
"Siska, ngapain."
Pak Edi, Papanya Siska.
Siska memang sedang mengantarkan Papanya untuk check up rutin setiap bulan dan saat mereka akan masuk ke dalam rumah sakit Siska melihat Alfa yang memasuki mobilnya namun tak tahu siapa yang ada di dalam mobilnya.
"Nggak Pa, kayaknya kenal tapi bukan sepertinya. Yuk Pa masuk sudah di tunggu Dokter."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit namun Siska masih teringat Alfa tadi dan penasaran dia bersama siapa.
Alfa membawa Anin beserta Mama Rani ke sebuah restoran untuk santap siang.
Sesampainya di sana yang tadinya Anin mau berjalan sendiri tapi di larang Alfa.
"Pakai kursi roda aja dulu, nanti kalau di rumah baru latihan berjalan."
"Anin mau coba jalan Mas."
"Anin..."
Alfa sedikit di tekan nada bicaranya yang artinya dia nggak mau di bantah.
"Iya Mas."
Mama Rani tersenyum saja melihat mereka berdua.
Alfa mendorong kursi roda Anin masuk ke dalam restoran, Dia mendapatkan tatapan beberapa pasang mata yang ada di sana.
Alfa pun menyadari itu, Dia membawa Anin dan Mama Rani ke tempat khusus untuk pelanggan setia restoran itu.
"Selamat Siang Pak."
"Siang, sajikan menu yang spesial."
"Baik Pak."
Anin dan Mamanya merasakan ada yang aneh, kenapa Alfa memesan makanan tanpa melihat daftar menu dan mau minta semua yang spesial disajikan.
"Alfa sering ke sini, sepertinya pegawai di restoran ini sangat mengenal kamu." Tanya Mama Rani.
"Iya Ma, sering mengajak klien makan ke sini."
Anin dan Mama Rani tersenyum dan menganggukkan kepalanya mereka percaya saja.
Pesanan Mereka datang dan siap di santap, setelah selesai menyantap Alfa pamit untuk sholat dhuhur, Mama Rani pun ikut bersamanya sedangkan Anin menunggu karena sedang halangan.
Setelah selesai Alfa membawa Mereka pulang ke rumah untuk beristirahat.
Di dalam mobil Mama Rani yang sepanjang kemarin penasaran dengan keluarga Alfa akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Alfa."
"Iya Ma."
__ADS_1
"Alfa punya berapa saudara."
"Cuma dua Ma sama Kakak Saya."
"Hmmm... Kakaknya sudah menikah, laki-laki atau perempuan."
"Mama..."
Anin menoleh ke belakang, dia merasa tidak enak Mamanya terlalu banyak bertanya.
"Nggak papa Anin, sekalian saya ingin bercerita tentang keluarga kami." Alfa sama sekali tidak keberatan jika Mama Rani bertanya tentang keluarganya.
"Mama kan juga ingin tahu tentang keluarga Alfa."
"Iya Ma, Alfa tidak keberatan. Alfa itu dua bersaudara Kakak Alfa perempuan dan sudah menikah sudah memiliki satu anak."
"Mama sama Papa masih Alfa."
"Mama..." Anin yang lagi-lagi memperingatkan mamanya untuk tidak terlalu banyak bertanya.
"Mama masih Ma, kalau Papa Saya sudah meninggal baru sekitar satu bulan yang lalu."
Anin langsung menatap ke arah Alfa mendengar itu dan mendapat senyuman dari Alfa.
"Maaf ya Alfa, bukan maksud Mama mengungkit kesedihan keluarga kamu."
"Kami sudah mengikhlaskannya Ma."
"Ikut bela sungkawa Mas." Ucap Anin.
Tak terasa mobil telah sampai di depan rumah Anin, Alfa dengan sigap ingin membantu Anin untuk turun.
"Mas, Anin mau coba sendiri."
Perban di kaki Anin sudah di buka jadi Dia ingin mencoba berjalan sendiri.
"Yakin, kamu bisa."
"Bisa Mas, Mama."
Anin memanggil Mamanya untuk memeganginya ketika berjalan tidak enak jika sama Alfa.
Alfa yang berada di samping Anin memahami itu. Mama Rani memapah tubuh Anin dan menuntunnya untuk berjalan masuk ke dalam rumah.
Anin duduk di kursi ruang tamu begitu pula dengan Alfa sedangkan Mama Rani masuk ke dalam.
"Mas, makasih ya sudah di temani ketemu dokter hari ini."
Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Anin, aku akan menemani kamu kemanapun. Jadi, jangan sungkan untuk bilang mau kemana pasti aku temenin."
"Makasih Mas, tapi Anin rasa tidak enak. Mas Alfa juga sibuk banyak kerjaan di kantor."
__ADS_1
"Nggak papa, bilang aja kalau butuh kemana ya, Mas pamit ya ada urusan."
"Iya Mas."
Mama Rani keluar dan Alfa berpamitan dengan meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.
"Makasih ya Alfa, maaf merepotkan."
"Iya Ma, Alfa tidak merasa direpotkan. Alfa pamit Ma, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alfa ke depan dengan di antar Mama Rani karena Anin di larang Alfa mengantarnya.
Setelah meninggalkan rumah kediaman Anin, Alfa melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat.
"Iya Otw, tunggu sebentar."
Alfa berbicara dengan seseorang di teleponnya.
Alfa menekan pedal gasnya dengan kecepatan sedang menuju ke tempat yang telah disetujui.
Sesampainya di sana Alfa langsung mengenakan jas dan masuk ke sebuah cafe untuk bertemu dengan seseorang.
"Silahkan Pak Alfa."
Asisten Alfa memberitahu dimana klien telah menunggu.
Alfa masuk ke ruangan dan sudah sudah ada partner bisnisnya bersama seorang klien yang akan menjalankan bisnis mereka.
Alfa selain bekerja di kantor sebagai seorang General Manager dia juga menjalankan sebuah usaha showroom mobil dengan partner kerjanya dan juga ada usaha keluarga yang dijalankan bersama Kakaknya.
Setelah didapatkan kesepakatan mereka menandatangi kerjasama untuk membesarkan usaha mereka.
"Kamu darimana sih Fa, hampir saja Pak Irawan tadi mau pergi." Ucap sahabat Alfa, Rian namanya.
"Ada urusan bentar katanya jam tiga ketemunya sama Pak Irawan ini juga tadi baru jam dua."
"Urusan apa sih, sampai nggak ke kantor, jangan - jangan habis ngedate kamu sampai dibeliin bolos dari kantor."
"Aku nggak bolos ya, sudah ada ijinnya. Ya bisa dibilang begitulah ngedate sambil bertanggungjawab."
"Maksudnya kamu menghamili anak orang."
"Sembarangan kamu."
"Ha ha ha.. Nikah Fa, kamu bakal ngerasain indahnya surga dunia."
Maklum Rian ini pengantin baru lagi merasakan indahnya.
"Iya, otak mesum kamu. Sebentar lagi bakalan nyusul kamu."
"Serius, cewek mana yang mau sama kamu."
__ADS_1
"Lihat aja nanti."
😆😆😆😆