KOPI CINTA

KOPI CINTA
64


__ADS_3

Di dalam mobil nampak hening tak ada pembicaraan. Kak Amel terdiam memandang ke arah jendela setelah tiga tahun lebih dia tidak pernah bertemu dengan suaminya dan baru saja dia melihat ada di hadapannya menginginkan anaknya.


Mama Ani juga diam tampak jelas raut mukanya yang tidak suka dengan kehadiran Indra mantan menantunya.


Anin yang belum mengetahui siapa laki-laki tadi hanya ikut diam tak berani bertanya apalagi melihat wajah Alfa yang tidak begitu bersahabat setelah beradu mulut dengan laki-laki tadi. Namun yang ia mendengar tadi laki-laki itu menyebut nama Arsy dan mengatakan jika dia Papanya.


Arsy yang tadi berada di gendongan Suster kini sudah beralih ke pangkuan Anin.


"Bunda... kenapa."


Arsy memandang Anin yang diam saja terhanyut dalam pikirannya sendiri.


Anin tersenyum dan mengusap kepala Arsy.


"Bunda nggak papa sayang."


Alfa melirik ke sampingnya dimana Anin memangku Arsy dan tersenyum ke arahnya karena Anin begitu menyayangi Arsy.


"Papa... Mau itu.."


Arsy melihat penjual balon bersimpangan dengan mobilnya.


"Di rumah kan ada Sayang.."


"Ndak mau, mau itu..."


Alfa bukannya pelit tidak membelikan tetapi dia masih berwaspada jangan-jangan laki-laki itu masih mengikutinya.


"Arsy, nanti Papa belikan yang banyak."


"Ndak mau..."


Arsy terlihat mewek dan mau menangis.


"Arsy, nggak boleh nakal."


Kak Amel juga merasa takut jika mantan suaminya itu mengikutinya.


"Huukk.. hikss...."


Mulai nangis Arsy.


"Sayang, jangan nangis Arsy kan sudah gede gak boleh nangis. Gak boleh nakal kalau minta sesuatu tidak diturutin itu pasti Mama sama Papa itu punya alasannya." Anin dengan lembut mengusap kepala Arsy dan menghapus air matanya.


Arsy terdiam memandangi Anin yang begitu Sayang dengannya, Alfa juga ikut tersenyum melihat Anin yang bisa menenangkan Arsy.


"Nanti kalau Bunda lihat penjual balon lagi, Bunda beliin buat Arsy ya. Mau berapa Sayang."


"Dua.."


"Iya..." Anin begitu menyayangi Arsy.


"Makasih ya Sayang." Ucap Alfa kepada Anin.


Kemudian mobil mereka sampai didepan gerbang dan terbuka setelah Alfa menekan klakson mobilnya.


Mereka semua turun dan segera masuk ke dalam rumah, namun Alfa malah menemui penjaga rumah mereka dan berpesan agar tidak sembarang menerima tamu.


"Pak, jangan sampai sembarang orang bisa masuk ke rumah ini terutama orang ini." Alfa memperlihatkan foto Indra karena penjaga rumahnya termasuk orang baru.


"Baik Pak, siap laksanakan."


Alfa menyusul mereka masuk ke dalam rumah, Amel langsung masuk ke dalam kamarnya. Mama Ani dan Anin duduk di ruang keluarga sedangkan Arsy karena sudah mulai mengantuk dia sudah dibawa ke kamar oleh Suster.


Alfa ikut duduk di ruang keluarga di samping Anin.

__ADS_1


"Kak Amel mana Ma." Tanya Alfa.


"Sudah masuk ke kamar."


Mama Ani nampak terlihat tidak bersemangat setelah kejadian tadi.


"Alfa." Kata Mamanya.


"Iya Ma."


"Kamu jaga Kakak kamu dan Arsy, Mama nggak mau luka Kakak kamu yang sudah lama akan muncul lagi."


Alfa sudah paham apa maksud Mamanya.


"Iya Ma, Mama gak usah khawatir Alfa akan menjaga Kakak dan juga Arsy."


Anin hanya diam saja mendengarkan pembicaraan Mama dan Anak itu.


"Mama nggak mau Kakak kamu terpuruk lagi dan nanti akan mempengaruhi pengobatannya."


"Iya Ma, Mama tenang ya. Jangan terlalu banyak pikiran ingat kesehatan Mama."


"Anin, sini Sayang."


Mama Ani meminta Anin untuk mendekat kepadanya.


"Iya Ma."


Anin beralih duduk di samping Mama Ani.


"Maaf ya Sayang, kamu harus terlibat dalam masalah keluarga kita."


"Nggak papa Ma, Anin bisa memahaminya."


"Kamu harus selalu ada di samping Alfa dia membutuhkan kamu. Mama percaya sama kamu bisa mendampingi Alfa bagaimanapun keadaannya baik susah maupun senang."


Alfa memandang 2 wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya itu.


"Mama lebih baik membersihkan diri dulu sebentar lagi juga adzan maghrib." Pinta Alfa.


"Anin, pulang nanti ya habis maghrib kamu bisa istirahat dulu di kamar tamu."


"Iya Ma."


"Mama tinggal ke kamar ya."


"Iya Ma, mau Anin temenin Ma."


Mama Ani tersenyum.


"Nggak usah Anin, kamu bersihkan diri kamu."


Mama Ani beranjak dari duduknya dan menuju ke kamarnya.


"Mas, nggak mandi."


"Iya Sayang, kamu juga bersihkan diri kamu dulu ya nanti Mas antar."


"Iya Mas."


Alfa memanggil Bibi untuk mempersiapkan kamar tamu agar Anin bisa membersihkan dirinya.


"Mas ke atas. Apa mau ikut."


Goda Alfa.

__ADS_1


"Nggak.." Anin langsung masuk ke dalam kamar tamu dan menutup pintunya.


Alfa terkekeh di depan pintu kamar yang langsung ditutup Anin.


"Bentar lagi Sayang, nanti ke kamar atas sama Mas." Ucapnya sambil berlalu ke kamarnya.


Adzan maghrib berkumandang mereka semua berjamaah dan kemudian makan malam bersama.


Selesai makan malam Anin berpamitan dengan Mama Ani dan Kak Amel.


"Anin pamit Ma."


Anin meraih tangan Mama Ani dan mencium punggung tangannya.


"Iya Sayang, Alfa hati - hati ya."


"Iya Ma."


"Kak, Anin pamit ya. Jangan sedih lagi kasihan Arsy."


Mereka cipika - cipiki.


"Iya Anin, makasih udah sayang sama Arsy."


"Iya Kak, Anin sayang sama Arsy."


"Kalian hati - hati." pesan Kak Amel.


"Iya Kak."


Alfa melangkah keluar bersama Anin menuju ke garasi.


"Silahkan Sayang." Alfa membukakan pintu mobil untuk Anin.


"Makasih Mas."


Anin masuk dan Alfa menutup pintu kemudian berputar ke pintu samping dan duduk di belakang setir.


"Sudah Sayang."


"Iya Mas."


Alfa menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya menuju ke rumah Anin.


Sepanjang jalan Alfa sesekali melirik ke arah Anin sambil tersenyum.


"Kenapa Mas."


"Mas mau memandang kamu lebih lama karena besok kita dipingit."


Anin tersenyum saja.


"Cuma tiga hari Mas."


"Lama Sayang, tapi bisa video call kan." Alfa tersenyum licik.


"Nggak ada, sama aja itu nggak dipingit."


"Jangan dong Sayang, Mas nggak bisa kalau nggak lihat wajah kamu."


"Telepon aja Mas."


"Masih kurang Sayang."


"Ya udah nggak usah telepon sekalian." Ancam Anin.

__ADS_1


"Jangan dong, ya udah telepon aja." Alfa mengalah..


😀😀😀😀😀


__ADS_2