
"Aku nggak percaya Anin bilang seperti, aku harus cari tau sebenarnya ada apa."
Alfa berbicara sendiri sambil menyetir mobilnya menuju ke rumah.
Alfa menghentikan mobilnya di garasi rumah kemudian masuk ke dalam dan ingin langsung ke kamar namun Kakaknya melihat Dia datang.
"Alfa, kok udah pulang."
"Iya Kak, aku ke atas dulu ya."
"Oh, iya Fa."
Amel melihat Alfa tidak bersemangat dia memandang tubuh adiknya itu naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.
"Ada apa sama Dia."
Amel bicara sendiri sambil melihat Alfa yang berlalu.
Di dalam kamar Alfa menghempaskan tubuhnya di sofa, Dia memijat pelipisnya yang terasa pusing sambil memejamkan matanya.
"Kamu kenapa Anin."
"Mama Rani sepertinya juga nggak tau, ada apa sebenarnya dengan kamu Anin."
Alfa berbicara sendiri sambil memikirkan bagaimana cara dia bisa mengetahui apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Anin.
Tiba - tiba Afa teringat temannya Anin yang sering bareng kantor.
"Salsa... Ia mungkin Anin bercerita dengan Dia. Aku harus cari nomor ponsel Dia."
Alfa hubungi sekretarisnya Rina, meminta tolong untuk mencarikan nomor ponsel dari Salsa teman satu divisi dari Anin.
Setelah menghubungi Rina Alfa memilih untuk menyegarkan badannya yang terasa sangat penat sekali.
🌹🌹🌹🌹🌹
Di rumah Anin, Dia belum juga keluar dari kamarnya hingga siang hari.
Tok..tok..tok...
"Anin, Sayang buka kamarnya. Ayo kita makan siang nanti kamu bisa sakit loh."
Suara Mama Rani memanggilnya dari depan pintu.
"Anin... Sayang buka dong, cerita sama Mama kamu ada masalah apa."
"Gimana Ma."
Papa Budi yang khawatir juga dengan keadaan Anin menyusul istrinya untuk membujuk Anin membuka pintu kamarnya.
Mama Rina menggelengkan kepalanya saja tidak ada respon dari Anin.
"Sayang... Buka Nak.
Gantian Papanya yang membujuk supaya Anin mau keluar dari kamar.
" Pa, gimana Anin nggak mau keluar."
" Sebenarnya ada apa sih Ma antara Alfa dan Anin."
"Mama juga nggak tahu Pa tadi dia nangis begitu diajak bicara Alfa dan langsung masuk ke dalam kamar nggak mau keluar sampai sekarang."
Mama Rina sudah sangat mengkhawatirkan keadaan anak gadisnya itu.
__ADS_1
"Anin, Papa mau bicara. Bercerita Lah sayang sama Papa ada apa sebenarnya kamu."
Di dalam Anin, bukannya tidak mendengar dia masih bersimpuh di sajadahnya menangis dan sambil memohon petunjuk dari yang maha kuasa.
Anin merasa kasihan dengan kedua orangtuanya yang mengkhawatirkan dirinya. Dia perjalanan menuju ke pintu dan membukanya dengan masih mengenakan mukena.
"Sayang..."
Mamanya langsung memeluknya.
"Kamu nggak papa kan Sayang."
Mama Rina melihat wajah Anin yang merah habis menangis.
Anin mencoba untuk tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu kena..."
"Ayo kita makan ya Sayang."
Papa memotong ucapan Mama untuk tidak menanyakan masalah Anin terlebih dahulu, biarkan Anin merasa tenang terlebih dahulu nanti dia akan bercerita sendiri.
"Ayo Sayang kita makan."
Mamanya merangkul pundak Anin.
"Anin ganti baju dulu ya Ma, nanti Anin ke meja makan."
Papanya menganggukkan kepalanya.
"Ya udah Sayang, Mama dan Papa tunggu di meja makan ya."
"Iya Ma, Pa."
Anin menutup pintu kamarnya kembali setelah kedua orang tuanya keluar kemudian berganti pakaian dan makan siang bersama.
"Sayang..."
Mamanya menyusul ke kamarnya.
"Iya Ma."
"Boleh Mama masuk."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mama Rina ikut masuk ke dalam, Anin duduk di sofa dekat jendela sambil memandang ke arah luar.
"Sayang, cerita sama Mama."
Mamanya duduk di sampingnya sambil mengusap kepala anaknya itu.
Anin menghembuskan nafasnya, terasa sekali beban yang ia pikul teramat berat.
"Kamu berantem sama Alfa."
Anin hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Atau ada yang tidak kamu sukai dari Alfa, Mama lihat semenjak kamu pulang dari rumah Alfa Kamu terlihat senang sekali."
"Keluarganya baik kan sama kamu."
Anin menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus apa alasan kamu menolak Alfa."
Anin berdiri dan meraih ponselnya yang ada di atas meja.
"Anin nggak mau egois Ma, Mas Alfa akan kehilangan masa depannya jika bersama dengan Anin."
Anin menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan kepada Mamanya akan pesan teror yang dia terima beberapa hari ini.
"Siapa yang mengancam kamu seperti ini apa Kamu punya musuh atau ada orang yang tidak suka kamu dekat dengan Alfa."
"Anin rasa nggak punya musuh Ma, di kantor semua orang baik. Mereka hanya mencibir Anin saja karena mereka mulai tahu kedekatan Anin dengan Mas Alfa."
"Kalau ancamannya berkaitan dengan karir Alfa menurut Mama ini orang yang berpengaruh di kantor kamu. Apa ada orang yang punya jabatan di kantor kamu menyukai Alfa."
Tanya Mama Rani, Dia ingin Anin terbuka dengan dirinya dan sekaligus memberikan pencerahan kepada Anin jangan hanya diam saja menerima teror seperti ini.
"Mungkin ada Ma, Anin kurang tahu."
Anin sebenarnya juga berfirasat ini yang melakukan adalah Siska tapi dia tak punya bukti untuk menuduhnya.
"Kamu sudah bercerita ke Alfa soal ini."
"Anin sama sekali tidak memberi tahu Mas Alfa Ma. Anin takut jika orang ini tahu Anin mengadu ke Mas Alfa nanti dia benar - benar membuat karir Mas Alfa menjadi berantakan."
"Anin, seharusnya kamu tidak begitu seharusnya kamu itu cerita dengan Alfa dia yang lebih tahu akan karir dia bukan diri kamu."
"Anin bingung Ma."
Mama Rani memegang pundak putri kesayangannya itu dan membuatnya untuk menghadap kepada dirinya.
" Sekarang Mama mau tanya sama Anin dan dijawab dari dalam lubuk hati kamu sayang."
Anin menatap Mamanya.
"Apa Ma."
"Kamu Sayang sama Alfa."
Anin menunduk.
"Sayang, jangan hanya menjawab dari bibir kamu saja tapi harus dari dalam hati kamu jangan sampai kamu menyesal karena keputusan mu sendiri."
"Kamu sayang kan sama Alfa, kamu cinta kan sama Alfa."
Anin menganggukkan kepalanya memang dia tidak memungkiri saat ini perasaannya sudah terpaut dengan Alfa.
"Kamu kemarin cerita sama Mama kalau kamu mau salat istikharah dulu sebelum menjawab lamaran dari Alfa."
Anin menganggukkan kepalanya kembali.
"Kamu sebenarnya sudah mendapat jawabannya kan sayang."
"Iya Ma, tapi Anin kepikiran dengan teror itu Ma. Anin takut nanti mas Alfa jadi kehilangan karirnya gara-gara sama Anin."
"Sayang, sekarang dipikir lagi ini ujian hubungan kalian berdua seharusnya kamu itu bicara jujur sama Alfa."
"Iya Ma, Anin nyesel tadi udah bilang begitu sama Mas Alfa."
Anin meneteskan air matanya.
"Sekarang tenangkan diri kamu dulu, dan sekarang Alfa juga mungkin sedang mencari tahu kamu kenapa bersikap seperti itu. Mama yakin Alfa sayang sama kamu Dia pasti akan menemui kamu lagi."
"Iya Ma."
__ADS_1
Anin memeluk Mamanya dan terisak didalam pelukannya.
😢😢😢😢😢