
Surat ijin dari Dokter telah habis, Anin pun harus masuk kerja.
Pagi hari dengan dibantu Mamanya Dia bersiap kerja, sebenarnya Anin sudah bisa sendiri namun Mamanya yang terlalu mengkhawatirkannya.
Hari ini Anin akan diantar oleh Papanya sampai ke kantor dan nanti sore saat pulang akan di jemput kembali.
Selesai sarapan Anin berpamitan dengan Mamanya dan berangkat ke kantor bersama Papa Budi.
"Sayang ingat hati - hati ya, jangan dipaksakan terlalu banyak bergerak."
Pesan Mamanya.
"Iya Ma, Anin berangkat ya Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Sayang, Pa hati - hati ya."
"Iya Ma."
Anin menggunakan penyangga tangan untuk membantunya berjalan karena kondisi kakinya jika tanpa alat bantu masih terasa sakit menopang tubuhnya.
Papa Budi sekalian ke kampus dan mengantar Anin, sesampainya di depan kantor Anin turun dari mobil dan berpamitan dengan Papanya dengan mencium punggung tangannya.
"Hati - hati ya, ingat pesan Mama."
"Iya Pa, Anin masuk ya Pa. Assalamualaikum. Papa Hati - hati."
" Waalaikumsalam, ya Sayang."
Papanya masih berhenti di lobby kantor sampai memperhatikan Anin yang berjalan masuk ke dalam.
"Anin."
Panggil Miss Salsa juga baru datang kemudian membantu Anin.
"Miss."
"Kamu udah masuk."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mereka berdua berjalan pelan menuju ke lift untuk menuju ke ruangan kerjanya.
Saat pagi hari memang sering terjadi antrian di depan lift karena karyawan juga baru pada datang.
"Anin, kita belakangan aja ya. Kasihan kamu, kita duduk di sana ya."
Ajak Miss Salsa daripada Anin mengantri sambil berdiri nanti akan kecapekan.
"Iya Miss."
Anin duduk di bangku bersama Miss Salsa, kemudian datang seseorang yang membuat semua karyawan menghormatinya dengan sekejap menundukkan kepalanya.
"Pagi Pak."
Sapa Mereka.
Alfa nampak berjalan lurus menuju lift khusus pimpinan.
"Siapa Miss."
Anin sudah pernah melihat sosok Alfa namun tidak begitu mengetahui apa jabatannya.
"Itu Manager namanya Pak Alfa."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Yuk Miss udah tinggal dikit."
Anin berdiri dengan tenaga sendiri di bantu penyangga di tangannya.
"Hati - hati."
Alfa yang akan masuk ke dalam lift sekilas melihat Anin yang memakai penyangga untuk berjalan.
__ADS_1
"Perempuan itu yang ditabrak Siska kemarin."
Batin Alfa dan pintu lift pun tertutup.
"Dia berjalan menggunakan penyangga."
Alfa yang merasa penasaran memencet tombol pintu terbuka kembali dan Dia keluar mencari Anin.
"Kemana Dia."
Ternyata Anin sudah masuk ke dalam lift.
Alfa mencari ke sekelilingnya namun Dia sudah tak ada. Kemudian Dia masuk ke dalam lift kembali menuju ke ruangannya.
Anin mulai mengerjakan pekerjaannya seperti biasa namun dia dilarang oleh Salsa untuk banyak bergerak.
"Anin, kamu duduk aja kalau butuh sesuatu panggil Rio aja ya."
Rio langsung tersenyum,
"Ia Anin, Saya siap membantu."
"Makasih Mas Rio dan Miss Salsa, Maaf ya Anin merepotkan kalian berdua."
"Santai aja Anin, kita sama sekali tidak merasa direpotkan sama kamu."
Ucap Rio.
Bu Rita datang dan tersenyum dengan mereka kemudian mendekati Anin yang ternyata hari itu sudah masuk.
"Anin, gimana keadaannya. "
" Alhamdulillah sudah membaik Bu."
"Kalau merasa masih butuh istirahat ambil aja cuti lagi nanti saya yang akan usulkan ke HRD."
"Makasih Bu, Saya bisa baik - baik aja Bu."
"Baik Bu."
Di dalam ruangan Alfa masih teringat dengan Anin yang harus berjalan menggunakan penyangga.
"Kasihan Dia, orang tidak bersalah tapi menjadi korbannya Siska."
"Aku harus minta pertanggungjawaban Siska."
Alfa keluar dari ruangannya kemudian menemui Rina.
"Rina."
"Iya Pak."
"Tolong saya di kasih hasil pemeriksaan perempuan yang ditabrak Siska tempo hari."
"Baik Pak."
Rina mengambil berkas yang sudah diberikan oleh HRD walaupun berupa kopiannya saja.
"Ini Pak."
Alfa menerimanya dan kemudian membuka map itu terdapat hasil rontgen dan juga biodata dari Anin.
"Dia baik - baik aja kan ini."
Tanya Alfa.
"Sepertinya baik-baik saja Pak, tidak terlalu parah hanya butuh waktu saja untuk pemulihan."
"Tapi Siska tak bisa dibiarkan seperti ini dulu sudah pernah ada yang tersakiti karena dia juga."
"Bapak mengenal perempuan ini."
__ADS_1
Ada foto Anin di dalam map itu.
"Saya tidak mengenalnya tapi tadi pagi saya melihatnya dia sudah berangkat kerja dan harus berjalan menggunakan penyangga di tangannya, mungkin kakinya masih terasa sakit jika harus berjalan normal."
Rina menganggukkan kepalanya.
"Saya bawa ya."
"Iya Pak."
Alfa menuju ruangan Siska dia ingin memberikan peringatan kepada dia.
Alfa mengetuk pintu dan mendengar jawaban dari dalam.
"Pak Alfa, aduh... kenapa harus mengetuk pintu segala sih langsung aja masuk Pak."
Dengan gaya centilnya Siska mendekati Alfa.
"Duduk Pak Alfa, mau minum apa."
Alfa duduk di sofa di dalam ruangan Siska dan dia pun langsung nempel di sampingnya Alfa.
"Nggak usah repot-repot Bu siska. Maaf duduknya Ibu bisa geser ke sana."
Kata Alfa dengan halus.
"Kenapa sih Pak, Kalau dekat begini kan jadi lebih akrab ngobrolnya."
Karena Siska tidak beranjak Alfa yang pindah duduk, dia tidak mau terjadi fitnah ketika nanti ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan Siska dan melihat mereka berdekatan.
Siska memandang Alfa dengan tatapan tak senang.
"Langsung saja Bu, saya ingin memberitahu Bu siska jika perempuan yang kemarin Bu Siska tabrak sekarang mengalami cedera di kakinya."
Alfa meletakan map itu di depan Siska.
"Saya nggak sengaja menabraknya, cuma luka dikit gini aja nanti juga sembuh."
"Di sini Saya hanya ingin minta pertanggungjawaban Bu Siska saja, sebaiknya Bu Siska bersikap baik dengan minta maaf pada dia."
Siska memandang Alfa tambah tak suka.
"Kenapa saya harus minta maaf Pak, saya tidak salah."
"Ibu salah karena Ibu sudah menabraknya dan menyebabkan dia cidera."
"Saya nggak sengaja Pak. Lagian Kenapa Pak Alfa begitu ngotot saya harus minta maaf dia seseorang yang istimewa buat Pak Alfa."
Siska malah nyolot.
"Dia karyawan di sini, dan saya yang diamanati untuk bertanggung jawab atas perusahaan ini jadi jika setiap ada tindakan yang tidak adil saya harus menindak tegas Bu."
"Saya tidak mau, meminta maaf kepada bawahan seperti dia."
Alfa masih menahan emosinya untuk tidak ikut terpancing dengan Siska.
"Baik, kalau Bu siska tidak mau minta maaf saya akan kumpulkan semua bukti-bukti jika Bu Siska semena-mena kepada karyawan selama ini."
Siska menatap Alfa dengan sinis, jika itu terdengar sampai ke telinga direksi pasti dia akan terancam.
"Baik, Saya nanti akan minta maaf."
Siska dengan tidak ikhlas.
"Bagus, segera Anda harus minta maaf. Saya permisi."
Alfa meninggalkan ruangan Siska yang melihatnya dengan tatapan marah.
"Awas kamu Alfa.."
🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1