KOPI CINTA

KOPI CINTA
22


__ADS_3

"Pa, Anin naik taksi aja ya."


Papanya mengkhawatirkan Anin karena mobilnya masih di bengkel.


"Sama Papa aja naik taksinya sekalian mau ke bengkel."


"Anin bisa sendiri Pa."


"Sayang sama Papa aja kan sekalian jalan." Kata Mamanya.


"Tapi kita beda arah Ma."


"Nggak papa, yang penting kamu sampai kantor dulu. Yuk kita berangkat."


Papanya hari ini tidak ada kegiatan di kampus jadi mau mengurusi mobilnya .


"Iya Pa, Ma pamit Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam, hati-hati ya Sayang, hati-hati Pa."


"Iya Ma."


Jawab Anin dan Papanya serempak.


Anin sudah memesan taksi online dan pas mereka keluar rumah taksi online sudah nyampe di depan rumah mereka.


"Sesuai aplikasi ya Mbak."


"Iya Pak."


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah menuju ke kantor.


"Anin, kamu punya nomor telepon Mas Alfa kemarin."


Tanya Papanya membuat Anin kaget kenapa Papanya bertanya seperti itu.


"Nggak punya Pa, memang kenapa Pa."


"Nggak papa, Papa cuman mikir aja kalau punya nomor teleponnya Mas Alfa kemarin kan Papa bisa ngomong nitip kamu."


"Papa apaan sih, anaknya kok dititipin sama orang."


Anin membuang mukanya ke arah jendela sebal dengan papanya, ada - ada aja idenya.


"Kan satu kantor sama kamu, jadi bisa bareng gitu maksud Papa kamu ada yang jaga."


"Anin bisa kok Pa berangkat sendiri, ini juga sudah enak kakinya."


Anin hari ini sudah tidak memakai penyangga ingin melatih kakinya dengan berjalan pelan-pelan saja.


"Kalian satu kantor berati tiap hari ketemu kan, nggak salah kan Papa minta tolong sama Mas Alfa untuk jaga kamu."


"Papa, Pak Alfa itu orang sibuk. Anin juga baru aja mengenalnya. kenapa Papa begitu percaya sama dia."


"Dia kelihatan laki-laki yang bertanggung jawab, sudah menikah apa belum dia."


"Mana Anin tau Pa, udah ah Pa... nggak usah bahas Pak Alfa."


Papanya tersenyum aja melihat tingkah Anin.


"Cakep sih, tapi nggak tau kalau berlabel milik orang lain."


Dalam hati Anin.


Tak lama kemudian taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di kantor Anin. Ia turun dan mencium punggung tangan Papanya.


"Anin kerja ya Pa."


" Hati-hati ya."

__ADS_1


"Iya Pa, Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam, nanti sore Papa jemput."


"Ya Pa."


Anin turun dari taksi dan pelan-pelan berjalan menuju ke lobby.


"Mbak, kenapa kakinya."


Tanya Pak Agus satpam yang berjaga pagi itu karena memang semenjak kemarin Pak Agus belum melihatnya.


"Pak Agus, nggak papa Pak jatuh aja kemarin." Ucap Anin dengan ramah.


"Hati - hati Mbak kalau jalan."


"Iya Pak, saya masuk ya Pak."


"Selamat bekerja Mbak."


Kemudian datang sebuah mobil dan Pak Agus pun langsung mendekatinya.


"Pagi Pak Alfa."


"Ya Pak Agus."


Alfa memberikan kunci mobilnya untuk diparkirkan oleh Pak Agus.


Alfa kemudian berjalan masuk ke dalam dan saat akan naik lift yang khusus diperuntukkan untuk pejabat dia melihat Anin yang sedang berdiri mengantri untuk naik lift.


"Dia nggak pakai penyangga."


Dalam hati Alfa sambil menatapnya.


"Pak Alfa..."


"Bu Siska kali ya yang dekat Pak Alfa." Dalam hati Anin.


"Pasangan yang cocok, sama-sama berkelas yang satu ganteng satu cantik."


Anin masih bicara sendiri di dalam hatinya.


"Anin.."


Miss Salsa mengagetkannya.


"Miss Salsa bikin kaget aja."


"Melamun apa sih, kayaknya serius banget ngelihat Pak Alfa."


"Ada aja Miss Salsa ini."


Kemudian mereka masuk ke lift untuk menuju ke ruang kerjanya.


"Miss, Pak Alfa itu ada hubungannya dengan Bu Siska."


Tanya Anin yang penasaran dengan kedekatan mereka.


"Kenapa, ayo... Naksir ya sama Pak Alfa." Goda Miss Salsa.


"Apaan sih Miss, Aku kan cuman tanya kok mereka berdua itu sering bareng dan kayaknya Bu Siska itu suka banget sama Pak Alfa sampai nempel terus."


"Ya begitu lah Bu Siska, kalau ada cowok cakep suka cari muka. Tapi kayaknya Pak Alfa juga tidak ada respect to sama dia."


"Memang Pak Alfa belum menikah ya Miss."


Miss Salsa menatap Anin dengan tatapan penuh curiga.


"Kenapa Miss."

__ADS_1


"Wah... Saingan kamu berat Nin kalau mau dekat sama Pak Alfa itu yang selalu nempel sama dia mana rela kalau Pak Alfa dekat sama cewek lain."


"Yang mau dekat sama Pak Alfa itu siapa Miss aku cuman penasaran aja kalau Pak Alfa sudah menikah ngapain Bu Siska mendekati terus."


"Pak Alfa itu usianya sudah cukup kalau membina rumah tangga tapi entah nggak paham juga kenapa belum menikah juga."


"Pagi - pagi udah gosip."


Rio yang datang langsung duduk di kursinya.


"Bukan gosip tapi bercerita Rio."


Bela Miss Salsa.


"Bercerita sedang orang lain sama aja dong Miss namanya gosip."


"Udahlah kerja, susah kalau bicara sama laki-laki."


Anin tertawa pelan saja melihat Miss Salsa dan Rio berargumen.


Mereka mengerjakan pekerjaan hari itu dengan semangat, hingga Bu Rita menemui mereka bertiga.


"Salsa, Anin dan Rio siang ini kita ada meeting dengan Bapak Manager untuk membicarakan tentang inovasi yang akan kita beri untuk bulan depan."


Jelas Bu Rita.


"Baik Bu."


Jawab Mereka bertiga.


" Jadi kalian bisa menyiapkan ide-ide yang cemerlang siapa tahu ada yang disetujui oleh perusahaan."


Mereka bertiga tersenyum dan menganggukkan kepalanya Ini kesempatan mendapatkan bonus yang besar.


"Oke, persiapkan semuanya nya satu jam lagi kita akan meeting dengan Bapak Manager."


"Baik Bu."


Mereka melanjutkan pekerjaannya kembali hingga 1 jam pun tak terasa Bu Rita mengajak mereka semua untuk menuju ke ruang meeting."


Anin, Salsa dan Rio mengikuti Bu Rita dari belakang menuju ke ruang meeting.


Sesampainya di sana divisi yang lain juga sudah berada di sana tinggal menunggu Bapak Manager serta sekretarisnya untuk datang.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya yang ditunggu pun datang, Alfa bersama Rina sekretarisnya masuk ke dalam ruangan mereka semua pun berdiri dan memberikan hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Silahkan duduk."


Ucap Alfa yang membuat mereka semua duduk kembali di kursi masing-masing.


Anin yang baru pertama kali mengikuti meeting seperti ini merasakan gugup dan rasa penasarannya pun juga tinggi.


Alfa menatap semua peserta meeting hingga kemudian matanya pun berhenti pada sosok Anin yang duduk di ujung keduanya pun beradu pandang hingga and Anin menundukkan kepalanya kembali.


"Kenapa aku jadi deg - degan gini saat bertatapan dengan Dia."


Dalam hati Alfa yang tak sadar tersenyum ke arah Anin.


"Pak Alfa bisa kita mulai."


Rina membuyarkan pandangannya.


"Baik segera di mulai meeting nya."


Titah Alfa.


☺☺☺☺☺


Mana Like, komen dan Bunganya ini 🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2