
~Amel PoV~
Aku tak tau harus bagaimana, aku sampai tidak memahami dengan diriku sendiri.
Terlalu sakit Mas jika mengingat masa itu, tapi saat aku melihat Arsy buah hati kita ada rasa bersalah juga di dalam diri ini.
"Sayang, maafkan Mama."
Ucap ku lirih di dalam isak tangisku.
Mama mungkin akan menjadi orang tua yang sangat egois, tetapi hati Mama tidak bisa berbohong sayang.. Sakit ....
Sangat sakit jika mengingat perlakuan Papamu yang telah tega meninggalkan kita di saat kita membutuhkan kehadirannya.
"Maafkan Mama."
🥀🥀🥀🥀🥀
Malam semakin larut dan Amel masih juga belum bisa terpejam matanya nanar memandang darah jendela yang sudah ia tutup tirainya.
Dia terus aja kepikiran dengan ucapan Indra, tidak dipungkirinya ada rasa ingin kembali merajut rumah tangga seperti dulu tetapi ada rasa yang masih menjerat di dalam hatinya jika mengingat kejadian di masa lalu.
Belum lagi dengan Mamanya yang sama sekali tidak menyetujui dan belum terbuka hatinya jika Indra mempunyai niat baik untuk kembali merajut rumah tangga dengan dirinya.
Entah jam berapa Amel baru bisa terpejam dan kini adzan subuh telah terdengar berkumandang membangunkan setiap insan untuk menjalankan kewajibannya kepada sang Khalik.
Sayup - sayup telinga Amel pun mendengarnya dia bangun kemudian segera membersihkan dirinya untuk melaksanakan kewajibannya.
Sedangkan Alfa sudah berada di bawah bersama dengan Anin kalau dia pun berpamitan untuk berangkat ke masjid.
__ADS_1
"Mas ke masjid ya Sayang, Mama Alfa berangkat."
"Iya Mas." Ucap Anin
Mama Ani menganggukkan kepalanya namun pandangannya masih menuju ke arah pintu kamar Amel yang juga belum keluar.
"Kak Amel belum keluar Ma, biar Anin yang ke sana ya."
Anin mau beranjak ke arah kamar Amel namun dicegah oleh Mama Ani.
"Nggak usah Anin, yuk kita sholat."
Mama Ani segera mengajak kalian untuk melaksanakan salat subuh, baru beberapa langkah terdengar pintu kamar Amel yang terbuka.
"Kak, kita jamaah."
Sapa Anin dan mendapatkan senyuman dan anggukan kepala dari kakak iparnya itu.
Selesai sholat jamaah kini Anin diajak oleh Alfa untuk berjalan pagi sekedar menghirup udara segar yang sangat baik untuk ibu hamil.
"Mas.."
"Hmmm... Iya Sayang."
Alfa yang berjalan di samping Anin sambil menggenggam tangannya tersenyum ke arah istrinya itu.
"Mas, memperhatikan wajah Kak Amel nggak tadi."
Alfa mengarahkan kedua manik matanya ke atas hingga membuat keningnya berkerut mengingat-ingat wajah sang kakak di pagi hari ini.
__ADS_1
"Memang kenapa Sayang."
Memang laki-laki itu tidak peka melihat sesuatu di depannya.
Anin pun memandang ke arah suaminya,
"Masa Mas nggak melihatnya sih, Kak Amel itu kelihatan seperti orang kurang tidur."
"Iya mungkin baru bangun tidur aja kali sayang."
"Beda Mas."
Anin menarik pelan tangannya yang digenggam oleh Alfa hingga membuat suaminya berhenti.
"Ya udah Sayang, nanti kita tanya ada apa sama Kak Amel. sekarang kita menikmati udara pagi masih segar ini. Sehat-sehat terus ya sayangnya Papa sampai kita jumpa di dunia ini."
Alfa mengusap-usap perut istrinya.
"Mas, mau bubur ayam itu."
Anin melihat tukang bubur ayam yang baru saja memarkirkan dagangannya, membuatnya dia menelan ludah rasanya ingin menikmatinya.
"Sayang mau, biasanya kan nggak suka sama bubur ayam."
"Apa nggak boleh Mas, adik pengen kelihatannya rasanya enak dari aroma yang tercium sampai sini."
"Boleh, ayo kalau kamu mau."
Alfa mengajak istrinya mendekati tukang busur itu dan kemudian memesan dua porsi untuk mereka berdua.
__ADS_1
😉😉😉