KOPI CINTA

KOPI CINTA
119


__ADS_3

Amel dan Indra saling pandang, manik mereka berdua saling bertemu. Indra melemparkan senyum ke Amel tapi berbeda dengan Amel yang hanya diam saja tak bergeming.


"Silahkan duduk Om sama Indra." Kata Alfa yang menggendong Arsy.


"Makasih Fa."


Mama Ani yang tadi ada di sofa terlihat berdiri menghampiri Arsy begitu Papa Gunawan berjalan ke arahnya.


"Mama."


Indra menghampiri Mama Ani dan mengulurkan tangannya tapi tak di sambut oleh Mama Ani.


Semua tentu melihat itu tapi Indra pun tersenyum saja.


"Mama apa kabar, maafkan Indra Ma."


Mama Ani seperti belum bisa menerima kehadiran Indra.


"Bu Ani, apa kabar."


Gantian Papa Gunawan yang menyapa.


"Baik."


Hanya itu yang keluar dari mulut Mama Ani.


Alfa yang melihat suasana tidak enak ini kemudian memberikan Arsy kepada pengasuhnya dan mendekat kepada Mereka.


"Mama... Yuk kita duduk."


Alfa merangkul tangan Mamanya dan mengajaknya duduk di sofa.


"Om Gunawan silahkan duduk."


Suasana menjadi canggung Amel pun terlihat diam saja hanya memperhatikan Arsy tanpa memperhatikan kehadiran mereka berdua.


"Sayang, tolong ambilkan minum." Pinta Alfa kepada Anin.


"Iya Mas."


Anin datang membawakan minuman untuk mereka.


"Mama, minum dulu."


Alfa mendekatkan ke Mama Ani dan diraihnya.


"Maafkan kehadiran kami di sini jik mengganggu keluarga ibu Ani." Ucap Papa Gunawan dan Mama Ani hanya membuang muka.


"Kami meminta maaf atas kesalahan keluarga kami di masa lalu yang telah melukai keluarga ibu Ani."


"Maafkan Indra Ma."


Indra beranjak dan bersimpuh di hadapan Mama Ani dan jelas kaget Mama Ani pun menarik tangan yang ingin disentuh oleh Indra.


"Memang kesalahan Indra dulu tidak bisa dimaafkan Ma, tapi Indra ingin memperbaiki semua. Berikan kesempatan sekali lagi kepada Indra Ma."


Amel memandang ke arah mereka.


"Indra menyesal Ma Dodo telah meninggalkan Arsy dan juga Amel. Maafkan Indra Ma."


"Bu Ani, saya mewakili istri dan juga anak saya meminta maaf kepada keluarga Ibu Ani karena kesalahan kami di masa lalu. Berikan kesempatan sekali saja kepada Indra untuk bisa membuktikannya jika Dia telah berubah dan serius ingin merawat anaknya." Ucap Papa Gunawan dengan tatapan memohon tetapi Mama Ani hanya diam saja.

__ADS_1


"Ma, maafkan Indra."


"Papa..."


Tiba - tiba Arsy menyebut Papa dan sontak Indra pun menoleh.


"Iya Sayang, sama Mama."


"Ikut Papa.."


Indra akan beranjak namun di tahan oleh Alfa.


"Biar aku saja."


Alfa mendekatkan ke Arsy karena yang dimaksud olehnya yaitu Alfa.


"Iya Sayang, sama Papa."


Alfa menggendongnya, Indra menatapnya dengan teduh rasanya ingin sekali dia yang memeluk dan menggendong Arsy.


Indra mendekat ke Arsy dan sontak Mama Ani melarangnya.


"Jangan sentuh cucu saya."


Indra langsung diam.


"Kamu dulu meninggalkan dia seenaknya sekarang Arsy sudah besar kamu mau mengambilnya dari kami. " Suara Mama Ani terdengar lantang.


"Ma, ini rumah sakit."


Alfa dengan lembut membujuknya.


Air mata Mama Ani tumpah juga, Anin kemudian mendekat dan memeluknya.


"Ma.. Duduk yuk." Ajak Anin.


"Kamu jahat Indra, keluarga kamu jahat apa salah keluarga kami hingga kamu tega memperlakukan keluarga kita seperti ini."


"Maafkan Indra Ma."


Indra kembali bersimpuh di hadapan Mama Ani.


Papa Gunawan pun beranjak dia tak tega melihat anak yang seperti itu.


"Bu Ani, maafkan keluarga kami. Saya salah dalam mendidik anak dan istri saya jadi kalau Ibu mau menyalahkan silahkan salahkan saya saja."


Alfa pun mendekat setelah memberikan Arsy kepada pengasuhnya lagi.


"Om, duduk Om. Indra duduk."


Mereka semua duduk di sofa dengan Indra masih menunduk.


"Ma, mereka sudah minta maaf alangkah baiknya Mama membuka hati Mama sedikit untuk memaafkan mereka." Ucap Alfa dengan halus kepada Mamanya.


"Hati Mama sakit Fa."


Amel pun akhirnya mendekat dengan menjalankan kursi rodanya. Ada rasa iba di hati Indra melihat orang yang dia sayangi sekarang seperti itu karena dirinya.


"Ma.."


Amel mendekati Mamanya dan mereka berpelukan.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus bahagia."


"Amel bahagia Ma. Amel boleh meminta sesuatu kepada Mama."


"Apa Sayang."


"Maafkan Mereka ya Ma, Kita jangan menjadi manusia yang pendendam biarkan Allah yang membalas semuanya. Amel sudah ikhlas Ma menerima semua ini, walau bagaimanapun Mas Indra Papanya Arsy."


Mama Ani memandang lekat wajah Amel, dia mencari kebohongan di sorot mata Amel tapi tidak ada.


"Kamu bahagia Sayang jika Mama memaafkan Mereka."


Amel pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Dia memang sudah memaafkan Indra dan juga keluarganya. Dirinya ikhlas menerima apapun takdir yang tergaris untuknya.


"Amel bahagia Ma."


Mama Ani memeluknya lagi, Indra dan Papanya memandang teduh kemudian Indra beranjak dan mendekati Amel dan bersimpuh di depannya.


"Mas ngapain."


Amel kaget.


"Maafkan Mas, Amel. Maafkan Mas. Mas menyesal dan ingin memperbaiki semuanya."


"Sudah Mas berdiri, Amel sudah memaafkan Mas sekarang yang Amel minta buktikan jika Mas Indra itu Papa yang bertanggung jawab."


Indra mengangguk dengan serius.


"Terima kasih Amel."


"Maafkan Papa Amel."


Papa Gunawan pun meminta maaf.


"Iya Pa."


"Mbak, sini."


Amel memanggil pengasuh Arsy yang sedang menggendong nya.


"Iya Bu."


"Arsy, ini Papa Sayang, Papa Indra."


Arsy menatap Indra dengan tatapan sulit di artikan bocah ini belum paham apa yang sebenarnya terjadi.


Indra menatap Arsy dengan nanar, matanya memancarkan kerinduan yang amat dalam ingin menggendong buah hatinya.


"Mendekat lah Mas." Kata Amel.


Indra mendekat dan mengulurkan tangannya ke Arsy ingin menggendongnya, Mereka semua menatap ke arah mereka.


"Sayang, ini Papa. Arsy anak Papa. Gendong Papa Sayang."


Arsy masih menatapnya dengan bingung.


"Papa..." Dia mengucap itu dan Arsy pun mau di gendong Indra.


Momen haru itu pun terjadi, Indra tak kuasa menahan air matanya begitupun dengan yang lainnya semua larut dengan rasa haru yang tercipta pertemuan Papa dan anak kandungnya.


😥☺☺☺☺

__ADS_1


__ADS_2