KOPI CINTA

KOPI CINTA
148


__ADS_3

Arsy tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan tangan diinfus.


"Sayang."


Amel tak tahan menahan air matanya lagi sambil mengusap kepala putrinya memandang wajahnya yang masih kecil tapi menanggung rasa sakit yang harus dia rasakan.


Indra rasanya ingin sekali membelai Arsy namun apa daya jika masih ada Mama Ani di dekat anaknya itu dia tak berani mendekat.


Alfa memandang ke arah keponakannya kecil ada rasa tak tega anak sekecil ini harus merasakan sakit terlebih lagi kedua orang tuanya yang tidak bisa bersama.


"Dra."


Alfa menepuk pundak Indra.


"Mendekat lah, mungkin Arsy merasakan kerinduan kepadamu."


Indra menatap Alfa, dan Alfa pun paham apa maksud Indra.


"Ini lah saatnya kamu harus menunjukkan sama Mama kalau kamu bertanggung jawab."


"Apa Mama masih percaya sama aku Fa."


"Buktikan dong, biar mama percaya lagi sama kamu kalau kamu itu memang sayang sama Arsy."


Indra menganggukkan kepalanya lalu dia mendekat ke tempat tidur Arsy. Dia sayu memandang wajah Putri semata wayangnya.


"Sayang, ini Papa. Kamu kuat yang sayang cepat sembuh nanti kita gambar bareng lagi."


Mama Ani dan Amel melihat ke arah Indra yang mengajak Arsy bicara walaupun dia tertidur sambil mengusap kepalanya.


Namun tak lama Mama Ani menyusul Alfa duduk ke sofa meninggalkan Indra dan Amel yang berada di samping tempat tidur Arsy.


"Mama capek."

__ADS_1


Tanya Alfa.


"Nggak Fa, Mama khawatir dengan keadaan Arsy. Kenapa sekarang Arsy mudah banget demam terus dikit-dikit ngambek."


Alfa memeluk Mamanya,.


"Apa Arsy punya sakit ya Fa, kayaknya kita harus memeriksakan secara mendalam."


Alfa melepaskan pelukannya dan memandang wajah Mamanya. Ada yang ingin dia sampaikan tetapi masih dia tahan.


"Ma..."


terdengar suara rintihan dari Arsy yang menggerakkan kepalanya.


"Iya Sayang, Mama disini."


Amel mengusap kepala Arsy yang perlahan membuka matanya memandang wajah Mamanya lalu melihat ke sebelah kiri terdapat wajah Indra yang tersenyum kepadanya.


"Pa.. Papa..."


"Iya sayang, Papa disini. Arsy mau apa Sayang."


"Gendong..."


Arsy nampak mengarahkan tangannya ke arah Indra. Tapi Papanya itu memandang ke arah Amel seperti ingin meminta izin.


"Nggak papa Mas."


Amel pun paham arti tatapan dari Indra.


Mama Ani dan Alfa memandang interaksi mereka dari sofa.


"Sayang, tiduran aja ya Papa temenin kan tangannya lagi sakit ini nanti kalau gendong gimana infusnya."

__ADS_1


"Hiks...hiks.. Papa, gendong..."


Arsy malah menangis, jika kemauannya tidak dituruti.


"Gendong aja Mas, pelan - pelan."


Indra meraih tubuh Arsy dengan perlahan dan berhati-hati supaya tidak mengenai tangan yang sedang diinfus.


Alfa melihat Indra kesulitan, Dia berdiri lalu menghampiri Indra dan membantu memegangi infus Arsy.


Arsy nampak tenang di dalam gendongan Papanya, Amel menatapnya terbesit doa di dalam hatinya.


Mama Ani melihat interaksi mereka berdua.


"Kamu kelihatan nyaman sekali Sayang." Dalam hati Mama Ani menatap cucunya.


Alfa pun melihat Mamanya menatap Indra dan Amel dalam sekali. Lamunannya tersadar saat ponselnya berbunyi.


"Assalamualaikum Sayang."


Alfa menjawab panggilan di ponsel yang ternyata dari Anin.


"Waalaikumsalam Mas, gimana keadaan Arsy."


"Alhamdulillah nggak papa Sayang, kamu di rumah nggak papa kan Sayang."


"Iya Mas nggak papa, ini Mama sama Papa ke sini Mas mau ketemu Mama Ani."


Memang Anin menghubungi Alfa untuk memberitahu jika Mama dan Papanya datang ingin membahas tujuh bulanan dengan Mama Ani.


"Iya Sayang, Mas sama Mama sebentar lagi pulang."


😃😃😃😃

__ADS_1


Sampai sini dulu ya , lanjut lagi nanti


😉😉😉


__ADS_2