KOPI CINTA

KOPI CINTA
96


__ADS_3

Alfa yang ditelepon oleh Sang Mama jika Anin sakit langsung meluncur ke rumah dan tak butuh waktu lama mobilnya telah memasuki halaman rumah.


Dia berlari masuk ke dalam rumah, dan bertemu Kakaknya di bawah.


"Anin mana Kak."


"Di kamar Fa."


Alfa berjalan cepat ke lantai dua dimana kamarnya berada untuk segera melihat kondisi istrinya yang sedang ditangani Dokter juga.


Dia masuk ke dalam kamar dan menghampiri istrinya, Sang Mama dan Dokter Luci masih berbincang di sana.


"Sayang, kamu kenapa Sayang."


Alfa membelai kepala istrinya yang hanya memejamkan kedua matanya merasakan pusing di kepala.


"Mas..." Ucapnya lirih.


"Mas di sini Sayang, apa yang dirasakan."


Mama Ani menepuk pundak sang anak.


"Kita sekarang bawa Anin ke rumah sakit Fa. Dia mengalami vertigo dan jika dibiarkan di rumah nanti badannya akan semakin lemas karena tidak ada asupan makanan yang masuk karena mulutnya terasa pahit juga."


"Iya Ma.."


"Mas, Anin nggak mau. Anin nggak mau ke rumah sakit Mas. Anin mau dirawat di rumah aja Mas." Anin meraih tangan suaminya yang duduk disampingnya.


"Anin.. Keadaan kamu akan semakin lemas." Kata Dokter Luci.


"Saya juga tidak bisa memasang infus di rumah kalau kamu dibawa ke rumah sakit akan diinfus jadi ada asupan yang masuk ke dalam tubuh kamu."


Lanjut Dokter Luci.


"Sayang, Mas akan menemani kamu." Alfa mengecup kening Anin yang masih memejamkan matanya karena jika dia membuka matanya semua akan terasa berputar-putar.


"Kita ke rumah sakit sekarang Sayang."


"Mas.."


Alfa mengangkat tubuh Anin yang terlihat sangat lemas. Anin menarik kemeja Alfa merasakan kepalanya pusing begitu badannya diangkat oleh suaminya.


"Pusing Sayang."


Anin hanya Mambo menganggukkan kepalanya dan Alfa pun berjalan dengan pelan Dia tidak mau membuat istrinya semakin pusing lagi.


Alfa menuruni tangga dan menuju ke depan dimana mobil telah disiapkan oleh sopir.


Pintu sudah dibuka Alfa dengan pelan - pelan mendudukkan Anin di jok belakang kemudian dirinya pun masuk dan menjadikan tubuhnya untuk bersandar untuk Anin sambil mendekapnya.

__ADS_1


"Mama ikut Fa."


Mama duduk di depan dan Pak supir menjalankan mobilnya meninggalkan rumah menuju ke rumah sakit.


"Sabar ya Sayang."


Alfa mendekap Anin dan mengusap kepalanya.


"Pak cepat sedikit ya."


Pinta Alfa karena lalu lintas juga lumayan padat pas dengan jam makan siang.


"Sabar Fa, banyak kendaraan ini." Kata Mama Ani.


Setelah sekitar 45 menit mobil telah berhenti dengan sempurna di depan UGD di rumah sakit A.


Alfa membuka pintu dan mengangkat tubuh Anin kemudian meletakkan tubuh istrinya do brankar yang telah disediakan oleh suster.


Tangan Anin yang sejak tadi memegang kemeja Alfa, kini telah berganti di genggam oleh suaminya itu.


"Maaf, Bapak tunggu di luar." Pinta Suster.


"Saya suaminya Sus."


"Iya Pak, tapi Bapak harus menunggunya di luar."


"Mas, jangan pergi Anin takut."


"Ijinkan Saya di dalam Sus, istri Saya takut."


Anin punya ketakutan dengan jarum suntik semenjak dia kecil dia akan histeris melihat benda runcing satu itu.


Suster berbicara dengan rekannya dan juga Dokter.


"Baik Pak, Dokter mengijinkannya."


Alfa merasa tenang bisa menemani istrinya di dalam.


"Sayang jangan takut Mas ada di sini."


Anin sama sekali tidak melepaskan tangan Alfa, Dia merasa tenang ada suami yang menemaninya.


Suster mulai memasangkan alat infus dan Anin memejamkan matanya kembali begitu melihat jarum yang akan masuk ke tangannya.


"Tenang Sayang, nggak papa biar sembuh."


Alfa mengusap kepala Anin dan mengalihkan pandangannya supaya tidak melihat tangan yang akan ditusuk jarum suntik.


"Mas... "

__ADS_1


"Ya Sayang, nggak papa ya semua baik - baik aja dan kamu akan segera sehat kembali."


Infus telah berhasil di pasang, dan Dokter melakukan pemeriksaan selanjutnya.


Suster memberikan obat yang disuntikan dari selang infus supaya badan Anin beristirahat dan bisa mengurangi pusingnya.


Lama kelamaan Anin mulai mengantuk karena pengaruh obat, sample darah telah diambil dan akan diuji di laboratorium.


Alfa di minta keluar karena Anin akan setelah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Gimana Fa."


Mama Ani menunggunya dengan khawatir di luar.


"Alhamdulillah Ma, Anin sudah diberi obat dan sekarang sedang tidur akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."


"Kamu lama banget di dalam."


"Anin takut jarum Ma, jadi Alfa harus menemaninya di dalam."


"Ya sudah, Sekarang kita ke ruang perawatan Anin dan kamu bicara dengan dokter."


"Iya Ma."


Mereka menuju ke ruang dimana Anin dipindahkan, Alfa membuka pintu itu dan melihat istrinya yang tergolek lemah di atas tempat tidur.


"Gimana keadaan istri Saya Dok."


"Analisa Saya, istri Anda mengalami vertigo yang kadang kambuh apalagi ini setelah melakukan pemeriksaan tadi dan tekanan darahnya rendah dan pasien ini memang mempunyai riwayat tekanan darah daripada tinggi jadi dibutuhkan waktu untuk istirahat dan tidak boleh terlalu capek." Kata Dokter.


"Baik Dok, terima kasih Dok."


"Untuk hasil pemeriksaan secara menyeluruh kita tunggu hasil lab kemungkinan sore ini baru keluar."


"Baik Dok."


Kemudian Dokter pun, pamit dan keluar dari ruangan Anin.


"Mama pulang aja, biar Alfa yang menunggu Anin di rumah sakit ini."


"Nanti Ma, Mama menunggu Mama mertua kamu."


Alfa kaget dia aja lupa untuk menelpon Mama Mama Rani.


"Alfa sampai lupa Ma belum memberi kabar sama mama Rani kalau Anin masuk rumah sakit. Makasih ya Ma."


Alfa duduk di kursi di samping tempat tidur Anin sedangkan Mama ada di sofa.


"Sayang, maafin Mas ya nggak bisa jaga kamu."

__ADS_1


Alfa menggenggam tangan istrinya itu yang tidak terpasang infus.


☺☺☺☺☺


__ADS_2