KOPI CINTA

KOPI CINTA
81


__ADS_3

Malam makin larut Anin masih setia menunggu suaminya yang tak kunjung keluar dari ruang kerjanya.


Rasanya ingin mengetuk kembali pintu itu tapi takut suaminya marah namun didalam hatinya juga merasakan takut terjadi sesuatu dengan suaminya di dalam.


Anin yang duduk di sofa dan kadang juga beranjak dari tempat duduknya itu mendekati pintu yang masih tertutup, dia menempelkan telinganya di pintu untuk mendengarkan sesuatu apa yang terjadi di dalam namun tak ada suara apapun.


Hingga Anin yang sejak tadi memutar video di ponselnya sambil mendengarkan ceramah Ustad akhirnya merasakan kantuk juga.


Anin tergelatak tak sadar di atas sofa dengan masih memegang ponsel yang ada di tangannya.


Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, Alfa membuka pintu ruang kerjanya dia mendapati Anin yang tidur di sofa.


Ada rasa kasihan di dalam hatinya telah mengabaikan istrinya yang ternyata setia menunggunya keluar hingga tertidur di sofa.


Alfa mendekati istrinya Dia berjongkok mengambil ponsel yang masih dipegang oleh Anin.


Dia tersenyum ternyata istrinya mendengarkan tausiyah di ponselnya.


Alfa meletakkan ponsel Anin di meja, dia memandang wajah istrinya yang terlihat teduh di dalam tidurnya.


"Maafin Mas Sayang."


Alfa menyingkirkan anakan rambut yang menutupi wajah Anin.


"Mas mengabaikan kamu."


Alfa mengusap kepala Anin dan mencium keningnya.


Anin merasakan ada yang mengusap kepalanya dia pun membuka kedua matanya, senyum terukir di bibirnya begitu melihat suaminya yang berjongkok di depannya dan mengusap kepalanya.


"Mas..." ucapnya lirih dan tersenyum.


"Iya Sayang."


Alfa mengecup keningnya.


"Bangun Sayang."


Alfa membantu Anin untuk bangun kemudian dia duduk di sebelahnya.


"Maafin Mas ya Sayang."


Alfa membawa Anin ke dalam pelukannya sambil mengusap kepalanya dan mengecup pucuk sampai kepalanya.


Anin melingkarkan tangannya di perut Alfa dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


"Kenapa Mas minta maaf sama Anin."


"Mas mengabaikan kamu Sayang sampai tertidur di sofa, kenapa tadi tidak langsung tidur aja di kasur."


"Anin khawatir sama Mas Alfa."

__ADS_1


Katanya sambil menengadahkan wajahnya menatap wajah Alfa.


Alfa mengecup bibirnya.


"Makasih Sayang, Mas hanya ingin berpikir dulu, ingin menyendiri sebentar."


Anin tersenyum senang, dia merasa lega suaminya baik-baik saja dan tidak melakukan sesuatu hal yang aneh di dalam sana.


"Iya Mas, Anin paham."


"Kita tidur yuk Sayang." ajak Alfa.


"Iya Mas, Mas pasti capek seharian kerja."


Alfa melepaskan pelukan Anin dan mengangkat tubuh istrinya itu.


"Mas, Anin bisa jalan sendiri."


"Mas nggak suka dibantah, apalagi ditolak." Anin hanya diam saja, Dia melingkarkan tangannya di leher Alfa.


Alfa merebahkan tubuh Anin di atas tempat tidur milik mereka dan kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya itu.


"Tidur Sayang, Mas ke kamar mandi dulu ya."


Alfa mengusap kepala Anin kemudian mengecup keningnya. Dia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Anin memandangi tubuh suaminya itu yang menghilang masuk ke dalam kamar mandi. Dia masih terjaga untuk menunggu Alfa yang berlanjut ke ruang ganti untuk mengganti baju tidur.


"Sini Sayang."


Alfa merentangkan tangan dan meminta Anin untuk menjadikannya bantal.


Anin kamar tidur Alfa dan merasakan sentuhan kasih sayang dari suaminya itu.


"Tidur Mas."


Alfa masih mencium kening Anin dan memeluknya.


"Sayang." Kata Alfa dan Anin pun menatap wajah suaminya itu.


"Iya Mas."


"Apa Mas ini terlalu egois sayang."


Anin mengerutkan dahinya mendengar Alfa berkata begitu.


"Egois kenapa Mas."


"Apa yang dikatakan sama Kak Amel memang ada benarnya juga mau sejahat apapun Indra itu tetap Papanya Arsy."


"Mas nggak egois, karena setiap orang itu punya pendapat sendiri - sendiri, tak bisa kita memaksa orang lain itu untuk menerima pendapat kita. Tetapi semua akan ada jalan keluarnya jika dibicarakan dengan baik-baik."

__ADS_1


Terdengar helaan nafas Alfa.


"Mas masih harus berpikir dulu sayang untuk mengiyakan keinginan Kak Amel."


"Sayang, kita tidur yuk. Kita bahas besok lagi ya."


Anin mengecup pipi Alfa dan itu malah membuatnya menatap Anin.


"Sekarang berani ya."


Alfa menggosokkan hidungnya ke hidung Anin.


"Tidur Mas udah malam."


"Sayang.."


"Hmmm..." Anin menatap suaminya itu seperti menginginkan sesuatu.


"Sudah suci belum."


"He he he..." Anin meringis.


"Kan tadi belum sholat berarti belum kan Mas."


"Beneran." Alfa menatapnya penuh telisik.


"Dosa Mas kalau Anin bohong."


"Biasanya berapa hari."


"Paling cepet 5 hari Mas."


Alfa nampak menghitung dengan jarinya mengingat pertama kali Anin kedatangan tamunya.


"Berati besok udah bersih."


Anin pun tersenyum sambil memeluk tubuh Alfa.


"Tidur udah malam Mas."


"Awas jangan bohong ya Sayang, kalau sampai ketahuan bohong sama Mas siap-siap mendapatkan hukuman."


"Iya, ampun Mas. Tidur ah Anin ngantuk."


Anin membalikkan tubuhnya dan membelakangi Alfa.


"Enak juga tidur gini Sayang."


Alfa memeluk Anin dari belakang dan Mereka berdua terlelap ke malam mimpi masing-masing.


😉😉😉😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2