
"Papa berangkat ke kantor ya sayang."
Alfa mengecup kening Anin dan tak lupa perut besar istrinya itu.
"Iya Pa, hati - hati."
Alf masih memandang Anin dengan rasa khawatirnya, pikirannya sudah over thinking takut istri dan anaknya kenapa Napa saat dia ke kantor.
"Kenapa Pa."
Anin tersenyum ke arah Alfa.
"Papa khawatir Sayang, kita ke rumah sakit aja yuk." Bujuk Alfa.
"Anin nggak papa Mas, Mas berangkat aja ke kantor. Belum waktunya juga untuk melahirkan."
Anin sudah merasa dirinya baik - baik saja, tidak merasakan kontraksi lagi.
"Yakin Sayang."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Alfa belum berangkat."
Mama Ani keluar.
"Belum Ma, Alfa khawatir sama Anin tadi sempat kencang perutnya."
"Nggak papa, biasa seperti itu kalau kehamilan sudah mendekati waktu melahirkan. Kamu berangkat saja ada Mama di rumah lagian juga ada sopir nanti bisa berangkat ke rumah sakit kalau ada apa-apa." Kata Mama Ani.
"Tapi Ma, Alfa khawatir."
"Kamu percaya aja sama Mama, Anin aman di rumah."
"Baik Ma."
Alfa lalu mengusap perut Anin dan mengajak bicara calon anaknya yang ada di dalam perut istrinya.
"Baik - baik ya Sayang, Papa kerja dulu."
Lalu Alfa pun melangkah kan kakinya menuju ke mobil yang sudah siap membawanya ke kantor.
__ADS_1
Setelah mobil Alfa tidak kelihatan lagi Anin pun diajak masuk oleh Mama Ani ke dalam rumah, namun sesaat sebelum sampai di sofa ruang keluarga Dia merasakan perutnya kencang lagi.
"Aduh...."
Suara Anin mengagetkan Mama Ani yang berjalan ke dapur untuk mengambil minum.
"Anin, kamu kenapa."
Mama Ani melihat Anin memegang perutnya dan meringis menahan sakit.
"Sakit Ma."
Mama Ani menuntunnya ke sofa untuk duduk.
"Duduk dulu Sayang."
"Aduh.. Ma, sakit rasanya."
"Bi, ambilkan minum."
Teriak Mama Ani.
"Atur nafas sayang, hirup keluarkan. Kalau kamu kurasa sudah tidak bisa menahannya kita ke rumah sakit sekarang."
Anin masih mengatur nafasnya.
"Ini Nyonya."
Bibi membawakannya air minum.
"Minum dulu Sayang."
Anin meminum air yang ada di dalam gelas itu untuk membasahi kerongkongannya.
"Gimana Sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya."
"Ma.. Hilang lagi rasa sakitnya."
Kata Anin sambil masih mengatur nafasnya dan mengusap perutnya.
"Sepertinya memang sudah dekat kamu untuk melahirkan, lebih baik Mama telepon Mama kamu sekarang biar bisa ke sini nanti ke bisa menemani ke rumah sakit."
__ADS_1
Mama Ani lalu menghubungi besannya untuk memberitahu jika Anin sudah sering mengalami kontraksi.
Mama Rani sendiri di sana begitu mendapat kabar dari Mama Ani, Dia langsung menuju ke rumah besannya setelah meminta ijin ke Papa Budi karena sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Anin.
"Udah sakit lagi Ma."
Anin kembali merasa baik-baik saja tidak merasakan kontraksi.
"Sayang, kalau nanti merasakan perutnya kencang kembali kita harus berangkat ke rumah sakit bahaya kalau didiamkan di rumah saja."
Mama Ani mengusap perut menantunya.
"Iya Ma, tapi kata Dokter masih sekitar satu Minggu lagi."
"Itu hanya perkiraan dokter sayang, tapi kan Allah yang berkehendak kapan kamu harus melahirkan."
"Iya Ma, Anin ikut saran Mama."
Anin masih istirahat di sofa dengan di temani Mama Ani tak lama Mamanya datang dengan naik taksi online.
Mama Rani menghampiri Anin yang berada di ruang keluarga begitu di beri tau Bibi.
"Assalamualaikum."
Suara Mama Rani membuat Anin tersenyum, dan menjawab salamnya bersama Mama Ani.
"Waalaikumsalam."
"Gimana keadaan kamu Sayang "
Mama Rani nampak sangat mengkhawatirkan putrinya.
"Anin baik - baik saja Ma."
"Pagi ini sudah mengalami kontraksi dua kali jeng, saya meminta Anin kalau ini terjadi kontraksi lagi kita harus berangkat ke rumah sakit." terang Mama Ani.
"Iya Ma bener. Alfa berangkat kerja." Tanya Mama Rani.
"Tadi maunya tidak mau berangkat, tapi Anin meminta sama Alfa untuk berangkat kerja aja nanti kalau ada apa-apa akan telepon."
Tak lama ponsel Anin berdering dan Alfa memanggil.
__ADS_1
Anin menceritakannya kepada Alfa dan membuat suaminya itu langsung putar balik pulang ke rumah.
😉😉😉😉