KOPI CINTA

KOPI CINTA
91


__ADS_3

"Apa yang mau kamu bilang, kamu mau bilang kalau kamu hanya menuruti kemauan kedua orang tuamu." Alfa akhirnya mengungkap semuanya di depan Kakaknya dan membuat Amel seperti tak percaya.


"APA!!!"


Amel terkejut mendengar ucapan Alfa dan Indra terlihat lemas kini Amel sudah mengetahui semuanya.


" Untuk itulah Kak kenapa Alfa dan Mama selalu melarang Kakak untuk bertemu dengan laki-laki ini, yang tidak pernah bertanggung jawab dan tidak pernah punya pendirian."


"Amel aku bisa menjelaskannya."


Indra mendekati Amel dan bersimpuh di hadapannya.


"Aku nggak menyangka ternyata kedua orang tuamu yang malu memiliki menantu seperti diriku ini padahal kan asal mereka tahu aku seperti ini juga gara-gara KAMU!!!"


Amel terlihat emosi dan dia sangat membenci kelakuan Indra.


"Papa.." Suara Arsy yang datang bersama Susternya dan kedua anak buah Alfa.


Indra terbelalak mendengar Aray memanggil Alfa dengan sebutan Papa.


"Sini Sayang."


Alfa menggendong Arsy.


"Papa... Aku Papanya Alfa."


teriak Indra dan Alfa memandangnya dengan sinis.


" Laki-laki seperti kamu tidak pantas disebut Papa."


"Alfa kita pergi dari sini."


pinta Amel.


"Ayo Kak."


Amel didorong oleh suster dan Alfa menggendong Arsy, diikuti oleh kedua anak buah Alfa.


"Alfa... Aku Papanya Arsy."


Indra sudah kehilangan urat malunya berteriak seperti itu di restoran yang penuh dengan pengunjung.


Mereka terus berjalan menuju ke mobil, Alfa meminta kakaknya untuk naik ke atas mobilnya dan Ia mengantarkannya pulang diikuti oleh Pak Doni dan juga kedua anak buahnya menggunakan sepeda motor.


Tak lama mobil Alfa masuk ke dalam rumah dan segera membantu Kakaknya untuk turun dari mobil. Mama Ani yang sudah pulang dari menjenguk temannya berdiri di teras karena dia sudah mendengar cerita dari Bibi.


"Amel.. Mama kan sudah bilang jangan temui laki-laki itu lagi."


Amel terdiam dia masih tak menyangka Indra meninggalkannya karena keinginan kedua orang tuanya.


"Sudah Ma, biar Kak Amel istirahat dulu."

__ADS_1


Suster mengantar Amel ke kamarnya untuk beristirahat dan kemudian mengurus keperluan Arsy.


Alfa kemudian mengumpulkan satpam dan kedua anak buahnya untuk memperingatkan mereka untuk tetap berjaga dan jangan sampai kejadian seperti tadi barusan terulang lagi.


Dia menemui Mamanya yang duduk di ruang keluarga sendirian.


"Ma.. Jangan melamun sudah sore."


"Mama masih tidak menyangka Kakak Kamu nekat melakukan itu."


"Maafkan Alfa Ma, Alfa sudah mengatakan semuanya kepada Kak Amel jika Indra meninggalkannya dulu karena keinginan orang tuanya."


Mama Ani menatap ke arah Alfa.


"Kakak kamu gimana sekarang."


"Sepertinya Kak Amel merasa kecewa karena ternyata dulu Indra meninggalkannya karena menuruti keinginan kedua orang tuanya."


"Biar dia sadar Alfa, Mama sudah nggak tau bagaimana cara memberitahu kakakmu itu. Mama ini tidak tega melihat anak kesayangan Mama dihina oleh orang tua Indra."


"Sudah Ma.."


Alfa memeluk Mamanya dan mengusap punggungnya.


"Anin mana Fa."


Mama Ani melepaskan pelukan Alfa dan menyadari jika Anin sejak tadi tidak ada di rumah.


"Masih di rumah Mama Rani, tadi Alfa melarangnya untuk ikut nanti Alfa akan jemput dia di sana."


"Tapi Ma, bisa saja kan nanti Indra nekat ke sini."


"Alfa, Mama yakin rumah ini sudah aman. Kamu sudah meminta kedua anak buah Mu untuk menjaga lagian ada Pak satpam juga Indra nggak akan berani masuk."


"Alfa khawatir Ma."


"Alfa.. Anin itu istri kamu dia juga ingin diperhatikan sama Kamu. Selama ini waktu kamu sudah banyak habis untuk pekerjaan dan juga mengurusi Kakak kamu. Kasihan Anin Fa, Dia sudah terlalu banyak mengerti kamu tapi Kamu malah terus mementingkan keluarga kita terus, berikan waktu kamu untuk Dia juga."


Alfa menghela nafasnya, benar juga apa yang dikatakan oleh Mamanya. Anin sama sekali tidak pernah protes kepada dirinya walaupun waktunya habis untuk bekerja masih juga setelah sampai rumah masih mengurusi keluarganya.


"Baik Ma."


"Sekarang telepon Dia, pasti dia sudah menunggu kamu."


"Iya Ma."


Alfa mengambil ponselnya kemudian video call dengan istrinya, melihat wajah Anin yang khawatir membuat dirinya menjadi semakin bersalah.


"Sayang, Mas nanti ke sana habis sholat maghrib ya."


"Iya Mas, hati - hati ya Mas."

__ADS_1


"Iya Sayang, Love You. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah menutup panggilan video call-nya Alfa menuju ke kamar segera membersihkan diri karena sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.


Dia segera turun dan berjamaah bersama Mamanya karena Amel tidak keluar dari kamarnya dia melaksanakan sholat di dalam kamar.


Selesai sholat Alfa menuju ke kamar berganti pakaian karena ingin segera menyusul istrinya.


"Ma, Alfa pamit ya."


Alfa meraih tangan sang Mama dan mencium punggung tangannya.


"Kamu nggak makan dulu."


"Mau makan sama istri Ma." Katanya sambil tersenyum.


"Ya udah, hati - hati ya."


"Iya Ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Alfa melangkah keluar menuju ke garasi dan segera melajukan mobilnya menyusul istrinya yang masih di rumah Mama Rani.


Setelah menempuh perjalanan mobil Alfa berhenti di depan rumah yang mempunyai gerbang hitam dan tertutup itu.


Anin melihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumah langsung tersenyum karena itu mobil suaminya. Dia keluar untuk membukakan gerbang dan Alfa sudah turun untuk membuka gerbang sendiri.


"Minggir Sayang, Mas aja."


Anin tersenyum menunggu suaminya membuka gerbang dan memasukkan mobilnya ke dalam.


"Mas.."


Anin meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya dan Alfa pun mengecup keningnya.


"Maaf ya Sayang, Mas lama."


"Nggak papa Mas, Anin sudah bersiap kom tinggal pamit Mama sama Papa."


Alfa mengerutkan dahinya.


"Pamit mau kemana Sayang."


Alfa memeluk pinggang ramping istrinya dan mengajaknya masuk.


"Kita pulang kan Mas, kasihan Kak Amel di rumah."


Alfa tersenyum, "Kita tidur sini Sayang, Mas kangen tidur di kamar kamu."

__ADS_1


Anin tersenyum senang mendengar itu dan mengajak suaminya ke dalam untuk makan malam.


😉😉😉😉


__ADS_2