
Malam menjelang setelah makan malam Mereka masih duduk santai di ruang keluarga sambil ngobrol.
Amel sudah terlihat lebih fresh, dan Anin pun sudah mengetahui ceritanya dari Suaminya.
"Anin kamu nggak ngidam apa gitu."
Amel lagi tidak mau membahas masalahnya tadi siang.
"Nggak apa belum ya Kak he he he... Kemarin sih pingin cilok tapi kasihan Mas Alfa malam - malam mau cari kemana."
Anin melirik ke arah suaminya yang duduk di sebelahnya hingga saat ini pun Alfa lupa untuk membelikan istrinya.
"Astaghfirullahaladzim, Mas lupa. besok ya Sayang pulang kerja Mas beliin."
Alfa merangkul pundak Anin agar istrinya itu tidak marah.
"Iya Mas nggak papa."
"Kamu gimana sih Fa, cuma minta cilok aja nggak dibeliin dari kemarin. Mau anak kamu ileran nanti." Ledek Amel.
"Lupa Kak, bukannya nggak mau." Bela Alfa.
"Kamu ngidam kayak Mama dulu waktu hamil suami kamu."
Kata Mama Ani.
"Wajarnya Ma, anaknya meniru Papanya." Ucap Amel.
"Yang penting sehat sehat selalu ya sayang. " Alfa mengusap perut Anin yang masih rata karena berusia 6 minggu kehamilannya.
Malam makin larut dan Mereka menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Amel masih terpaku di atas tempat tidur mengingat kejadian siang tadi.
"Mama kenapa tega, memisahkan keluarga ku." Ucapnya sendiri.
Masih ada rasa sakit di hati Mama mertuanya tega memisahkan keluarga kecil mereka.
"Tapi Mama udah nggak ada, semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisinya."
Amel juga masih punya hati nurani mendoakan mantan Mama mertuanya.
"Maafkan Amel Mas, Aku belum sanggup mempertemukan kamu dengan Arsy."
Kemudian ponsel Amel berdering dan terdapat nama mantan suaminya di sana.
"Panjang umur Dia, tapi malas mau bicara sama dia." Kata Amel sambil memegang ponselnya tapi tidak menjawab panggilan dari Indra.
Panggilan itu pun berhenti kemudian tak lama masuklah panggilan lainnya tapi dengan nomor yang berbeda.
"Siapa lagi sih."
Amel yang sudah menduga itu pasti mantan suaminya kemudian memilih mematikan ponselnya saja dan beristirahat.
Di kamar yang berbeda, Anin masih membersihkan wajahnya di depan cermin sedangkan suaminya masih di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Cantik banget istri Mas."
Alfa yang keluar dari kamar mandi kemudian mendekati Anin di depan cermin.
Anin tersenyum mendapat pujian dari suaminya itu.
"Mas perhatikan kamu jadi lebih suka dandan kayaknya sekarang, Sayang."
Alfa berdiri dibelakang Anin dan membelai rambut hitamnya yang panjang.
"Masa sih Mas, perasaan kalau habis mandi aja sama mau tidur."
"Tapi kamu kelihatan lebih cantik Sayang."
"Kemarin nggak cantik."
Anin manyun salah paham dia.
"Hmmm... Mulai."
Alfa memutar tubuh istrinya dan menghadap kepadanya.
"Mas kan bilang tambah cantik berarti aslinya sudah cantik dong."
Alfa mengecup bibir Anin yang masih manyun aja.
"Jangan suka cemberut begitu ah."
"Kenapa jelek ya Mas."
Alfa tersenyum dan menangkup wajah Anin, dia sekarang kalau bicara lebih berhati-hati tidak mau membuat Anin menangis lagi.
Anin tersipu dan tersenyum. Mood ibu hamil memang mudah sekali berubah kadang tiba-tiba menangis sendiri kadang juga kelihatan bahagia.
"Udah belum tidur yuk Sayang."
"Bentar kurang dikit Mas."
"Mas tunggu di tempat tidur."
"Iya Mas."
Alfa mengecup kening Anin kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan menyandarkan tubuhnya sambil membuka ponselnya.
Dia mengerutkan dahinya begitu ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak ia kenal.
"Siapa ini."
"Ada apa Mas."
Anin yang mendengar suaminya bicara sendiri dia menoleh ke arah Alfa.
"Ini Sayang, ada panggilan tak terjawab tapi nomornya enggak kenal."
"Di telpon balik Mas, siapa tahu penting."
__ADS_1
"Biarin aja deh Sayang udah malam mau istirahat."
Alfa sengaja memasukan ponselnya ke dalam laci yang ada di meja kecil dekat tempat tidurnya.
Anin selesai mempoles wajahnya dan kemudian menghampiri suaminya.
"Sini Sayang."
Alfa merentangkan tangannya Anin pun mendekat masuk ke dalam dekapan Alfa.
"Makasih ya Sayang, sudah mengandung anak Mas."
Katanya sambil mengusap perut Anin.
"Iya Mas."
Anin tersenyum memandang wajah Alfa.
"Nanti bulan madu kita akan Mas ganti dengan baby moon ya, Sayang."
"Iya Sayang. Makasih ya Mas."
"Mas yang harusnya minta maaf sama kamu karena tidak ada bulan madu. Eh.. baru merencanakan malah kita dikasih rezeki yang luar biasa ini."
"Alhamdulillah Mas."
Alfa mengecup lama kening istrinya dan Anin pun memeluk Alfa penuh kehangatan.
"Kamu anugrah terindah Sayang, terima kasih sudah hadir dalam hidup Mas."
"Maafin Anin ya Mas, awalnya Anin galak sama Mas Alfa."
Alfa terkekeh mengingat perjuangannya mendekati Anin hampir setiap hari mereka malah berantem dan beradu argumen.
"Jangan galak lagi, nanti anak kita meniru."
"Iya nggak Mas, Anin galak sama Mas Alfa karena Anin takut kalau Mas Alfa cuma mainin perasaan Anin."
" Berarti aslinya sudah cinta ya sama Mas." Alfa menggerak-gerakan kedua alisnya menggoda Anin.
"Nggak... Mas Alfa aja yang terus deketin Anin." Muka Anin sudah memerah.
"Mas memang suka mengejar-ngejar kamu sayang. Rasanya tidak mendengar omelan kamu sehari aja tambah kangen."
"Suka ya kalau Anin ngomel."
"Lebih suka kalau kamu tersenyum dong Sayang."
"Kenapa."
Alfa mendekatkan wajahnya ke Anin dan menyambar bibir ranum milik istrinya itu.
"Cantik Sayang."
"Hmmm, Mas sesak..."
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣
Puasa ... Puasa.... Tahan Puasa 🤣🤣🤣🤣🤣