KOPI CINTA

KOPI CINTA
56


__ADS_3

Keesokan harinya benar saja Alfa datang ke rumah Anin pagi - pagi untuk menjemputnya.


"Sarapan dulu Mas."


Anin mengajaknya ke meja makan.


"Mari Alfa kita sarapan." Sambut Papa Budi.


"Iya Pa, makasih."


Anin tanpa disuruh sudah mempersiapkan minuman untuk Alfa dan menyajikannya di depannya.


"Makasih."


Ucap Alfa sambil tersenyum manis ke arah Anin.


Anin telaten sekali meladeni Alfa dengan mengambilkan nasi goreng seafood pagi itu menu yang dibuat oleh Mama Rani.


"Silahkan Mas."


Mereka menyantap sarapan bersama, hingga habis Alfa pun pamit kepada kedua orang tua Anin untuk berangkat ke kantor.


"Kita pamit Ma, Pa."


"Iya hati - hati Alfa."


Alfa dan Anin secara bergantian meraih tangan Mama dan Papa dan mencium punggung tangannya.


Alfa membukakan pintu mobil untuk Anin, kemudian mereka segera berangkat ke kantor.


"Sayang."


"Iya Mas."


"Maaf ya nanti siang Mas, nggak bisa ngajak kamu makan siang soalnya ada agenda meeting dengan direksi mungkin sampai jam makan siang."


"Nggak papa Mas, Anin bisa sama Miss Salsa."


"Hati - hati ya kalau keluar tanpa Mas."


"Iya Mas, nggak usah khawatir gitu Mas, Anin sudah biasa kok."


"Entah mengapa sayang perasaan Mas kok takut terjadi apa-apa sama kamu."


Anin tersenyum agar Alfa tenang.


"Anin baik - baik aja."


"Kamu harus selalu hati-hati jika sedang tidak bersama Mas."


"Iya Mas, Anin bisa jaga diri."


Tak terasa mobil Alfa telah sampai di lobby kantor, Anin membuka pintu mobil itu sendiri dan turun dari mobil Alfa.


Kali ini Anin sudah bertekad untuk memberanikan diri tampil bersama dengan Alfa di kantor, mau disembunyikan juga mereka semua sudah tahu pasti kejadian di cafe kemarin sudah menyebar.


"Pagi Pak Agus."


Sapa Anin.


"Pagi Mbak, eh.. maaf Bu Anin."


Anin mengerutkan dahinya biasanya Pak Agus memanggilnya dengan sebutan Mbak kenapa sekarang berganti menjadi Bu.


"Kok jadi Bu, Pak Agus."


"He.. Kan Bu Anin sekarang calonnya Pak Alfa jadi saya harus panggil Bu."


Anin tersenyum saja, Alfa yang berada di belakangnya memberikan kunci mobilnya kepada Pak Agus.

__ADS_1


"Ini Pak Agus."


"Baik Pak."


Pak Agus segera memarkirkan mobil Bosnya itu.


"Sayang, Mas antar sampai ruangannya."


"Nggak usah Mas, Anin sendiri aja."


Anin masuk ke dalam lobi bersama Alfa semua karyawan yang ada di sana pasti memandang mereka. Kemudian Alfa menekan lift untuk karyawan dan mereka minggir semuanya.


"Mas kenapa pakai lift ini."


"Masuk lah, hati - hati ya."


Anin tersenyum ternyata Alfa menekan lift itu untuk dirinya kemudian Anin masuk ke dalamnya dan tersenyum ke Alfa.


Setelah pintu lift tutup Alfa pun beralih menggunakan lift khusus untuk menuju ke ruangannya.


Anin pasti menjadi pusat perhatian banyak yang berbisik di belakangnya padahal mereka tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya.


Anin sampai di ruangannya dan bisa Miss Salsa sudah ada di dalam.


"Ciye... Udah go public ya."


Ledek Miss Salsa.


"Miss Salsa jahat, ternyata kemarin itu rencana Miss Salsa semua sama Mas Alfa." Anin pura - cemberut padahal dalam hatinya juga senang sekarang dia sudah menuju ke tahap yang lebih serius lagi dengan Alfa.


"Tapi kamu senang kan, sekarang makin lengket aja itu."


"He he he... Iya Makasih Miss."


"Kamu tau nggak Nin, Bu Siska kabarnya marah besar sekarang mendengar kedekatan kamu dengan Pak Alfa apalagi nanti kalau mendengar Kalian mau menikah pasti tambah memuncak Dia."


Anin tersenyum,


"Gitu dong, itu baru namanya Anin. Jangan lembek kayak kemarin kalau kamu lemah dia akan semakin meneror kamu."


"Iya Miss, doakan kami dimudahkan semuanya."


"Udah lamaran ya."


Miss Salsa melihat cincin melingkar dijari manis Anin.


"He he he... Ini dari Mas Alfa baru nanti malam Mamanya mau ke rumah."


"Wah.. Selamat Anin."


"Jangan keras-keras Miss, disini tembok itu bisa bicara."


"He he he... kamu tenang aja, yang penting kalian itu harus saling menguatkan dan selalu bersama hempas kan semuanya akan menghalangi kalian."


"Iya Miss."


Mereka kemudian lanjut bekerja menyelesaikan pekerjaan mereka yang sudah mulai berdatangan.


Sedangkan Alfa juga langsung mempersiapkan meeting yang sudah terjadwal.


Brakkk...


Pintu ruangan Alfa tiba-tiba dibuka oleh Siska, yang terlihat marah.


"Bu.. Jangan Bu."


Rina sudah mencegahnya dari depan pintu.


"Maaf Pak, saya sudah mencegahnya tapi Ibu Siska tetap..."

__ADS_1


"Sudah nggak papa Rina."


Alfa berdiri dari kursinya dan menghampiri Siska yang terlihat marah.


"Ada apa Bu Siska."


" Pak Alfa, apa hebatnya perempuan itu di banding saya."


Alfa tersenyum saja.


"Saya jauh lebih cantik dari dia, lebih pintar dan pasti lebih seksi dari dia."


"Itu bedanya Bu Siska dengan Dia, perempuan itu tidak pernah memperlihatkan kelebihannya justru Dia menyimpan rapat kelebihannya hanya memperlihatkan dirinya apa adanya." Kata Alfa santai dan semakin membuat Siska memanas.


"Tapi Saya jauh lebih baik dibandingkan perempuan itu."


"Itu menurut Bu Siska, tapi menurut saya dia jauh lebih baik dari Bu Siska."


Rina yang masih berada di pintu mendengar ucapan Alfa ingin tertawa itu namun dia menahannya.


"Pak Alfa akan menyesal mengatakan itu kepada Saya."


"Silahkan Bu Siska mau berbuat apa saja yang jelas perasaan saya tidak akan pernah berubah pada wanita spesial di hati Saya."


Ucap Alfa mantap dan Siska langsung pergi meninggalkan ruangan Alfa.


"Rina, siapkan dokumen untuk meeting."


"Baik Pak."


Setelah dokumen disiapkan oleh Rina Alfa pun segera menuju ke ruangan meeting.


Meeting berjalan sampai waktu makan siang, Alfa merasakan dirinya disudutkan saat meeting dengan direksi. Dia dituduh ada beberapa dokumen yang hilang berkaitan dengan masalah cabang kemarin.


Alfa tetap tenang, karena dia merasa tidak pernah menghilangkan dokumen itu dan semua sudah diserahkan ke perusahaan.


Dia diberi waktu untuk menjelaskan semuanya ke pihak direksi di meeting selanjutnya. Alfa berupaya bagaimana cara Dia agar bisa memecahkan masalah ini.


Siska terlihat tersenyum licik.


"Rasakan kamu Alfa." Katanya di dalam hati.


"Mau main - main sama Siska, kamu bakalan menyesal Alfa."


Alfa kembali ke ruangannya dia masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu dan segera menggelar sajadah nya untuk melaksanakan salat Dhuhur yang hampir habis waktunya. Selesai sholat tidak lupa berdoa agar diberi jalan keluar.


Setelah menyelesaikan kewajibannya, Alfa membuka ponselnya yang sejak tadi belum dia sentuh.


Senyumnya merekah melihat sebuah pesan yang masuk.


"Mas, udah makan siang."


Itu pesan pukul 12 tadi.


"Jangan lupa makam siang." Pesan dari Anin yabg baru setengah jam yang lalu.


tok..tok...


"Masuk."


"Pak, ada kiriman makan siang dari Mbak Anin."


"Makasih Rina."


"Saya permisi Pak."


Alfa kemudian membuka bingkisan itu dan mencium aroma makanan yang menggugah seleranya.


"Makasih Sayang."

__ADS_1


Alfa menyantap makanan itu dan kemudian memfoto dirinya dan ia kirimkan kepada Anin.


"☺☺☺☺"


__ADS_2