
Alfa membawa Anin ke kamar setelah mengantar Arsy ke Susternya. Pintu kamar ia buka dan Anin pun masuk ke dalam.
"Sayang."
Setelah pintu tertutup Alfa meraih tangan Anin dan menahannya ke dinding, Anin menjatuhkan jas yang ada di tangannya begitu mendapat serangan dari suaminya.
Anin pasrah saja dia menikmati permainan suaminya yang melahap bibirnya.
"Mas..."
Suara lirih Anin sambil menarik kemeja Ala karena dia sudah merasa kehilangan nafas.
Alfa melepaskannya dan mereka berdua sama - sama mengatur nafas.
"Mas kangen Sayang."
Alfa membawa Anin ke pelukannya dan istrinya itu masih mengatur nafas.
"Maaf Sayang, Mas kangen."
Alfa mengecup kening Anin dengan lembut.
Anin tersenyum dan memeluk tubuh Alfa.
"Udah mau maghrib Mas, mandi dulu."
"Mandi bareng yuk Sayang."
Alfa menangkup wajah Anin dengan kedua tangannya.
"Anin udah mandi Mas, Mas sekarang mandi udah Anin siapin handuknya di dalam."
Alfa tersenyum, "Kamu istri Mas Sayang, bukan pelayan Mas. Kalau semuanya Kamu siapin nanti Mas jadi manja."
"Sudah tugas istri Mas."
"Mas nggak nuntut kamu siapin semua keperluan Mas, yang bisa Mas lakuin sendiri akan Mas lakukan sendiri."
"Anin gak mau suami Anin dilayani sama orang lain." Anin cemberut membuat Alfa gemas di kecup itu yang manyun.
"Posesif ya istri Mas."
"Biarin, Suami itu harus dilayani Mas sama istrinya. Nanti tugas Anin sebagai istri apa."
"Sayang tugas kamu melayani Mas di kasur aja."
"Mesum Mas Alfa.."
Anin melepaskan pelukan dan mengambil jas yang jatuh tadi.
Alfa kemudian memeluknya dari belakang.
"Mas, maghrib itu mandi bau asem gini." Anin pura - pura menutup hidungnya.
"Selamat kamu Sayang."
Alfa mengecup pipi istrinya dan berlalu ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
Anin tersenyum melihat tingkah suaminya kemudian menyiapkan keperluan Alfa untuk sholat.
Setelah sekian menit Alfa keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang.
"Mas ini bajunya, ke masjid nggak."
"Sholat di rumah aja Sayang sama Mama."
__ADS_1
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Walaupun tidak sholat Anin ikut turun ke bawah bersama Alfa. Selesai sholat Mereka masih duduk di mushola mengaji sambil menunggu sholat isya. Sedangkan Anin di dapur mempersiapkan makan malam bersama Bibi.
Makan malam sudah siap Anin memanggil suaminya yang masih berada di kamar karena sudah ditunggu Mama dan juga Kak Amel untuk makan malam bersama.
Belum sampai di kamar Alfa sudah keluar dari kamar dan Mereka turun bersama.
"Kayak raja aja harus di jemput." Ledek Amel.
"Sirik aja."
Alfa duduk di kursinya dan Anin melayani dengan mengambilkan nasi dan lauk pauk serta menghidangkan minuman dihadapannya.
"Silahkan Mas."
"Makasih Sayang, duduk Sayang kita makan."
Anin duduk di sebelah Alfa dan Mereka makan bersama.
Setelah makan mereka bersantai bersama di ruang keluarga menikmati tontonan televisi. Arsy masih asyik mewarnai buku gambarnya.
"Sayang udah malam tidur yuk."
Bujuk Amel ke Arsy.
"Nanti Ma."
Arsy masih asyik menggambar, Anin melihat Amel seperti ingin berbicara serius dengan suaminya.
"Sayang, kita tidur yuk udah malam besok lagi kita gambar." Bujuk Anin.
"Tidur sama Bunda."
"Iya, yuk sama Bunda."
Anin berlalu ke kamar bersama Arsy, Mama Ani, Amel dan Alfa memperhatikan mereka berdua.
"Makasih Anin kamu paham."
Dalam hati Amel.
"Fa..." Amel mulai bicara.
"Iya Kak ada apa."
Alfa memandang Kakaknya itu, Mama Ani juga melihat ke arah Amel.
"Kakak mau bicara soal Arsy."
"Arsy kenapa Kak."
Amel mengambil nafas
"Menurut Kakak, apa tidak sebaiknya Arsy di pertemukan dengan Papanya, karena bagaimanapun Mas Indra itu Papa kandungnya Arsy."
Alfa menatap Amel dengan tatapan tak suka, nampak jelas kalau dia nggak setuju.
"Alfa nggak setuju Kak."
Alfa menggelengkan kepalanya, Dia tidak bisa menerima keinginan Kakaknya itu.
"Mama juga nggak setuju Amel."
"Tapi Ma, Fa. Mas Indra itu Papa kandungnya Arsy, mau bagaimanapun Arsy itu harus tahu siapa Papa kandungnya karena dia juga anak perempuan nantinya kalau menikah juga akan mencari Papa kandungnya."
__ADS_1
"Kakak lupa sudah dicampakkan begitu saja sama laki-laki Brengsek itu, Kakak lupa bagaimana dia pergi meninggalkan Kakak dan Arsy begitu saja saat kalian berdua membutuhkannya."
"Kakak nggak lupa Fa, iya mantap istri itu ada tapi kan nggak ada mantan anak. Arsy punya aku untuk tahu siapa bapaknya sebenarnya."
"Amel, walaupun nantinya Arsy besar dan menikah kita bisa buat wali hakim untuk dia." Kata Mama Ani.
"Ma.. Mama tega bohong sama Arsy. Apa tidak akan menyakitkan untuk Arsy kalau dia tahu dari orang luar daripada dari keluarganya sendiri."
"Kak, mau sampai kapanpun Alfa tidak setuju kalau Arsy dipertemukan dengan Laki - laki itu. Sudah cukup Kak penderitaan kalian berdua dan kalian bisa bahagia tanpa dia."
"Fa.. Kakak akan menjadi Mama yang egois untuk Arsy kalau menyembunyikan rahasia ini."
"Kita nanti bisa kasih tahu kalau Arsy sudah besar dan tidak perlu juga mereka bertemu."
Amel menggelengkan kepalanya dia tidak tahu caranya bagaimana lagi berbicara dengan Adik dan juga Mamanya.
"Alfa, kita jangan egois Arsy juga punya hak untuk ketemu dengan Papanya."
"Kak.. Sekali lagi Alfa tidak akan pernah setuju jika Kakak punya keinginan untuk mempertemukan mereka berdua."
Alfa beranjak dari tempat duduknya dengan tatapan yang sangat marah dengan kakak.
"Fa.. Dengerin Kakak dulu."
Alfa diam saja dia terus berjalan menuju ke lantai dua, dia juga melupakan Anin yang masih ada di kamar Arsy.
"Alfa..." Teriak Amel.
Anin yang mendengar teriakan Amel dia keluar dari kamar Arsy.
"Ada apa Kak, Mas Alfa kemana." Anin terlihat bingung tidak menemukan suaminya.
"Masuk ke kamar Anin temui suami kamu, jangan kamu singgung bicara soal Arsy ya." Pinta Mama Ani.
"Baik Ma."
Anin menyusul suaminya menuju ke kamar, setelah membuka pintu kamar Anin pun tak menemukan Alfa di sana.
"Kemana Mas Alfa."
Anin mengedarkan pandangannya dan tak menemukan sosok suaminya, di kamar mandi juga tak ada suara air.
"Apa di ruang kerja ya."
Anin memberanikan diri mendekati pintu ruang kerja suaminya yang tertutup.
Tok..tok..tok..
Anin mencoba mengetuk pintu ruang kerja Alfa.
"Mas... Mas Alfa ini Anin. Mas ada di dalam."
Tak ada jawaban tapi perasaan Anin mengatakan jika suaminya di dalam karena terkunci dari dalam.
"Mas.. Ini Anin Mas."
"Mas mau sendiri dulu, kamu tidur dulu aja."
Hanya begitu jawaban dari Alfa dan Anin tak berani bicara lagi takut dibentak oleh Alfa dan akan membuat dia nangis.
Anin duduk di sofa dia berniat menunggu suaminya keluar dan tidak akan tidur duluan.
"Mas Alfa pasti marah sama Kak Amel." Gumam Anin sendiri.
Hingga malam semakin larut Anin masih menunggu Alfa untuk keluar dari ruang kerjanya, sambil menunggu dia membuka ponselnya dan mencari sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya.
__ADS_1
😌😌😌😌