
Esok harinya Alya bersiap untuk berangkat ke kantor karena Papanya masih berada di luar kota jadi dia memesan taksi online kembali.
"Kamu hati - hati ya Sayang, kaki kamu belum sembuh beneran."
Mama Rani sudah memperingatkan anaknya.
"Iya Ma, Anin hati - hati kok."
"Kenapa nggak bareng aja sama Mas Alfa sih."
Mama Rani dari semalam mengintrogasi putrinya itu namun Anin hanya bilang ketemu aja di jalan jadi di ajak bareng.
"Ma, Alfa juga punya kesibukan. Lagian Kemarin kita itu juga tidak sengaja ketemu."
"Ya udah Sayang, jangan cemberut gitu. Cantiknya hilang nanti."
Mamanya mencubit pipi Anin yang cemberut.
"Iya Ma, Anin berangkat ya Ma itu taksi pesanan Anin sudah datang."
"Iya Sayang, hati - hati ya."
"Iya Ma, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Taksi mulai melaju meninggalkan rumah Anin menuju ke kantor, lalu lintas pagi biasanya lumayan padat jadi Anin memang sengaja berangkat lebih pagi menghindari macet.
Sesampainya di kantor memang masih lumayan sepi baru beberapa pegawainya yang berdatangan.
Anin berjalan menuju ke lobby dan melihat ada Pak Agus yang berjaga.
"Pagi Mbak Anin."
Sapa Pak Agus.
"Pagi Pak."
"Pagi banget sudah datang Mbak."
"Iya menghindari macet Pak, Pak Agus jam berapa kalau berangkat jam segini sudah bertugas."
"Saya jam 6 harus sudah sampai Mbak, ganti shift sama yang malam."
"Pagi banget ya Pak."
"Iya Mbak, memang sudah jam kerjanya begitu."
"Saya masuk dulu ya Pak."
"Iya Mbak Anin silahkan."
Anin berjalan menuju ke lift untuk naik ke ruangan kerjanya.
Sesampainya di sana dia merasa sepi karena belum ada teman kerjanya yang datang.
"Buat kopi enak nih."
Anin kemudian keluar dari ruang kerjanya menuju ke pantry untuk membuat kopi untuk dirinya sendiri.
Dia mengambil cangkir yang sudah tersedia di sana dan segera membuatnya.
"Nanti kalau Miss Salsa sama Kak Rio datang pasti juga mau, buat lagi ah."
Anin akhirnya membuat tiga gelas satu untuk dirinya dan dua untuk teman rekan kerjanya.
Setelah jadi Anin keluar dari pantry dengan membawa nampan yang berisikan 3 cangkir kopi.
__ADS_1
Anin berjalan ke ruangannya yang nggak jauh dari pantry dengan hati - hati karena kakinya masih belum tegak jika berjalan normal.
"Anin."
Saat akan masuk ke dalam ruangan ada seorang laki-laki yang memanggil dirinya.
Anin berhenti dan menoleh kebelakang.
"Pak Alfa, pagi Pak."
Anin menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya kepada atasan.
Alfa berjalan menuju ke arah Anin yang berdiri diambang pintu ruangan kerjanya.
"Buat saya satu ya."
Alfa main ambil begitu saja cangkir kopi yang Anin bawa.
"Ta.. tapi.. Pak."
Alfa tidak menghiraukan ucapan dari Anin langsung menyeruput kopi itu.
"Hmmm.. Enak banget kopinya."
Anin diam saja dan menundukkan kepalanya.
"Kamu buat banyak banget siapa."
"Buat teman - teman Anin Pak."
"Kamu baik banget sama teman-teman kamu sampai kamu buatin kopi seenak ini."
"Kebetulan saja Pak tadi saya buat jadi nggak enak kalau minum sendiri."
"Kenapa Saya tidak kamu sekalian buatkan."
Anin kemudian terdiam dan melipat bibirnya ke dalam merasakan salah ucap.
"Ma..Maaf Pak, maksud saya Pak Alfa kan bukan rekan kerja di divisi saya."
Anin dengan menundukkan kepalanya.
"Berarti jika Saya mau menikmati kopi buatan Kamu setiap hari, Saya harus jadi rekan kerja di divisi kamu dulu."
"Maaf Pak Saya salah ucap. Bapak kan Manager disini."
"Kalau begitu, Saya berhak dong untuk setiap hari menikmati kopi buatan kamu."
Alfa sengaja menggunakan nada yang tegas untuk menakuti Anin dan mengiyakan permintaannya.
"Ta.. tapi Pak, Saya bukan pegawai pantry."
"Kamu khusus pantry GM, mulai hari ini."
"Ta.. Tapi.. Pak."
" Saya tidak suka penolakan."
Alfa terdengar mengerikan tidak seperti Alfa yang tadi sore mengantarnya pulang.
Anin masih diam mematung di depan pintu ruang kerjanya melihat Alfa yang pergi meninggalkannya sambil membawa cangkir berisi kopi itu.
"Mimpi apa aku semalam aku, kenapa juga tadi Pak Alfa ke sini kan ruangannya di atas."
Anin bicara sendiri dan masih memegang kopi yang berada di atas nampan.
"Anin, ngapain kamu."
__ADS_1
Miss Salsa datang dan melihat Anin yang diam mematung di depan pintu.
"Miss, nggak papa."
Anin tersenyum saja.
"Wah, enak nih pagi-pagi sudah dibuatkan kopi. Tambah cantik deh kamu Anin kalau tiap pagi kayak gini."
Puji Miss Salsa karena ada maunya semoga setiap pagi dibuatkan kopi oleh Anin.
"Pasti ada maunya muji kayak gitu."
Anin meletakkan 1 cangkir dihadapan Miss Salsa.
"Ha ha ha... Tiap pagi kayak gini aku juga mau Nin."
"Nggak mau, bayar."
Anin sambil cengengesan.
"Perhitungan banget sih kamu."
"Ha ha ha.. Bercanda Miss."
Anin kemudian duduk di kursi kerjanya dan menikmati kopi buatannya.
Ponsel Anin yang di dalam tas berbunyi, Dia segera mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk yang tak ada namanya.
"Siapa ini."
Anin ragu untuk menjawabnya.
"Siapa sih Nin, berisik di jawab dong." Miss Salsa merasa ponselnya Anin mengganggu.
"Iya Miss."
Anin menggeser tombol hijau di layar ponselnya ke arah atas.
"Halo, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Terdengar suara laki - laki.
"Maaf siapa."
"Nomor Saya belum kamu simpan."
Suara laki - laki itu terdengar tak asing dan Anin berusaha mengingat - ingat siapa orang ini.
"Halo.. Anin."
Laki - laki itu mengulangi panggilannya lagi.
"Iya, siapa ya. Maaf lupa siapa."
"Anin.. Saya yang tadi minta kopi. Jangan lupa mulai besok siapkan kopi dimeja Saya setiap pagi."
Tut..tut..tut...
Panggilan terputus.
Anin melongo memegang ponselnya.
😆😆😆😆😆
Ini Pak GM merajalela juga virusnya 🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1