KOPI CINTA

KOPI CINTA
105


__ADS_3

Kemudian Amel menelpon Alfa untuk mencarikan tempat yang akan mereka gunakan untuk bertemu.


"Di restoran kita aja Kak, jadi kalau dia mau macam-macam nggak akan buat malu kita."


"Ya udah Kakak ikut aja Fa."


"Oke, weekend aja Kak."


"Iya, Kakak tadi juga bilang begitu."


"Istri Alfa mana Kak."


Alfa tak ketinggalan menanyakan Anin yang sudah ia rindukan padahal baru beberapa jam meninggalkan rumah.


"Ini."


Amel memberikan ponselnya kepada Anin yang ada di sebelahnya.


"Iya Mas, ada apa."


Wajah Anin nampak tersenyum menyejukkan Alfa.


"Kangen."


"Wek..."


Amel menjulurkan lidahnya mengejek Alfa.


"Kerja Mas, biar cepat pulang."


"Iya Sayang, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Mas."


Telepon di akhiri dan Alfa kembali bekerja sedangkan Anin memilih beristirahat di kamar Dia merasakan punggungnya agak pegal.


"Kak, Anin masuk kamar dulu ya."


"Iya Anin istirahat lah, kamu nggak papa kan."


"Nggak papa Kak, pegel aja."


Amel nampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Anin berjalan naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.


Hingga sore menjelang, Anin keluar dari kamar menuju ke dapur sudah biasa dia membantu Bibi mempersiapkan makan malam.


"Bi, mau masak apa."


"Non Anin, Bibi mau buat gulai."


"Anin bantu apa ini."


"Nggak usah Non, nanti Non Anin mual lagi bau bawang. Bibi takut di marahi Den Alfa."


"Nggak papa Bi."


Bibi pun membiarkan Anin untuk ikut meracik bumbu, tapi tiba - tiba perutnya kembali mual begitu mencium aroma bawang.


"Hoek... Hoek.."


Anin langsung ke kamar mandi.


"Bi, kenapa Anin."


Mama Ani yang baru datang melihat menantunya menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya.


"Maaf Nyonya, Non Anin mual karena bantu Saya meracik bumbu."


"Kan sudah saya bilang Bi, jangan diperbolehkan."

__ADS_1


Mama Ani mendekat ke kamar mandi untuk melihat keadaan Anin.


"Maaf Nyonya."


"Anin, kamu nggak papa Sayang."


Mama Ani membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci oleh Anin.


"Mama, Anin nggak papa kok cuma mual aja."


Anin mengusap mulutnya menggunakan tisu.


"Jangan ke dapur, nanti mual lagi."


"Iya Ma, tadi tidak terasa apa-apa Ma tapi tiba-tiba langsung mual."


"Ya udah yuk keluar, Mama akan buatin minuman hangat."


"Iya Ma."


Mama Ani membawa Anin untuk ke ruang keluarga.


"Kamu duduk aja di sini ya Mama buatin dulu minuman hangat."


"Iya Ma."


Kemudian terdengar suara mobil yang memasuki area rumah itu pasti Alfa yang pulang kerja. Anin akan beranjak berdiri untuk menyambut suaminya pulang.


"Kamu duduk aja di sini, biar Alfa nanti yang nyari kamu."


"Tapi Ma."


"Sudah nurut sama Mama ya, kamu pucat Anin."


"Iya Ma."


Anin duduk saja di sofa dan Mama Ani menuju ke dapur untuk membuatkan ya minuman hangat.


" Assalamualaikum." Ucap Alfa dan meraih tangan Kakaknya.


" Waalaikumsalam."


Arsy juga sudah terbiasa meraih tangan Alfa dan mencium punggung tangannya.


"Bunda mana Sayang."


"Di dalam Pa."


"Tadi Kakak lihat ada di dapur."


"Di dapur Kak, dia kan nggak tahan bau bawang."


"Coba kamu lihat aja."


Alfa udah merasa curiga dan mencari keberadaan istrinya.


"Sayang..."


Alfa masuk ke dalam menuju ke dapur, namun belum sampai dia sudah melihat istrinya yang duduk di sofa di ruang keluarga.


"Mas, udah pulang. Maaf ya Mas, Anin nggak ke depan."


Anin mengulurkan tangannya dan disambut oleh Alfa dia pun mencium punggung tangan suaminya yang baru pulang kerja.


"Kamu nggak papa Sayang."


Alfa menangkup wajah Anin dengan kedua telapak tangannya dan mencium keningnya.


"Anin nggak papa Mas, maaf ya Mas."


"Nggak papa Sayang, wajah kamu pucat Sayang."

__ADS_1


Mama Ani datang dengan membawakan minuman hangat yang dapat meredakan mual yang dialami oleh Anin.


"Minum ini dulu Anin."


"Makasih Ma."


Anin meraih gelas yang diberikan oleh Mama Ani dan segera meminumnya.


"Kita periksa Sayang."


Anin hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu pucat, Mas udah bilang kan jangan ke dapur pasti mual lagi."


"Fa.. Istrinya lagi pucat gitu malah di marahin."


Anin hanya diam saja sambil sedikit demi sedikit menenggak minuman yang dibuatkan oleh Mama Ani tadi.


"Alfa nggak marah Ma, Alfa khawatir Anin nggak dengerin Alfa."


Anin diam saja dan menunduk rasanya mau jatuh air matanya.


"Alfa... Bukannya Anin itu tidak mau mendengarkan kamu mungkin dia hanya bosan aja berdiam diri makanya cari kesibukan.


Mama Ani melihat Anin sudah mau menangis tapi dia tahan mungkin karena malu ada dirinya.


" Kamu itu nggak tau perasaan ibu hamil, kalau bicara itu jangan sembarang."


Mama Ani meraih tubuh Anin dan memeluknya, air mata Anin yang iya tahan dari tadi tumpah juga.


Alfa memandang istrinya yang sesenggukan di dekapan Mamanya ada rasa menyesal sudah bicara begitu.


"Udah Sayang, nggak usah di dengerin suami kamu itu. Alfa, kamu mandi dulu sana baru bicara sama menantu Mama, biar hilang itu setan dari luar."


Alfa terdiam dan menghela nafasnya, salah juga bicaranya tidak dikontrol sudah tahu istrinya hamil dan menjadi lebih sensitif.


"Tapi Ma, Alfa mau ke atas sama Anin. Sayang, maafin Mas ya kita ke kamar yuk."


Alfa meraih tangan Anin dan mengusapnya lembut.


Anin melepaskan pelukan Mama Ani dan mengusap air matanya.


"Ma, Anin ke atas ya sama Mas Alfa."


"Di sini aja kamu, biar suami kamu itu naik sendiri nanti dia kasar lagi sama kamu."


"Nggak Ma, Alfa nyesel."


"Maafin Mas ya Sayang."


Alfa mengusap air mata Anin yang masih tersisa dan Anin menganggukkan kepalanya.


"Awas ya kalau Mama tau Anin nangis lagi, Anin tidur aja sama Mama. Ancam Mama Ani dan membuat Alfa menelan ludahnya.


" Iya Ma, Alfa janji nggak bicara kasar sama Anin. Yuk Sayang."


"Ma, Anin ke atas. Mama jangan marah sama Mas Alfa, Anin kok yang nggak dengerin Mas Alfa padahal demi kebaikan Anin sendiri."


"Iya Sayang, kamu jangan terlalu baik sama suami kamu."


"Mama kok ngajarin istri Alfa gitu."


"Biar kamu nggak seenaknya kalau bicara, iya Alfa nyesel Ma. Maaf ya Sayang."


Alfa menggandeng tangan Anin dan mengajaknya naik ke atas.


"Dedek nya nggak papa kan Sayang."


Alfa berjalan sambil mengusap perut Anin.


"Nggak papa Mas."

__ADS_1


☺☺☺☺


__ADS_2