
"Makasih Sayang."
Alfa meriah tangan Anin dan menggenggamnya, Mereka saat ini sedang makan siang bersama.
Kabar pertunangan mereka pun sudah merebak, hampir semua karyawan di perusahaan sudah mengetahuinya tak terkecuali Siska yang semakin benci dengan Anin.
"Makasih buat apa Mas."
"Makasih sudah mau menerima Mas. Sayang..."
"Iya Mas."
"Misal Mas meminta kamu untuk keluar dari perusahaan bagaimana."
Anin memandang Ke arah Alfa lalu tersenyum.
"Anin nggak papa Mas, Anin mau."
Alfa pun tersenyum.
"Mas ingin kamu di rumah saja enggak usah bekerja, menunggu Mas pulang kerja sambil merawat anak-anak kita nanti."
"Iya Mas."
Anin sambil menganggukkan kepalanya.
"Kita ke batik sekarang ya."
Mereka akan melakukan fitting baju untuk acara Ijab Qobul serta resepsi mereka.
"Oke, Mama udah di sana.?"
"Sepertinya udah ke sana tadi sama Kak Amel."
"Iya Mas."
Alfa menggenggam tangan Anin dan mengajaknya keluar dari restoran itu.
Mobil melaju ke arah butik kenalan Mama Ani, Alfa tak hentinya tersenyum bahagia sambil melirik kearah calon istrinya yang duduk disampingnya.
"Kenapa Mas senyum-senyum aja dari tadi."
"Rasanya udah nggak sabar sayang, mau halalin kamu."
Anin tersenyum saja.
Alfa membelokan mobilnya ke sebuah butik dan sudah terlihat mobil sedan milik Amel terparkir di sana.
"Ayo Sayang turun."
Alfa mengulurkan tangannya dan diterima oleh Anin. Mereka berdua masuk ke dalam dengan bergandengan tangan.
Mama Ani sudah ada di dalam bersama Amel dan Arsy juga ikut.
"Bunda.."
Arsy berlari ke arah pintu begitu melihat Anin dan Alfa masuk ke dalam.
"Halo Sayang."
Anin mengangkat tubuh Arsy dan menggendongnya.
"Arsy, Bunda keberatan sini sama Papa."
Alfa kasihan tubuh kecil Anin mengangkat Arsy yang terlihat gembul.
"Nggak papa Mas."
"Menantu Mama sudah datang ini."
Anin meraih tangan Mama Ani dan mencium punggung tangannya.
"Ini menantu kamu Ani."
Karina pemilik butik itu temannya Mama Ani.
"Iya Karina, ini menantu aku."
"Anin, Tante."
Anin meraih tangan Tante Karina dan mencium punggung tangannya.
"Cantik sekali."
"Iya dong "
__ADS_1
Mama Ani bangga dengan menantunya.
"Anin, ini ada beberapa gaun yang bisa kamu pilih untuk acara Ijab Qobul nanti dan juga resepsi."
"Iya Ma."
Anin menoleh ke arah Alfa yang duduk di samping kakaknya bersama Arsy.
"Mas.."
"Iya Sayang kenapa."
Alfa berdiri menghampirinya.
"Mas suka yang mana."
Anin bingung harus memilih yang mana.
"Terserah kamu Sayang, kamu suka yang mana." Alfa mengusap kepala Anin dengan lembut.
"Anin bingung."
"Oke, kita lihat dulu ya."
Mereka berdua terlihat serius memperhatikan setiap model yang ada dan juga warna.
"Ini Mas."
Anin menunjuk sebuah gaun dengan warna merah marun yang terlihat cantik.
"Oke, bagus Sayang. Mas suka."
"Mau yang ini ya, pas banget pilihan kamu Anin ini model terbaru dari kami." Terang tante Karina.
"Bisa di coba kan Tante." Kata Alfa.
"Bisa dong ayo Anin silakan masuk ke dalam Alfa juga sekalian dicoba jasnya nanti tinggal ukurannya aja yang disesuaikan dengan badan kalian."
Mereka berdua masuk ke dalam, kalau laki-laki cepat karena hanya mencoba setelan dari jas dan juga celananya, sedangkan Anin masih di bantu pegawainya Tante Karena untuk mencoba gaunnya.
Setelah siap Anin keluar dengan mengenakan gaun yang berwarna merah marun itu.
Alfa melihatnya hingga tak berkedip dan tersenyum sendiri melihat Anin yang anggun dan cantik.
"Kak Amel, ganggu aja."
Mama Ani sudah terlihat senang sekali dia menghampiri Anin dan memuji kecantikannya.
"Cantik sekali Sayang."
"Makasih Ma."
"Bunda... Kayak Plincesss, Arsy mau.."
"Iya, nanti Arsy juga pakai seperti ini kayak Bunda." Kata Mama Ani.
"Sayang, Bunda cantik ya."
Kata Alfa.
" Bunda cantik, Pa."
Anin tersipu malu mendapatkan pujian dari calon suaminya.
Setelah mereka selesai memutuskan 2 baju, yang satu untuk acara ijab qobul dan satu digunakan untuk resepsi kemudian pergi dari butik itu dan Alfa pun mengantar Anin untuk pulang.
Diperjalanan Anin melihat Alfa yang seperti memikirkan sesuatu.
"Mas..."
"Hmmm.. Iya Sayang."
Alfa sekilas memandang ke arah Anin dan tersenyum.
"Mas Alfa, lagi mikirin apa."
Alfa tersenyum saja supaya Anin tidak kepikiran dan menganggapnya dia baik-baik saja.
"Nggak kok Sayang."
"Mas, lagi ada masalah atau beban kerja yang berat."
"Nggak kok Sayang."
Bohong Alfa semata-mata hanya ingin supaya Anin tidak ikut kepikiran.
__ADS_1
"Mas, kata Mas Alfa kita harus saling terbuka, jujur kalau ada masalah dan cerita. Tapi Mas Alfa dipendam sendiri Anin rasain kok Mas kalau Mas Alfa itu sedang ada masalah."
Kata Anin sambil menatap ke arah Alfa.
Alfa tersenyum ke arah Anin.
"Hanya masalah pekerjaan aja kok sayang." Alfa mengusap tangan Anin.
"Anin nggak boleh tau ya, ya udah kalau Mas Alfa enggak mau cerita. Anin akan menghargai privasi dari Mas Alfa tapi kalau mau cerita Anin juga mau dengerin."
Alfa tersentak mendengar Anin bicara seperti itu.
"Bukan begitu maksud Mas Sayang, Mas cuma ingin kamu itu tidak ikut kepikiran aja dengan masalah Mas." Kata Alfa sambil tersenyum.
"Anin ngerti kok Mas, mungkin Anin juga nggak akan bisa bantu kalau Mas Alfa cerita."
Anin mengalihkan pandangannya dan membuang mukanya ke arah jendela.
"Sayang.." Alfa meraih tangan Anin.
"Maafin Mas, bukan begitu maksud Mas."
Anin diam saja dan memandang kearah jendela.
"Oke, Mas akan cerita tapi Sayang janji jangan ikut kepikiran setelah Mas cerita"
"Iya Mas."
"Masalah dokumen kemarin yang hilang, Mas belum bisa menemukannya tapi Mas masih terus berusaha untuk mencarinya."
Anin langsung menundukkan kepalanya.
"Sayang..."
Alfa meriah tangan Anin.
"Maafin Anin..."
"Ini lho Mas yang nggak suka, Kenapa Mas gak mau cerita. Seperti ini kamu akan menyalahkan diri kamu sendiri sayang."
"Tapi memang semuanya gara-gara Anin."
Alfa merasa berbahaya jika diteruskan dengan sambil menyetir, akhirnya dia pun menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti Mas."
Anin mengangkat wajahnya dan sudah terlihat pelupuk matanya yang terisi dengan air mata.
Alfa menatap Anin sambil meraih kedua tangannya.
"Sayang, kamu nggak salah ini semua sudah resiko pekerjaan Mas. Kamu nggak usah menyalahkan diri kamu sendiri, Mas nggak suka kamu seperti itu."
"Hiks...hiks.." Anin sudah terisak.
"Jangan nangis dong Sayang, maafin Mas." Alfa mengusap air mata Anin dengan jarinya.
"Mas, nanti kalau nggak ketemu gimana dokumennya."
"Mas yakin bisa menemukannya, tapi belum tahu juga apakah orang yang Mas suruh cari bisa menemukannya besok."
"Terus gimana kalau nggak ketemu."
"Mas udah siap menanggung resikonya apapun itu, yang penting kamu selalu ada di sisi Mas, Sayang."
"Anin minta maaf."
"Sayang, Mas masih bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga kita nanti walaupun seandainya nanti Mas tidak bekerja lagi di sana."
Anin tersentak dan langsung menatap Alfa.
"Mas kenapa bicara begitu."
"Itu resikonya Sayang, yang harus Mas tanggung."
"Ini nggak adil Mas."
"Sudah Sayang, Mas nggak papa. Saat ini yang Mas butuhkan itu kamu, kamu yang akan selalu ada disisi Mas dalam senang maupun duka."
"Anin akan selalu menemani Mas Alfa."
"Gitu dong, baru istri Mas. Jangan suka nangis ini hidung kayak tomat bikin gemes aja."
Alfa mencubit pelan hidung Anin.
😍😍😍😍😍
__ADS_1