KOPI CINTA

KOPI CINTA
36


__ADS_3

Sambungan telepon terputus dan Anin bingung harus bagaimana. kalau dia tidak berhenti di jalan Alfa pasti akan terus menghubungi dia dan mencari dia dimana.


"Pak berhenti di halte depan saja ya." Kata Anin kepada sopir taksi itu.


" Tapi ini masih jauh Mbak, belum sampai."


"Saya di jemput Pak, saya ke tetap bayar full dan akan saya kasih bintang 5."


"Baik Mbak."


Anin pun turun dari taksi itu dan tak berapa lama ponselnya pun berbunyi kembali.


" Assalamualaikum Mas."


" Waalaikumsalam kamu turun dimana."


"Di halte bunga Mas."


" Tunggu aku di situ."


"Iya Mas."


Sekitar 15 menit kemudian mobil Alfa pun datang, Dia turun dari mobil dan menghampiri Anin.


"Ayo masuk."


Alfa meraih tangan Anin dan menggandengnya membawa dia masuk ke dalam mobil.


Alfa menggunakan mobil pribadinya yang tinggi jadi Anin agak kesusahan untuk naik dengan kondisi kaki seperti itu.


Alfa yang sudah tidak sabar dari tadi langsung membopong tubuh anin dan mendudukkannya di kursi sebelah kemudi.


"Mas, malu."


Alfa seolah tak mendengar Anin berkata seperti itu, padahal mereka menjadi pusat perhatian orang yang ada di halte itu.


Alfa menutup pintu mobilnya kemudian berputar dan masuk ke pintu yang ada di sebelah.


Begitu masuk Alfa melepaskan jasnya dan juga dasinya membuangnya ke jog penumpang belakang kemudian menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.


Anin yang melihat itu hanya diam saja dan membuang mukanya kearah jendela samping.


Alfa melihat ke arah Anin dan kemudian mendekat kepadanya membuat Anin kaget.


"Di pakai sabuk pengamannya."


Alfa menarik sabuk pengaman itu dan memasangkannya ditubuh Anin.


Anin diam saja sejak tadi dan Alfa mulai menjalankan mobilnya.


Mereka berdua saling diam hingga akhirnya Alfa yang sudah merasa gregetan dengan Anin mencecar dengan pertanyaan.


"Kenapa berangkat, Mas kan sudah bilang kamu cuti aja dulu."


"Anin nggak bisa Mas, jatah cuti dari kantor sudah habis dan Anin harus masuk." Kata Anin sambil menatap lurus ke depan.


"Kamu sudah saya ijinkan kepada Bu Rita nggak papa kamu kalau mau nambah cuti."


"Maaf Mas Anin nggak bisa, Anin mau seperti karyawan yang lain."


"Hufft..."


Alfa menghela nafasnya mana mungkin Anin mau diam tidak membantahnya.


"Kenapa tidak ngomong sama Mas ,kalau kamu berangkat kantor hari ini."


"Kalau Anin ngomong sama Mas apa pasti tidak boleh berangkat."


"Anin... " Alfa terpancing juga emosinya.

__ADS_1


"Maaf Mas, Anin hanya ingin normal seperti kebanyakan karyawan lainnya."


"Anin, kamu tahu maksud Mas kenapa melarang kamu berangkat kerja hari ini."


Anin hanya menggelengkan kepalanya saja dia tidak berani menatap Alfa yang dari nada bicaranya saja sudah terlihat dia emosi.


"Aku khawatir sama kamu keadaan Kamu Anin, aku nggak tega melihat jalan kamu yang masih kesusahan seperti itu."


"Maaf Mas."


Anin tidak mau memberikan alasan lagi yang akan membuat Alfa semakin marah.


"Anin.. Tolong nurut sama Mas, jangan selalu membuat Mas masih ini khawatir sama kamu."


Anin hanya hanya menunduk saja mendengarkan setiap perkataan dari Alfa.


"Kamu ikut Mas dulu, nanti mas antar pulang."


"Kemana Mas."


"Mas belum sholat ashar tadi langsung mengejar kamu."


Anin menganggukkan kepalanya saja, Dia tidak mempertanyakan lagi mau dibawa kemana.


Alfa membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang kemarin dikunjungi bersama Anin dan juga Mamanya.


"Ke sini lagi Mas."


"Iya, sebentar jangan turun dulu."


Alfa berputar dan membuka pintu mobilnya yang sebelah dimana Anin duduk.


"Anin bisa sendiri Mas."


Alfa diam saja tak mendengarkan Anin bicara, Dia langsung mengangkat tubuh Anin untuk membantunya turun.


"Mau jalan atau Mas gendong sampai dalam."


Alfa tersenyum menang, dan menurunkan Anin kemudian memapah tubuh Anin untuk masuk ke dalam.


"Hati - hati jalannya."


Anin dalam hatinya bertanya-tanya kenapa belum sholat malah belok ke restoran.


"Mas kok nggak ke masjid."


"Mas mau mandi dulu gerah."


"Selamat sore Pak."


Sapa pegawai restoran itu.


"Sore, tolong bawakan camilan ke ruangan ya minumnya nggak usah biar pacar saya ini nanti yang buatkan."


Anin melongo mendengar Alfa mengenalkannya sebagai pacar.


"Baik Pak."


"Kita ke ruangan Mas aja."


Anin nurut aja dan mengikuti Alfa. Sebuah pintu dibuka oleh Alfa dan kemudian Anin pun disuruh masuk.


"Duduk situ ya, Mas mau mandi. Nanti kalau ada yang antar camilan suruh masuk aja terus Mas minta dibuatin kopi itu ada di sana."


"Iya Mas."


Anin masih bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya kenapa Alfa punya ruangan sendiri di restoran ini seperti rumahnya dia saja.


Alfa langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu dan menyegarkan badannya kemudian melaksanakan sholat Ashar.

__ADS_1


Sedangkan Anin segera membuatkan kopi untuk Alfa dan meletakkannya di atas meja sembari menunggu dia selesai sholat.


Tok..tok..tok..


Pintu ruangan itu diketuk.


"Iya masuk." Ucap Anin.


"Maaf Bu, mengantar camilan yang diminta oleh Pak Alfa."


"Silahkan taruh di meja saja."


"Saya permisi Bu."


Ucap pegawai itu setelah menata beberapa piring camilan di hadapan Anin.


"Hmmm.. Mbak. Nggak jadi deh makasih ya."


Anin tadi ingin mempertanyakan soal restoran ini milik siapa tapi dia urungkan lebih baik bertanya langsung aja sama Alfa.


Anin melihat ada foto yang terpampang di dinding dengan sepasang suami istri bersama kedua anaknya.


"Itu kayak Mas Alfa."


Anin sambil mengamati foto itu.


"Wah.. Baunya hmmm..."


Alfa yang keluar dengan sudah berganti baju santai duduk di sofa sebelah Anin sambil menikmati aroma kopi yang tersaji di hadapannya. Dia langsung menyeruput kopi yang ada di hadapannya.


"Serasa punya istri."


Ucap Alfa sambil melirik ke arah Anin yang masih melihat foto yang terdapat di dinding itu.


"Lihat apa Anin."


"Itu foto Mas Alfa."


Tunjuk Anin.


"Iya, itu sama Mama dan Almarhum Papa ada juga Kak Amel."


"Mas, restoran ini milik keluarga Mas Alfa."


Alfa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Dulu yang merintis itu Mama karena Mama itu pinter banget masak dan didukung sama Papa untuk buka restoran. Kalau sekarang dikelola sama Kak Amel dan Mas juga ikut membantunya tapi bukan masalah dapur cuman bikin promosi saja." Terang Alfa dan Anin menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja waktu kemarin Mas ngajak ke sini sama Mama, ada yang aneh."


"Aneh apanya."


" Iya Mas Alfa kelihatan di hormati sama pegawai di sini."


Alfa tersenyum saja sambil memandang Anin.


"Anin..."


"Iya Mas."


Anin menatap Alfa begitu pula sebaliknya yang terlihat sekali menatap penuh dengan perasaan.


"Tolong buka hati kamu untuk Mas, Mas serius sama kamu dan Mas Sayang sama kamu."


Anin masih menatap Alfa dan mencari kebohongan dari sorot matanya namun tak ada.


"Anin.. Biarkan aku yang ada di hati kamu."


Anin masih terdiam dan mereka berdua saling pandang.

__ADS_1


😆😆😆😆😆😆


Tahan - tahan dulu ya gimana kira-kira jawaban Anin 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2