KOPI CINTA

KOPI CINTA
20


__ADS_3

"Makasih sekali lagi Mas Alfa, maaf kami tidak bisa menjamu yang baik."


Ucap Papa Budi yang mengantar Alfa ke depan bersama Mama Rani dan juga Anin.


"Saya yang harusnya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Budi sekeluarga kera telah menjamu saya dengan luar biasa, masakan ibu enak kopi buatan Anin juga enak."


Ucap Alfa sebelum menuju ke mobilnya.


Mendengar pujian dari Alfa merasa malu dia hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya saja.


Saat menikmati makan malam bersama tadi akhirnya Alfa tahu siapa pembuat kopi itu yaitu gadis yang ada di depan matanya.


~Flashback On~


Saat menikmati kopi yang ada di tangannya karena rasa penasaran Alfa, dia pun bertanya.


"Kopinya enak."


Celetuk Alfa memuji kopi yang sedang dinikmatinya.


"Iya Mas Alfa, Anin itu jago kalo buat kopi Mamanya aja kalah. Entah bagaimana nanti Bapak akan menikmati kopi jika Anin berkeluarga dan ikut suaminya."


Ucap Papa Budi dengan menggoda anak gadisnya itu yang terlihat malu karena mendapatkan pujian dari Alfa.


"Papa kok ngomong gitu."


Anin memang gak suka Papanya bercanda seperti itu seolah-olah kalau nanti dia menikah terus tidak bisa membuatkan kopi untuk dirinya.


"Sudah Pa, Mas Alfa diajak makan dong. Ini Mama udah masakin spesial."


"He he he.. Mari Mas Alfa dicoba masakan chef profesional yang ada di rumah ini."


"Baik Pak."


Alfa senang sekali karena sudah diambilkan nasi oleh Anin dan dihidangkan di depannya.


~Flashback On~


"Kapan-kapan kalau lewat mampir sini ya Mas Alfa, pintu kami akan selalu terbuka."


Ucap Papa Budi.


"Insya Allah Pak. Saya permisi dan sekali lagi terima kasih Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Jawab Anin, Papa Budi dan juga Mama Rani.


Alfa membuka pintu mobilnya kemudian melajukannya meninggalkan rumah Anin namun sebelumnya dia membuka kaca mobilnya dan sekali lagi berpamitan dengan keluarga Anin.


Setelah mobil Alfa tidak terlihat Anin bersama kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Anin sudah kenal lama dengan Mas Alfa."


Tanya Papa Budi saat mereka duduk santai di ruang keluarga, kali ini adiknya semata wayang Fajar tidak terlihat karena sedang ada kegiatan di sekolahnya.


"Baru kok Pa, Anin kan juga baru seminggu kerja di sana."


"Tapi kalau Mama lihat - lihat ya Sayang. Anin itu bukan pegawai biasa." Ucap Mama Rani yang masih tak percaya jika Alfa itu hanya seniornya dari Anin.


"Dia lebih senior aja Ma dari Anin."


"Tapi iya Kak, Kalau cuman karyawan biasa nggak mungkin mobil mobilnya sebagus situ."


"Kerjanya udah lama Pa jadi, tabungannya banyak bisa beli mobil bagus."


"Dia sudah berkeluarga belum."


Tanya Mama Rani.


"Nggak tau Ma, Anin."


"Kalau belum berkeluarga, jadi calon kamu juga cocok sayang."


Canda Mama Rani membuat Anin malu.


"Mama apaan sih, udah ah.. Kaka mau masuk."


Anin meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga menuju ke kamar.


Sedangkan Alfa sepanjang perjalanan senyum yang selalu menghiasi di bibirnya.


"Calon istri idaman."


Celetuk Alfa saat dia teringat Anin yang meladeninya saat akan makan malam.


" Astaghfirullahaladzim."


Alfa menutup mulutnya sendiri tak sadar apa yang diucapkannya tadi.


"Alfa gimana kalau dia udah milik orang lain. Sembarangan kamu."


Alfa menyalahkan dirinya sendiri.


Alfa selalu teringat dengan rasa kopi yang dinikmati yang terbuat langsung dari tangan Anin.


" Tapi enak ya pulang kerja atau saat sarapan pagi ada yang buatin kopi seenak itu ditemani lagi istri yang cantik."


Alfa membayangkannya hidup bahagia bersama istrinya apalagi memiliki istri yang sangat pengertian.


"Tapi dia masih sangat muda apa mau kalau diajak serius."


Tak terasa mobil Alfa telah memasuki halaman rumahnya, Sang Mama beserta dengan kakak dan juga keponakannya telah menunggu kenapa tak memberi kabar dia pulang terlambat.

__ADS_1


" Assalamualaikum."


Alfa memasuki pintu utamanya dengan mengucapkan salam dan menenteng jas di tangannya.


" Waalaikumsalam."


Jawab Mama dan Kakaknya.


Arsy masuk berlari menghampiri Alfa.


" Papa ke mana baru pulang."


Arsy langsung minta gendong Alfa.


"Maaf ya Sayang, Papa ada urusan."


Alfa menuju ke ruang keluarga di mana Mama dan Kakaknya berkumpul di sana.


"Darimana sih Al, Mama telepon gak diangkat cuman bales pesan aja ada urusan."


Alfa tersenyum dan meraih tangan Mamanya kemudian mencium punggung tangannya begitu pula dengan Kakaknya.


"Ada urusan Ma, ceritanya nanti ya Ma Alfa mau mandi dulu."


"Arsy, di sini sama Mama ya Papa mau mandi dulu."


"Iya Pa."


"Buruan mandi terus makan tadi Mama sama Kakak sudah makan duluan kamu ditunggu lama sih."


Ucap Kak Amel.


"Alfa udah makan Kak."


"Sama Klien."


Tanya Mamanya yang penasaran.


"Nanti ya Ma ceritanya Alfa udah gerah mau buruan mandi."


"Ya udah."


Alfa kemudian menuju ke kamarnya untuk segera menyegarkan badannya karena terasa sudah sangat lengket seharian beraktivitas di luar.


"Darimana Dia Ma, kalau cuma ketemu klien pasti bilang sama Mama apa sama temennya."


Amel penasaran tak biasanya adiknya tidak memberi kabar.


"Lagi ada perlu mungkin, kita tunggu aja nanti dia juga cerita."


"Iya Ma."

__ADS_1


Amel dan Mamanya menikmati tontonan televisi sambil menemani Arsy belajar mewarnai.


☺☺☺☺☺


__ADS_2