
~Amel PoV~
Tak ku sangka Mas, kamu sejahat itu dan yang lebih menyakitkan lagi ternyata kedua orang tuamu yang menyuruh untuk meninggalkanku dan Arsy, istri dan darah daging Mu sendiri.
Aku begini juga karena kamu, andaikan kamu mendengarkan ku untuk tidak menyalip pasti kejadian itu tidak akan terjadi.
" astaghfirullahaladzim, maafkan hamba Mu ini Ya Allah."
Aku menyeka air mataku dan mengusap dadaku aku mohon ampun karena telah menyalahkan takdir yang memang harus aku terima dan aku jalani.
"Kuatkan Hamba Ya Allah."
Aku harus bangkit demi Arsy, dia sangat membutuhkan ku tidak peduli dengan Papa kandungnya Dia pun juga sudah punya sosok Alfa yang menjadi Papanya.
"Aku merasa bersalah dengan Mama dan juga Alfa, Mereka begitu menyayangi ku hingga tak ingin aku terluka kembali."
"Maafkan Amel Ma."
Aku memeluk Mama dan menangis di pangkuannya.
"Sudah Amel, sekarang kamu tahu kan kenapa Mama dan Alfa melarang mu."
Aku menganggukkan kepala di dalam pelukan Mama.
"Maafkan Amel Ma."
"Mama dan Alfa sangat sayang sama kamu Mel, itulah kenapa kami menutupi apa yang sebenarnya menyebabkan Indra meninggalkan kamu karena kami tidak mau kamu itu lebih terluka lagi."
"Makasih Ma, maafkan Amel yang egois mementingkan diri sendiri."
"Jangan salahkan diri kamu sendiri Amel, sekarang kamu harus bangkit demi Arsy tetapi jangan khawatir Arsy tetap mempunyai sosok Papa dan adalah siapa Papa kandungnya nanti kalau Dia sudah dewasa bisa kita kasih tahu."
"Iya Ma, maafkan Amel Ma."
"Sudah Sayang, semua sudah berlalu yang penting kamu harus bahagia dan jangan patah semangat. Kamu mau kan menjalani terapi lagi."
Aku memang dulu menjalani terapi tapi karena aku merasa kasihan sering meninggalkan Arsy akhirnya aku meminta untuk berhenti dulu.
"Iya Ma, Amel mau sembuh."
" Itu baru anak Mama."
"Alfa mana Ma sama Anin."
"Mereka menginap di rumah Mama Rani, Mama kasihan Anin pasti juga kangen dengan Mamanya."
"Iya Ma, Amel merasa bersalah dengan Anin. Dia baru saja menjadi istri Alfa tapi Dia ikut ke dalam masalah kita."
"Anin itu baik anaknya, Dia bisa memahami Alfa. Malah menurut Mama itu Alfa yang terlalu egois lebih mementingkan keluarga kita daripada istrinya."
"Kita buat kejutan untuk mereka berdua yuk Ma."
"Apa."
__ADS_1
"Buat Mereka berangkat bulan madu, Amel sudah ingin punya keponakan."
"Ide bagus itu Mel, ya sudah nanti kita susun rencananya sekarang kita makan."
🌹🌹🌹🌹🌹
Di sebuah kamar nampak sepasang suami istri yang sedang bermanja-manja di atas tempat tidur.
"Mas..."
Alfa mendekap istrinya dan menciumi pucuk kepalanya yang terlihat kelelahan setelah melayani dirinya.
"Anin capek."
"Tidur yuk Sayang."
Alfa menarik selimut menutupi tubuh istrinya.
"Mas kenapa sampai atas gini."
Alfa menutup tubuh Anin dan hanya terlihat kepalanya saja.
"Mas nggak rela tubuh kamu di lihat sama makhluk lain."
Anin bergidik, Dia memeluk Alfa dan terlelap.
"Makasih Sayang."
Alfa mengecup kening Anin dan terlelap bersama istrinya itu.
Selesai dari kamar mandi dia duduk di sofa dan sambil menenggak minum. Alfa mengamati Anin yang terlelap di tempat tidur kemudian membuka ponselnya.
Entah kenapa dia malah tidak merasakan ngantuk dan mencari sesuatu dari ponselnya.
"Hmmm..."
Anin menggerakkan tubuhnya, Dia mencari-cari seseorang yang biasanya memeluk tubuhnya saat tidur.
Begitu dia merasa tidak ada orang yang ada di sampingnya, Dia apakah kedua matanya mencari Alfa.
"Mas..."
Ucap lirih melihat Alfa yang duduk di sofa memainkan ponselnya.
Alfa tersenyum dan menghampiri istrinya di atas tempat tidur, Dia meletakkan ponselnya di meja.
"Iya Sayang, tidur lagi masih malam."
Alfa masuk kembali ke selimut kembali dan membawa Anin ke dalam pelukannya.
"Mas ngapain."
"Tadi habis dari kamar mandi, terus minum Sayang. Tidur Sayang masih malam."
__ADS_1
Anin memejamkan mata kembali dan mereka terlelap kalau mimpi masing-masing.
Hari sudah siang, setelah sholat subuh tadi Alfa dan Anin mengajak kedua orang tuanya dan juga adiknya untuk menikmati hari Minggu dengan berolahraga bersama.
Mereka saat ini ada di pusat keramaian kota di mana banyak sekali orang yang memanfaatkan hari minggu itu untuk berolahraga.
Anin dan Sang Mama menunggu para laki-laki yang sedang joging mengitari lapangan.
"Sayang, Alfa suka olahraga setiap hari."
"Iya Ma, kadang Anin juga dipaksa untuk ikut."
"Bagus dong, bisa menambah keharmonisan keluarga kamu."
"Iya Ma, tapi kadang malas juga capek."
Mereka bertiga telah kembali dan bergabung bersama Anin dan juga Mama.
"Minum Kak."
Fajar diambilkan minum oleh Anin.
"Makasih Kak."
"Ini Mas minumnya."
Anin memberikan botol air mineral kepada suaminya.
"Makasih Sayang."
Papa Budi juga dilayani oleh Mama Rani.
Mereka masih asyik menikmati hari yang sangat jarang mereka lakukan jika bukan hari libur.
"Alfa..."
seseorang memanggil Alfa yang sedang asyik bersama keluarga istrinya.
Alfa menoleh kearah suara yang memanggil dirinya.
"Maaf siapa ya."
Alfa lupa dengan orang yang memanggil dirinya itu, Anin sendiri jika tidak mengenali wanita.
"Kamu lupa sama aku."
Alfa mengerutkan dahinya mencoba mengingat siapa wanita yang ada didepannya ini.
"Masa lupa sih Alfa."
"Siapa, maaf ya saya benar - benar lupa."
Anin, Mama Rani, Papa dan juga Fajar hanya melihat interaksi Alfa dengan wanita itu.
__ADS_1
😃😃😃😃😃😃