mas."
Lukman kembali ke Rina.
"Iya Bu, ada apa."
"Itu kopi sudah sesuai dengan resep yang diinginkan sama Pak Alfa belum."
Lukman nampak tersenyum kecut.
"Maaf Bu, ini masih versi saya karena sudah dua hari ini saya nggak pernah melihat perempuan itu lagi ke pantry."
"Aduh, kenapa susah sekali sih nyari perempuan itu untuk minta resepnya."
"Maaf Bu."
Kemudian pintu ruangan Alfa terbuka dan sang pemilik ruangan itu pun keluar.
"Lukman kenapa masih di situ, mana kopinya."
"Maaf Pak ini."
"Masuk."
Alfa masuk kedalam ruangan dan diikuti oleh Lukman yang membawakan kopinya.
"Maaf Pak sebelumnya ini kopi masih versi Saya. Saya belum berhasil mendapatkan resep dari perempuan itu karena sudah dua hari ini saya tidak bertemu dengannya."
"Gimana sih kamu, Kenapa tidak dari kemarin nyari perempuan itu."
"Saya sudah berusaha Pak."
"Ya sudah taruh situ."
Lukman pun pamit kepada Alfa dan kemudian meninggalkan ruangannya.
"Siapa perempuan ini."
Alfa akhirnya menyeruput kopi buatan Lukman saja daripada tidak minum.
☺☺☺☺☺
__ADS_1