KOPI CINTA

KOPI CINTA
57


__ADS_3

"Sayang, tunggu di mobil ya. Mas masih ada kerjaan dikit tunggu sebentar."


"Mas udah bilang ke Pak Agus untuk menyiapkan mobil."


Alfa menghubungi Anin sebelum waktu kerja pulang.


"Iya Mas."


"Ya udah, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Anin melanjutkan pekerjaannya yang tinggal dikit lagi supaya bisa cepat pulang.


Setelah selesai Anin membereskan meja kerjanya dan segera ingin keluar dari ruangan.


"Anin, bareng Pak Bos."


Ledek Miss Salsa.


"Iya Miss, kalau nggak mau bisa ngomel."


"Ha ha ha... Ya udah have fun ya. Aku duluan."


"Oke Miss."


Setelah Miss Salsa pergi tak lama kemudian Anin pun juga keluar dari ruangannya.


Dia masuk ke dalam lift untuk turun ke lobby, sesampainya di lobby dia sudah melihat Pak Agus yang berada di depan pintu.


"Sore Pak Agus." Sapa Anin.


"Eh, Bu Anin sore Bu. Silahkan langsung masuk ke dalam mobil bisa menunggu Pak Alfa di dalam saja."


"Iya Pak."


Anin berjalan menuju ke mobil diikuti oleh Pak Agus yang ingin membukakan pintu.


"Eh.. Siapa kamu main masuk aja ke mobil Pak Alfa."


Suara Siska terdengar keras dari lobby meneriaki Anin yang akan masuk ke dalam mobil.


Anin menoleh ke belakang begitu pula dengan Pak Agus yang tidak jadi membukakan pintu mobil.


Siska berjalan ke arah Anin dengan muka tak suka.


"Siapa kamu."


Siska mendorong pundak Anin.


"Bu Siska maaf Bu, ini perintah Pak Alfa." Kata Pak Agus menghalangi tubuh Anin yang akan didorong lagi oleh Siska.


"Jangan ikut campur kamu, minggir saya ada urusan dengan wanita ini berani dia menggoda Pak Alfa."


Anin diam saja dia juga tak menjawab setiap tuduhan dari Siska.


"Bu jangan main hakim sendiri, Saya di diperintahkan Pak Alfa untuk menjaga Bu Anin."


"Oh... Jadi Anin nama kamu, cantik juga enggak. Beraninya menggoda Pak Alfa."


Siska mencoba meriah Anin tapi dihalangi oleh Pak Agus.


Beberapa karyawan yang akan pulang ikut menyaksikan drama yang tersaji di depan lobby itu ada pula yang merekamnya.


"Bu Anin masuk saja ke dalam."


Pinta Pak Agus.


Anin membuka pintu mobil namun sayang, Siska meraih jilbabnya dan menariknya hingga dia jatuh dan mengenai pintu mobil.

__ADS_1


"Siska.."


Teriak Alfa yang lari begitu keluar dari lift dia mengetahui jika Anin diserang Siska dari Rina yang mendapatkan kabar dari temannya yang melihat di luar.


Alfa mendekati Anin dan membantunya berdiri.


"Kamu nggak papa Sayang."


Alfa nampak nafasnya naik turun, melihat Anin meringis kesakitan.


"Nggak papa Mas."


Anin mengusap sikunya yang saat jatuh tadi terbentur ke paving karena menopang tubuhnya.


"Siska, kamu sudah keterlaluan. Saya tidak akan tinggal diam, tindakan kamu sudah kriminal Saya akan melaporkan kamu ke polisi." Ancam Alfa.


"Lapor aja nggak takut Saya, kamu buta Alfa, kamu lebih memilih wanita seperti itu dibanding diriku."


"Mas... Sudah kita pulang aja."


Anin meraih lengan Alfa dan memintanya mengalah.


"Iya kita pulang Sayang."


"Ini Pak kunci mobilnya, Saya minta maaf Pak tidak bisa menjaga Bu Anin" Ucap Pak Agus sambil memberikan kunci mobil Alfa.


"Makasih Pak Agus."


"Pak Agus sudah jaga Saya, makasih Pak Agus." Anin masuk ke dalam mobil karena telah dibukakan pintu oleh Alfa.


Alfa menutup pintu mobil kemudian berputar untuk masuk ke dalam mobil.


Siska memandangnya dengan tatapan marah ke arah mereka berdua.


"Awas kalian berdua.." Siska pergi masuk ke dalam mobilnya juga.


Alfa memandang Anin yang duduk di sebelahnya sambil memegangi sikunya.


"Dikit aja Mas."


Alfa kemudian menepikan mobilnya untuk berhenti sejenak melihat keadaan Anin.


"Kenapa berhenti Mas."


"Mas coba mau lihat."


Alfa meraih tangan Anin dan menyilakan lengan baju Anin.


"Berdarah Sayang, ini luka kita ke klinik sekarang."


"Mas, Anin nggak papa."


Anin menarik lengannya kembali.


"Sayang, itu luka. Mas nggak mau kamu kenapa-napa pokoknya sekarang kita periksakan diri kamu."


Alfa melajukan mobilnya kembali, menuju klinik terdekat dari lokasi mereka sekarang.


"Mas, Anin baik - baik aja. Nanti dikasih obat merah aja di rumah."


"Mas nggak suka di bantah."


Anin diam saja, Dia merasakan perih juga di sikunya.


Alfa membelokkan mobilnya ke sebuah klinik kemudian dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Anin.


"Ayo Sayang, pelan - pelan."


Alfa meraih tangan Anin dan membantunya turun.

__ADS_1


Mereka berdua masuk ke dalam klinik dan Anin segera mendapatkan penanganan.


"Gimana keadaannya Dok."


"Nggak papa, ini hanya luka luar saja diobati akan segera sembuh."


"Makasih banyak Dok. Kaki kamu sakit lagi nggak sayang."


"Nggak papa Mas, rasanya agak nyeri aja mungkin ketimpa tubuh tadi."


"Dok, tolong kakinya diperiksa karena itu sudah pernah terluka kemarin."


"Baik Pak."


Anin di periksa juga kakinya yang bekas terluka kemarin dan dokter mengatakan dia tidak apa-apa akan dikasih obat nyeri saja.


"Makasih banyak Dok, kami permisi."


Alfa membawa Anin keluar dari klinik menuju ke mobilnya kembali.


"Maafin Mas ya Sayang, nggak bisa jaga kamu."


"Nggak papa Mas, Anin nggak papa kan cuman luka dikit aja nanti juga sembuh."


Ucap Anin sambil tersenyum.


"Mas akan kasus kan Siska ke polisi."


"Jangan Mas, jangan memperpanjang masalah. Biarin aja nanti juga capek sendiri."


"Orang kayak gitu itu enggak akan pernah capek sayang, dia selalu akan cari gara-gara. Dan Mas yakin kemarin yang meneror kamu itu juga dia. Belum lagi ini Mas dapat masalah juga karena Dia."


Anin kaget Alfa bicara seperti itu dan langsung menatap ke arah Alfa.


"Mas Alfa ada masalah apa."


"Hufft... Ada dokumen dari cabang kemarin yang hilang padahal seingat Mas itu sudah Mas kasih kan semua ke perusahaan dan itu tanggungjawab Siska untuk menyampaikan sebagai sekretaris dari Direksi."


"Ini pasti berkaitan dengan ancaman kemarin yang Mas, ini semua gara-gara Anin."


Anin menundukkan kepalanya ancaman yang dia terima benar akan di lancarkan oleh Siska.


"Sayang, bukan salah kamu. Ini memang ulah Siska dan itu tidak hanya sekali ini aja dan dulu juga pernah dokumen yang dihilangkan sama dia."


"Tapi kalau Mas nggak sama Anin, ini nggak akan..."


"Susst..."


Alfa memotong ucapan Anin yang akan menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan bilang seperti itu, kamu nggak salah Sayang. Ini resiko pekerjaan Mas dan Mas yakin akan segera menyelesaikannya."


Alfa menggenggam tangan Anin dan tersenyum kearahnya.


"Maafin Anin Mas."


"Senyum dong, jelek kalau kayak gitu."


Alfa telah menepikan mobilnya di pekarangan rumah Anin dan mereka pun turun.


Mama Rani belum melihat tangan Anin yang diperban karena tertutup dengan bajunya.


Alfa masuk berpamitan dengan Mama Rani karena sudah ditunggu oleh mamanya malam ini akan bersilaturahmi ke rumah Anin.


"Sayang, nanti malam Mas kesini lagi. Mas pulang dulu ya."


"Iya Mas hati - hati."


"Iya Sayang, Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam.."


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2