
Anin mengantar suaminya ke depan, dan lagi - lagi dia merasakan kepalanya bergoyang tapi dia bisa menyembunyikannya dari Alfa.
"Sayang Mas berangkat ya."
Alfa mengecup kening Anin dengan lembut dan Anin pun meraih tangan Alfa dan mencium punggung tangannya.
"Hati - hati ya Mas, kabari kalau sudah sampai."
"Iya Sayang, kamu istirahat ya kelihatan agak pucat kamu."
"Iya Mas."
"Assalamualaikum Sayang."
" Waalaikumsalam Mas."
Alfa masuk kedalam mobilnya dan kemudian melajukan kuda besinya itu menuju ke kantor.
Anin kemudian masuk ke dalam rumah dan bergabung bersama Mama dan juga Kakaknya di ruang keluarga.
"Anin..."
"Iya Ma."
Anin duduk disebelah Mama mertuanya.
"Bener Alfa mau mengajak kamu untuk bulan madu."
"Iya Ma, tadi pagi sudah bilang ke Anin kita mau ke Lombok."
"Mama seneng, kamu yang sabar ya sama suami kamu."
Anin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Mereka menikmati pagi menjelang siang hari itu dengan menemani Arsy bermain, diusianya Arsy yang tiga tahun lagi beberapa bulan ini belum sekolah saudaranya Nanti kalau sudah 4 tahun akan dimasukkan ke pendidikan anak usia dini tapi selamat di rumah dia pun sudah diajari oleh Amel.
"Mama ke kamar dulu ya Anin."
"Iya Ma."
Anin kemudian juga beranjak dari ruang keluarga itu menuju ke dapur.
"Non, mau ngapain." Tanya Bibi.
"Mau bikin brownis Bi, kayaknya enak disantap nanti sore daripada beli juga di luar lebih bagus juga bisa dibuat sendiri."
"Iya Non, Bibi bantuin ya."
"Boleh Bi."
Anin dibantu oleh Bibi mempersiapkan bahan-bahan yang mereka butuhkan. Dia mulai membuat menangkar bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat adonan, tapi laki-laki Anin merasakan kepalanya terasa pusing.
Anin sedang mengaduk adonan yang menggunakan mixer kemudian ia matikan dan terdiam sambil memejamkan matanya.
"Non, kenapa Non."
Bibi mendekati Anin.
"Nggak papa Bi, kepalanya terasa agak pusing aja."
"Duduk dulu Non."
Anin mengangguk kemudian Duduk dulu di kursi dan Bibi mengambilkannya minum.
"Makasih ya Bi "
__ADS_1
Setelah minum satu gelas air yang diberikan oleh Bibi Dia merasakan badannya lebih enakan.
"Non mau kemana."
"Sudah enakan mau melanjutkan buat adonannya."
Anin berdiri dia ingin mengaduk kembali adonan yang telah dibuat tadi. baru saja ia menyalakan mesinnya kembali kepalanya terasa berputar lagi bahkan terasa perutnya juga mau muntah.
"Non nggak papa."
Bibi melihat Anin menutup mulutnya.
Anin masih terdiam, untuk menyeimbangkan badannya dulu.
"Saya ke kamar ya Bi, tolong diteruskan buat brownies nya."
"Iya Non, Bibi antar ke kamar ya."
"Nggak usah Bi, Anin bisa."
Bibi saya memandangi tubuh Anin yang berjalan menuju ke kamarnya.
Ani membuka pintu kamarnya dan masih terduduk di sofa dan Dia merebahkan tubuhnya di sana.
"Aku kenapa Ya Allah, hoek..."
Anin berjalan ke kamar mandi perutnya terasa mau muntah.
Sedangkan di dapur Bibi meneruskan pekerjaan Anin dan Mama Ani yang baru keluar dari kamar menghampirinya.
"Buat apa Bi."
"Buat brownis Nyonya, ini tadi Non Anin yang buat Nyonya, tapi tiba-tiba kepalanya katanya pusing."
"Sekarang Anin mana."
Mama Ani merasa khawatir dan langsung menghampiri Anin ke kamarnya.
tok ..tok..tok...
Mama Ani mengetuk pintu kamar Anin .
"Anin, ini Mama sayang kamu nggak papa kan."
Belum ada jawaban dari Anin hingga Nama pun mengetuk pintu kembali dan memanggilnya.
"Anin.. Sayang ini Mama."
Dan tak kama pintu kamar pun terbuka.
"Kamu kenapa Sayang, muka kamu pucat."
Anin habis keluar dari kamar mandi rasanya mau muntah tapi juga tak bisa keluar membuat perutnya terasa seperti dikocok - kocok.
"Nggak papa Ma, kepala Anin terasa pusing aja dan rasanya mau muntah."
Anin masuk ke dalam diikuti oleh Mama Ani, tapi belum sampai dia duduk di sofa kepalanya terasa berputar lagi untung dia bisa berpegangan pada pinggiran sofa dan menjatuhkan dirinya ke sofa.
"Anin.."
Mama langsung membantunya dan membenarkan duduknya.
"Kita periksa yuk Sayang, kita ke rumah sakit."
"Ma.. Anin butuh istirahat aja."
__ADS_1
"Kamu sakit Anin, Mama akan panggil Dokter ke sini."
Mama Ani menekan nomor yang ada di ponselnya dan menghubungi dokter yang biasanya menangani keluarga mereka.
"Hoek..."
Anin merasakan mual lagi dan hendak berdiri untuk menuju ke kamar mandi namun karena kepalanya terasa berputar-putar dia malah jatuh ke lantai.
"Anin..."
Mama Ani membantunya bangun namun karena badan Anin terasa lemas Mama Ani pun tak kuat membangunkannya sendiri.
"Bi.. Bibi.."
Mama Ani berteriak dari lantai 2 untuk memanggil Bibi.
Bibi yang mendengar teriakan Nyonya besarnya dia langsung berlari untuk menuju ke kamar Anin.
"Kenapa Nyonya."
"Bantu Saya Bi."
Anin masih sadar tapi badannya terasa lemas dia dipapah oleh Bibi yang di bantu Mama Ani menuju ke tempat tidur.
Amel yang juga mendengar teriakan Mamanya merasa khawatir ada apa dengan adik iparnya itu tapi dia juga tidak bisa naik ke lantai dua menggunakan kursi roda jadi dianya menunggu di bawah.
"Bi ambilkan air hangat dan minyak kayu putih."
"Baik Nyonya."
Bibi langsung turun dan dia mencari minyak kayu putih dan juga air hangat.
Amel melihat Bibi turun dari lantai dua dan segera mendekatinya.
"Anin kenapa Bi."
"Non Anin lemes badannya Non, Kepalanya pusing dan rasanya mau muntah katanya."
"Apa Anin hamil."
Gumam Amel sendiri, sedangkan Bibi sudah menemukan apa yang ia cari dan langsung naik ke lantai dua lagi.
"Anin, jilbabnya dilepas dulu ya sayang."
Mama Ani membantu untuk membuka jilbabnya, Anin merasakan semuanya terasa berputar-putar.
"Ma.."
"Iya Anin, minum dulu ya jangan banyak bicara."
Mama membantunya minum kemudian mengoleskan minyak kayu putih.
"Mama akan telepon Alfa."
Anin mendengar itu meraih memegang tangan Mama Ani.
"Jangan Ma, Mas Alfa lagi sibuk."
"Suami kamu harus tahu kalau nggak nanti dia akan menyalahkan Mama."
Mama Ani menghubungi Alfa, dan pas saat Dia akan makan siang langsung menuju ke rumah begitu mendapat kabar dari sang Mama jika istrinya sakit.
Dokter yang Mama Ani panggil tadi pun sudah datang dia memeriksa keadaan Anin.
☺☺☺☺☺
__ADS_1
Jempol - jempol mana