
Esok hari Alfa sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Kali ini dia tidak menjemput Anin karena ada pekerjaan yang harus segera ia selesaikan dan Anin bisa memahaminya.
Semalam Alfa sudah berusaha untuk menelusuri kembali dokumen yang hilang itu, namun belum membuahkan hasil. ini pasti membuat Alfa berpikir keras dan harus siap menanggung atas kecerobohannya dan ketidaktelitiannya ini.
"Ini jelas ada ganjalan kenapa dokumen yang sudah aku serahkan semua ke Siska hilang di bagian yang penting ini dan yang membuat lebih mencurigakan lagi file kopiannya juga sudah tidak ada."
"huffft... Ya Allah aku pasrah, Engkau yang maha adil dan Engkau yang maha mengetahui semuanya."
Alfa sudah rapi dan turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan Mama dan juga Kakaknya.
"Pagi Ma, Kak."
"Pagi Alfa."
Mama Ani memandang wajah Alfa lekat.
"Kenapa Ma."
"Kamu yang kenapa, wajah kamu kelihatan capek gitu seperti banyak pikiran. Padahal sebentar lagi juga hari bahagia kamu kenapa nggak kelihatan senang gitu sih."
Amel jika memperhatikan Alfa tetapi kalau dia sudah tahu jika Alfa ada masalah di kantornya.
"Capek aja kali Ma." Bela Amel.
"Jangan terlalu sibuk kamu Fa, sebentar lagi hari pernikahan kamu."
"Iya Ma."
Mereka sarapan bersama dan selesai sarapan Alfa terus berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Sepanjang jalan pikiran Alfa masih melayang dan mencari solusi bagaimana bisa menemukan dokumen itu.
Sesampainya di kantor Alfa seperti biasa memberikan kunci mobilnya kepada Pak Agus dan langsung menuju ke ruangannya.
"Pagi Pak."Sapa Rina sekretarisnya.
"Pagi Rina, bagaimana ada kabar tidak mengenai dokumen itu."
"Saya menemukan sesuatu Pak."
"Apa Rina."
"Sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan Bu siska membawa dokumen itu."
"Mana Rina."
Rina memberikan sebuah flashdisk yang dia bawa yang dia didapatkan dari ruang cctv dari tadi.
Alfa di dalam ruangannya memperhatikan rekaman itu.
"Itu Dia, iya itu Rina dokumennya berada di map merah."
Alfa menghentikan video itu sejenak dan memperhatikan apa yang dibawa oleh Siska saat sore itu akan keluar dari kantor dan dia mendorong Anin.
"Berarti dugaan Pak Alfa benar jika dokumen itu diselipkan oleh Bu Siska."
"Oke Rina saya akan tunjukkan video ini ke direksi."
"Baik Pak."
Alfa segera pergi ke ruang meeting untuk membahasnya dengan direksi, Dia sangat berharap masalah ini akan segera selesai.
Anin sendiri hari ini juga membuat surat pengunduran diri, hanya Miss Salsa yang tahu jika acara pernikahannya dengan Alfa sebentar lagi.
"Anin, kamu beneran serius ini mengajukan pengunduran diri."
"Iya Miss, aku sama Mas Alfa sudah buat kesepakatan nanti setelah menikah aku di rumah saja tidak bekerja."
"Aku bakal kangen sama kamu."
Mereka berpelukan.
"Kita masih bisa ketemu kok Miss."
__ADS_1
"Tapi pasti beda nanti kalau ketemu sama kamu. Kamu ke sini sudah pindah status sudah menjadi Nyonya Alfa dan kita pasti tidak bisa sebebas ini mau jalan berdua."
"He he he... Iya nggak Miss nanti kita bisa meluangkan waktu berdua."
"Janji ya jangan sombong kalau sudah jadi nyonya Alfa."
"Iya Miss, Anin nggak akan berubah kok."
Hari itu juga Anin sudah memasukkan pengunduran dirinya ke pihak HRD dengan alasan menikah dan mengikuti suami satu perusahaan pun akhirnya tahu jika mereka berdua akan segera melangsungkan pernikahan.
Hingga siang hari Alfa belum menghubungi Anin, sedangkan Anin sudah ke kantin bersama Miss Salsa untuk makan siang.
"Kenapa Anin."
Miss Salsa melihat Anin sedikit gelisah.
"Mas Alfa sibuk kali ya Miss, belum menghubungiku seharian ini."
Miss Salsa tersenyum ke arah Anin penuh arti.
"Kenapa Miss."
"Udah bucin nih."
Anin tersenyum saja.
Selesai makan Anin dan Salsa ke masjid untuk melaksanakan kewajiban mereka dan balik ke ruangan setelah selesai.
Saat sibuk bekerja ponsel Anin bergetar.
"Mas Alfa."
Anin tersenyum senang akhirnya calon suaminya menghubunginya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Sayang sibuk."
"Iya Mas ini banyak kerjaan."
"Nggak papa Mas, udah sholat, udah makan belum."
"Satu - satu dong tanyanya, he he he... Ini baru selesai meeting mau sholat dulu. Kamu udah makan."
"Udah tadi Mas, Mas belum makan."
"Tadi udah pas break, nanti pulang bareng Mas jemput di ruangan."
"Di depan aja Mas, Anin tunggu di mobil."
"Jangan, Mas nggak mau kamu terluka lagi kayak kemarin. Tunggu di ruangan aja, Mas janji nggak lama oke."
"Iya Mas, sholat dulu Mas, Anin lanjut kerja."
"Iya Sayang, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Anin sudah lega setelah seharian menunggu kabar dari Alfa akhirnya mendengar suaranya juga yang membuat hatinya senang.
"Ciye... pangerannya telepon."
Ledek Miss Salsa.
"Mood booster, Miss." Kata Anin sambil tersenyum
Sore menjelang, pekerjaan Anin juga sudah berkurang tinggal sedikit lagi dia berharap sebelum surat keputusan pengunduran dirinya dikeluarkan oleh perusahaan semua pekerjaannya bisa ia selesaikan.
"Anin..."
"Iya Miss."
Anin yang sedang membereskan mejanya memandang kearah Salsa.
__ADS_1
"Siapa itu."
Salsa memberi kode dengan tatapan matanya dan Anin tersenyum senang. Alfa sudah di depan sedang berbicara dengan Bu Rika.
"Buruan udah dijemput sama pangeran itu."
"Miss Salsa bisa aja."
Anin meraih tasnya dan menata kursinya kemudian berjalan keluar.
"Anin, sudah ditunggu ini."
Kata Bu Rika.
"Iya Bu."
Alfa tersenyum ke arah Anin.
"Sudah selesai kerjaannya." Tanya Alfa.
"Sudah Mas eh.. Pak."
Anin menutup mulutnya meralat bicaranya karena ada Bu Rika di sana.
"He he.. Nggak papa Anin, saya sudah tau semoga diberi kelancaran sampai menjelang hari pernikahan."
"Terima kasih Bu Rika, ayo kita pulang."
Alfa meraih tangan Anin.
"Kami permisi Bu." Pamit Anin.
"Hati - hati Pak Alfa dan Anin."
Alfa dan Anin tersenyum saja meninggalkan Bu Rika yang menatap mereka dengan senyuman juga.
Karyawan yang berpapasan dengan mereka melihat semua, karena Alfa menggandeng tangan begitu erat.
"Alfa..." Teriak Siska yang melihat mereka berdua berjalan keluar dari lobi.
Alfa berhenti dan masih dengan menggenggam tangan Anin.
"Saya belum kalah kalah, awas kalian berdua. Lihat saja nanti.." Teriak Siska dia tanpa malu berkata seperti itu yang dilihat oleh karyawan lainnya.
"Silahkan saja Bu, Saya juga sudah mempunyai banyak bukti jika Bu Siska sudah bertindak kriminal." Kata Alfa dengan mantap.
Anin hanya diam saja melihat mereka berdua, dia belum paham apa yang mereka bicarakan.
"Awas kamu Alfa, apalagi kamu perempuan nggak tau diri."
"Siska, jaga ucapan kamu Papa malu dengan perbuatan kamu."
Papanya Siska yang baru keluar melihat putrinya itu berteriak di depan dan seperti orang stres mempermalukan dirinya sendiri.
"Papa tega sama Siska."
"Sudah kita pulang."
Siska ditarik oleh Papanya untuk masuk kedalam mobil dan pulang.
"Ayo Sayang kita pulang."
Alfa membukakan pintu mobil untuk Anin dan memintanya untuk masuk.
Alfa masuk ke dalam dan kemudian melepaskan jasnya dan menggulung lengannya sampai siku.
Anin memandang Alfa dengan tatapan heran wajah calon suaminya itu nampak senang sekali.
"Kenapa Sayang, mandang Mas kayak gitu. Mas ganteng ya."
Kata Alfa sambil memainkan alisnya.
"PD banget Mas, ada kabar bahagia ya Mas."
__ADS_1
Alfa tersenyum dan menjalankan mobilnya.
☺☺☺☺☺