KOPI CINTA

KOPI CINTA
75


__ADS_3

Selesai makan malam Alfa menunggu istrinya yang membantu Bibi membersihkan peralatan makan Mereka.


Walaupun Anin sudah di larang oleh Mama Ani, dia merasa tidak enak sebagai menantu hanya diam saja.


Mama Ani ikut bergabung dengan Alfa sedangkan Amel sedang menidurkan Arsy.


"Fa.." Panggil Mamanya.


"Iya Ma."


Alfa menghadap ke Mamanya.


"Kamu nggak pergi bulan madu."


Alfa tersenyum.


"Nanti Ma, mau di rumah aja dulu menikmati cuti."


"Kalian kan pengantin baru, kasihan Anin nggak diajak bulan madu kapan Mama punya cucu."


"Di rumah juga bisa bikin cucu Ma." Ucap Alfa tanpa malu, Anin datang membawa minum bersemu merah mukanya karena malu mendengar suaminya bicara begitu.


"Minum Mas, Mama mau minum juga Anin ambilkan." Tawar Anin.


"Makasih Sayang. Anin duduk sini." Anin tadinya mau duduk di samping suaminya yang sudah memberi tanda dengan merentangkan tangannya di sandaran sofa.


"Iya Ma." Anin tersenyum ke arah Alfa.


"Mama mau tanya Sayang."


"Tanya apa Ma." Anin menatap Mama mertuanya itu.


"Alfa ngajak kamu bulan madu nggak Sayang."


Alfa menatap Mamanya dan Anin juga menatap ke suaminya.


"Mas Alfa udah ngajak Ma, tapi Anin yang mau di rumah aja kok Ma." Katanya sambil tersenyum.


"Beneran."


Mama Ani menelisik wajah Anin.


"Iya Ma." Katanya sambil tersenyum.


"Alfa, kamu nggak usah terlalu memikirkan Kakak." Amel keluar dari kamar Arsy dan langsung bergabung dengan mereka. Amel sudah merasa pasti gara - gara dirinya Alfa dan Anin tidak berangkat bulan madu.


"Maksud Kak Amel gimana." Kata Alfa sambil memandang Amel.


"Kalian tidak berangkat bulan madu pasti gara-gara kalian mikirin Kakak."


Mama Ani memandang Alfa.


"Fa.. Kakak sudah bilang jangan nomor duakan kebahagiaan kalian. Berangkat aja Kakak nggak papa di rumah sama Arsy lagian kamu juga sudah menyuruh orang untuk menjaga rumah, Indra nggak akan berani masuk."


"Kak, Alfa khawatir."


Alfa mendekati Kakaknya dan meriah tangannya.


"Kamu khawatir dengan Kakak, tapi apa kamu nggak sayang sama Anin. Dia istri kamu dia berhak bahagia juga, kalian pergilah bulan madu."


Anin mendekat ke Amel.


"Kak, Anin sudah bahagia sama Mas Alfa. Kita tidak bulan madu karena memang mau di rumah Kak."


"Anin, jangan bohong sama Kakak. Kakak tau kamu di suruh sama Alfa untuk bilang begitu."


"Nggak Kak, Anin nggak bohong."


"Alfa, kalau kamu sayang sama Kakak dan Arsy kalian pergilah bulan madu."


Amel kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan mereka.


Alfa memandangi Kakaknya yang pergi, kemudian Mamanya memanggilnya.


"Alfa, Anin."

__ADS_1


"Iya Ma."


Mereka kembali duduk di sofa.


"Biarkan Kakak kamu tenang dulu, Mama paham kenapa kalian nggak mau pergi bulan madu. Saat ini Kakak kamu pasti merasa bersalah sama kalian karena sudah menjadi beban buat Alfa."


"Alfa nggak tega Ma, Alfa khawatir dengan Kak Amel dan Arsy."


"Mama paham, tapi sifat Kakak kamu kan perasa banget. Nanti kalau sudah tenang ajak bicara Kakak kamu."


"Iya Ma."


"Ya udah kalian istirahat saja sudah malam." Pinta Mama Ani.


"Mama istirahat juga."


Mama Ani masuk ke dalam kamarnya, Alfa juga mengajak Anin untuk ke kamar dengan menggandeng tangannya naik ke lantai dua.


"Mas, tenang ya nanti Anin yang bicara ke Kak Amel."


"Makasih ya Sayang, maafin Mas." Alfa merangkul pundak Anin dan membuka pintu kamarnya dan menguncinya kembali.


"Sayang."


Alfa memeluk Anin dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Anin sambil mencium pipinya.


"Maafin Mas."


"Iya Mas nggak papa." Anin tersenyum dan mengusap punggung tangan Alfa yang melingkar di perutnya.


"Anin mau ke kamar mandi Mas."


"Mau ngapain."


Alfa masih memeluknya.


"Mau membersihkan muka terus tidur Mas capek Anin."


"Baju tidurnya di lemari ya Sayang."


"Iya tadi Anin udah lihat, yang beli siapa Mas."


"Masa Mas yang beli sendiri."


"Nggak lah Sayang, Mama sama Kak Amel itu yang isi lemari. Pakai yang seksi ya Sayang."


Bisik Alfa dan membuat bulu kuduk Anin merinding.


"Iya, please..."


"Kalau Anin nggak mau dosa nggak."


"Dosa dong kan nolak keinginan Suami."


"Kalau gitu pilihkan, Mas mau Anin pakai yang mana."


Sudah berani sekarang Anin nggak malu-malu lagi lagian mereka juga sudah halal.


"Oke."


"Mas..."


Anin kaget Alfa langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ruang ganti baju.


Alfa menurunkan tubuh Anin dan kemudian memilihkan baju tidur untuk Anin.


"Ini Sayang."


Raut muka Anin langsung melongo melihat baju yang diambil oleh Alfa.


"Itu kayak nggak pakai baju Sayang."


Alfa berbinar mendengar Anin memanggilnya sayang. Dia menangkup wajah Anin dengan kedua tangannya.


"Coba sekali lagi, tadi bilang apa."

__ADS_1


"Bilang apa Mas."


"Tadi manggil Mas apa."


Anin meringis memperlihatkan gigi putihnya.


"Lupa Anin."


"Sayang, ulangi nggak tadi bilang apa." Alfa mengecup bibirnya.


"Hmm.. Mas Alfa Sayang.."


Alfa tak tahan lagi dia menyerang Anin hingga mereka kehabisan nafas.


"Mas seneng banget, Sayang."


Alfa baru melepaskannya dan tersenyum memandang wajah istrinya, Anin sendiri masih terengah-engah mengatur nafasnya.


"Sayang pakai ini ya."


Anin tersenyum dan mengambil baju itu dari tangan Alfa kemudian menuju ke kamar mandi.


"Ganti sini aja Sayang."


"Nggak mau, nggak jadi cuci muka Anin Mas." Katanya sambil berlalu meninggalkan suaminya yang tersenyum.


Alfa juga mengganti kaos yang ia kenakan dengan yang lebih tipis supaya tidur lebih nyaman kemudian menunggu istrinya sambil merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan memainkan ponselnya.


Di dalam kamar mandi Anin merasa senang tapi juga bersalah begitu melihat tamu bulanannya datang karena dia sudah merasakan perutnya tidak enak dari tadi.


Alfa yang merasa istrinya lama kemudian mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang... Ngapain kok lama."


"Iya Mas bentar."


Anin merapikan rambutnya dan segera membuka pintu kamar mandi.


Alfa masih berada di depan pintu dan dia melihat Anin belum berganti baju.


"Kok belum ganti Sayang."


"Mas..." Suara Anin dengan sedikit bersalah.


"Kenapa Sayang."


Alfa meraih tangan Anin.


"Tamu Anin datang."


Alfa mengerutkan dahinya dia masih belum paham.


"Tamu...?"


"Iya Mas, tamu bulanan Anin datang. Maaf ya Mas."


Jujur Alfa merasa sedikit kecewa rencananya gagal namun mau bagaimana lagi itu juga bukan keinginan istrinya.


"Sayang, nggak papa Mas ngerti kok." Alfa menangkup wajah Anin.


"Maaf ya Mas."


Alfa mengecup kening Anin dan memeluknya.


"Ganti baju Sayang, kita tidur."


"Iya Mas."


Anin berlalu untuk mengambil baju ganti dan sekaligus alat perangnya. Setelah selesai dia menghampiri suaminya yang berada di tempat tidur.


"Sini Sayang."


Alfa meraih tangan Anin dan memeluknya.


"Jangan sedih, lain hari masih bisa kita coba lagi."

__ADS_1


Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Alfa mengajak tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


😃😃😃😃😃


__ADS_2