
Pagi hari Alfa, Anin, Mama Ani, Kak Amel dan juga si kecil Aray sarapan bersama. Mereka menikmati masakan yang dimasak oleh Mama Ani sendiri tadi pagi karena Anin tadinya mau membantu tapi begitu mencium bau bawang dia rasanya mau muntah dan kemudian dilarang oleh Mama Ani untuk ke dapur.
"Sayang, nggak pakai sayur."
Alfa melihat istrinya hanya makan nasi dengan ayam goreng saja yang ditambah sambal.
"Nggak mau Mas."
"Jangan dipaksa Alfa yang penting ada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh Anin. Orang hamil itu biasa ada aja makanan yang tidak disukainya." Kata Mama Ani.
"Maaf ya Ma, bukannya Anin nggak mau masakan mama tapi mencium bau sayur itu nggak enak."
"Nggak papa Sayang, Mama mengerti kok tapi kamu jangan lupa sambil minum vitamin ya. Nanti Mama masakan sayur yang tidak membuat kamu mual."
"Makasih Ma."
Setelah menghabiskan sarapannya Alfa pun berpamitan dengan Mamanya untuk berangkat ke kantor.
"Mama jangan capek-capek ya kalau mau ke restoran minta diantar sama sopir terus cuma ngecek aja jangan ke dapur." Pesan Alfa karena dia tahu Mamanya itu nggak akan tinggal diam kalau sedang berkunjung ke restoran.
"Iya Pak, Mama nurut deh."
Alfa meraih tangan Mamanya dan mencium tangannya, setelah itu dia berganti berpamitan dengan Sang Kakak.
"Fa... Kakak bisa minta tolong."
"Apa Kak."
Alfa pun duduk kembali dan mendengarkan Kakaknya.
"Kamu atur ya pertemuan Kakak dengan Mas Indra."
Mama Ani, Alfa dan Anin kaget mendengar keputusan dari Amel.
"Kakak yakin."
"Kamu serius Amel." Mama Ani tak kalah kaget.
"Yakin Ma, Amel mau mencoba mendengarkan apa yang sebenarnya mau dijelaskan oleh Mas Indra Ma sekaligus Amel akan memberi tahu kepada Arsy jika Mas Indra itu telah Papa kandungnya."
Mama Ani yang biasanya keras kini dia menyerahkan semua keputusannya kepada Amel karena dia yang menjalaninya.
"Mama... Mama mengijinkan kan jika Amel menemui Mas Indra."
Mama Ani tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya.
"Oke, Alfa akan atur tetapi yang membuat janji harus Kak Amel sendiri dengan si Indra itu. Alfa hanya akan menemani Kak Amel untuk menemui Indra."
"Iya Fa."
Kemudian Alfa pun berangkat bekerja dengan di antar sampai ke teras.
__ADS_1
"Hati - hati ya Mas."
Anin meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.
"Iya Sayang."
Alfa mengecup kening Anin dan mengusap perutnya dengan lembut.
"Sayang, di rumah sama Bunda ya jangan merepotkan Bunda."
Katanya kepada sang calon anak yang ada di rahim sang istri.
"Mas berangkat Sayang, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Mas."
Mobil Alfa mulai berjalan meninggalkan rumah menuju ke arah kantor dan Anin masuk ke dalam rumah.
Di ruang keluarga terlihat Amel sedang membuka ponselnya sambil menemani Arsy yang suka sekali menggambar.
"Bunda..."
Arsy memanggil Anin yang berjalan mendekat dan Amel pun mulai mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Arsy buat apa."
"Ini Tayo Bunda, walnanya bilu."
"Anin..." Panggil Amel.
"Iya Kak."
Anin memandang Amel.
"Apa seharusnya aku hubungin Mas Indra ya."
"Kalau menurut Anin kita tunggu aja Kak, buka aja blokiran dari nomornya Mas Indra terus kita tunggu bagaimana reaksinya. Apa masih ada keinginan untuk bertemu dengan Kak Amel, semacam Kita uji keseriusannya Kak."
Saran Anin dan Amel menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Begitu ya Nin, menurut Kakak bagus juga ide kamu. Sekalian Kakak bisa tahu keseriusan dari dia."
"Iya Kak, nanti kalau Kakak yang menghubungi dulu malah kesannya Kakak memberi kesempatan yang selebar-lebarnya untuk dia bisa mendekat lagi."
"Kamu pinter Anin, he he he... Apa waktu kamu pacaran sama Alfa kamu gituin dia."
Amel malah mengalihkan pembicaraan dengan membahas percintaan adik iparnya itu.
"He he he.. Kak Amel ada aja."
"Cerita dongen Nin, Kakak penasaran nih gimana Alfa yang kaku itu deketin kamu."
__ADS_1
"He he he... Mas Alfa kalau sama Anin nggak kaku kok Kak. Malah lembut banget, perhatiannya itu yang membuat Anin luluh."
"Ha ha ha.. Memang Alfa sebenarnya itu penyayang banget orangnya, dia jaga image aja kali kalau di kantor." Tawa Amel.
"Iya Kak, waktu Anin pertama lihat masa Alfa di kantor itu serem. Nggak bisa senyum, tapi kalau di luar kantor dia penyayang banget."
"Ciye.. langsung jatuh cinta ya begitu diperhatikan sama Alfa."
"Gimana nggak luluh Kak, tiap hari di samperin di rumah. Lagian Mas Alfa itu pintar Kak deketin nya Mama sama Papa baru ke anaknya."
"Ha ha ha... Lucu kalian ini, tapi waktu itu katanya kamu sempet mau putus."
"Putus..?"
"Iya, Alfa coba cerita agak menjauh aja dari kamu karena dia sibuk di luar kota dan kamu nya sulit dihubungi."
"Gimana mau putus Kak, pacaran aja nggak. Cuma Mas Alfa langsung menyatakan keseriusannya, saat itu Anin mau melepas masa Alfa aja Kak karena Anin diteror sama seseorang dan jika Anin masih dekat dengan Mas Alfa akan menghancurkan karirnya."
"Sampai segitunya."
"Iya Kak, tapi Mas Alfa meyakinkan Anin hubungan kita tidak akan mempengaruhi karirnya di kantor."
"Alfa itu pekerja keras Anin dia enggak akan takut kehilangan pekerjaannya di kantor. Bisnisnya dia aja udah berjalan lancar itu sama si Riko."
"Iya, Anin baru tahu kalau Mas Alfa itu punya bisnis showroom."
"Dia memang begitu, sederhana aja Anin tapi rekeningnya menggembung."
"Kakak, bisa aja."
Mereka bercanda, hingga ponsel Amel pun berbunyi dan tertera nama mantan suaminya di sana yang menghubungi.
"Anin, lihat."
Amel memperlihatkan ponselnya ke arah Anin.
"Angkat kak."
Mereka berbicara singkat dan intinya mereka membuat janji untuk bertemu, Amel pun juga memberikan beberapa syarat salah satunya akan mengajak keluarganya.
"Semoga lancar ya Kak."
"Iya Anin, Kakak mau masalah ini cepat selesai. Walaupun hubungan kami telah berakhir tetapi Arsy tidak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya."
"Iya Kak, semua demi kebaikan Arsy."
☺☺☺☺☺...
Mana jempolnya.. 👍👍👍
Komen yuk.. kasih 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1