
Alfa duduk di kursi kebesarannya, Dia masih memegangi ponselnya dan pikirannya masih tertuju pada seseorang yang baru saja telepon.
"Apa aku iya kan saja, permintaan Om Gunawan."
Yang baru saja telepon adalah Papanya Indra, Dia meminta waktu Alfa untuk bertemu dan berbicara. Alfa memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya, Dia masih ada rasa menghormati orang yang lebih tua mungkin kalau Indra sendiri yang memintanya Dia sudah tidak menggubrisnya.
Alfa mengambil gagang telepon yang ada di mejanya untuk menghubungi Rina.
Setelah panggilan berakhir dia pun mengirimkan pesan kepada Om Gunawan.
"Siang ini Alfa, ada ketemu dengan klien Om baru setelah itu kita bisa bertemu." begitu isi pesan dari Alfa yang dikirimkan kepada Om Gunawan.
Alfa meletakkan ponselnya dan kemudian membuka laporan yang baru saja diberikan oleh Rina.
Hingga hari berganti siang, Alfa membawa laporan yang sudah dia cek kemudian keluar dari ruangannya untuk bertemu dengan klien bersama dengan stafnya.
"Rina, sepertinya setelah bertemu dengan klien, Saya tidak akan kembali ke kantor."
"Baik Pak."
"Jika ada sesuatu yang urgent bisa kamu kirim lewat email saja."
"Baik Pak."
Staf yang akan pergi bersamanya telah menunggu dan mereka berdua pun pergi meninggalkan kantor.
Alfa benar-benar menepati janjinya setelah bertemu dengan klien tak lama kemudian Papa Gunawan datang untuk menemui dirinya hanya seorang diri.
Alfa tersenyum melihat Papa Gunawan yang baru saja mendekati Alfa yang memang telah terlebih sudah ada di sana karena tadi bertemu dengan klien.
" Assalamualaikum Alfa."
" Waalaikumsalam Om, Silakan duduk."
Mereka berjabat tangan kemudian duduk di kursi masing-masing dan mereka saling berhadapan.
"Apa kabar Om."
"Baik Alfa." Katanya sambil tersenyum.
"Maafkan Om Alfa, mengganggu waktu kamu. Om tau pasti kamu sangat sibuk sekali."
Alfa tersenyum.
"Tidak apa-apa Om, Alfa juga sebelumnya minta maaf karena mengacuhkan panggilan Om sampai berapa kali karena Alfa pikir bukan Om Gunawan yang menghubungi Alfa."
Papa Gunawan juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Tidak apa - apa Alfa salah om juga tidak mengirimkan pesan sama sekali kepadamu."
__ADS_1
Minuman yang sudah dipesankan Alfa pun datang.
"Silahkan Om di minum dulu."
"Makasih Alfa, Om yang menyita waktu kamu tapi kenapa Kamu malah yang menjamu."
"He he he... Nggak papa Om. Sekalian saja tadi Alfa pesan."
Setelah menenggak minuman yang ada di depan mereka, Papa Gunawan ingin berbicara apa tujuannya untuk bertemu dengan Alfa.
"Hmmm.. Alfa. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu."
Alfa menatapnya dengan serius.
"Iya Om, apa yang bisa Alfa bantu untuk Om Gunawan."
Nampak Papa Gunawan menghela nafasnya.
"Om.. Kasihan dengan Indra setiap hari memandangi foto Arsy, Dia sangat merindukannya Alfa." Ada guratan kesedihan di wajah Papa Gunawan.
"Om tau kesalahan Indra di masa lalu tidak akan mudah untuk dimaafkan Alfa."
Alfa juga menghela nafasnya.
"Tetapi Om mohon, beri kesempatan kepada Indra sekali saja ingin bertemu dengan Arsy. Om mohon Alfa dan hanya kepada Mu Om berani meminta. Om tau Amel dan Mama Kamu pasti merasa sangat tidak terima dan sangat membenci Indra."
"Alfa.. Om, mohon sama kamu walaupun nantinya itu pertemuan terakhir Indra dengan Arsy. Om sudah sangat berterima kasih kepadamu."
Nampak Papa Gunawan yang menangkup kan kedua tangannya memohon kepada Alfa.
"Alfa minta maaf Om, Alfa belum bisa mengambil keputusan. Karena ini bersangkutan dengan Kak Amel yang jujur saat ini mengalami setelah shock setelah mengetahui alasan Indra dulu meninggalkannya saat terpuruk dan Arsy sangat membutuhkan Papanya."
"Om sekali lagi minta maaf atas nama keluarga besar kami terutama almarhum Mamanya Indra."
"Om, Kami sudah memaafkan Tante tetapi untuk kembali percaya dengan keluarga Om itu yang masih sangat sulit. Maafkan Alfa harus jujur sama Om Gunawan."
Papa Gunawan tersenyum, dia menyadari memang besar kesalahan keluarganya.
"Tidak apa - apa Alfa, Om sangat menyadarinya jika kesalahan keluarga kami memang sangat besar."
"Alfa akan mencoba bicara dulu dengan Kak Amel dan Mama dulu Om. Tapi, Alfa tidak bisa berjanji jika Kak Amel bisa mengiyakannya."
"Om sudah sangat berterima kasih kepadamu Alfa. Kamu sudah memberikan waktu kamu untuk berbicara saja itu sudah membuat Om sangat senang."
"Maafkan Alfa tidak bisa membantu banyak Om."
"Iya Alfa, Om akan menerima apapun yang akan menjadi keputusan Amel."
Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya kemudian tak lama Papa Gunawan pun pamit pergi dan Alfa juga memilih untuk pulang ke rumah tidak kembali lagi ke kantor.
__ADS_1
Hari memang belum terlalu sore, Alfa memasuki halaman rumahnya.
Tak nampak Anin yang biasanya menunggu kedatangannya pulang, karena kali ini Alfa termasuk pulang gasik.
Dia masuk ke dalam rumah dan melihat ke dalam semua sepi, Mereka sedang beristirahat di kamar masing-masing. Alfa langsung naik ke atas menuju ke kamarnya.
Pintu ia buka dan mendapati istrinya yang masih terlelap di tempat tidur.
Alfa mendekat dan memandang wajah Anin yang teduh dalam tidurnya. Tanpa menyentuhnya Alfa langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai dengan aktifitasnya ia berganti baju dan kemudian mendekati sang istri yang masih terlelap.
Alfa duduk di samping Anin, kemudian menyingkirkan anakan rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Sayang, pules banget tidurnya."
Anin merasakan ada seseorang di sampingnya, Dia membuka matanya dan melihat Suaminya tersenyum manis kepadanya.
"Mas..."
"Hmmm.. Iya Sayang, sudah bangun."
Anin memiringkan tubuhnya dan menatap wajah Alfa seperti tidak percaya jika suaminya sudah pulang.
"Ini Mas beneran, kok udah pulang."
"Udah Sayang, bangun yuk mandi kita sholat ashar."
Alfa mengusap kepala Anin dan mencium keningnya.
"Tumben gasik Mas."
"Udah kangen sama kamu dan dedek."
Katanya sambil tersenyum dan mengusap perut Anin.
"Anin juga kangen Mas."
Dia memeluk perut Alfa.
"Istri Mas, jadi manja gini."
Alfa memeluknya.
"Mas nggak pernah pulang gasik sih."
"He he he... Maaf ya Sayang."
☺☺☺☺☺☺
__ADS_1